Previous
Next
Membesarkan-si-kecil-yang-interdependen-Wah-apa-itu-ya-1200x800

Membesarkan si kecil yang interdependen. Wah, apa itu ya?

Banyak sekali psikolog dan terapis belakangan ini yang bercerita bahwa jumlah kasus orang yang bermasalah dengan keintiman atau kedekatan. Hal ini kemudian bikin para ahli tersebut mulai meninjau ulang masalah parenting dan bagaimana seseorang dibesarkan.

Jadi, hasilnya adalah, anak-anak yang mampu membangun koneksi yang baik dengan orang tuanya mendapatkan segala kebutuhan jiwa-nya ketika masa kanak-kanak berlangsung. Mereka pun tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu membangun koneksi dengan orang lain, dan menjadi teman serta pasangan yang lebih baik.

Mengapa? Sebab anak-anak dengan koneksi dan attachment, lebih memilih untuk membangun hubungan dengan orang lain ketimbang barang (mainan, misalnya). Keahlian ini dibawanya sampai dewasa.

Jadi tidak mandiri?

Anak yang terkoneksi dengan orang tua nya ini jangan-jangan jadi terlalu ‘nempel’ dan enggak bisa lepas dari orang tuanya, atau ketergantungan pada kehadiran orang lain, ya? Jadinya enggak mandiri dong?

Banyak pendapat kayak begini, memang. Tapi tunggu deh, sebetulnya yang paling kita pengenin dari anak tu apa sih? Benarkah, kepengen anak jadi sangat mandiri, sehingga mampu melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain sama sekali? Independen? Itu-kah yang kita ingin kan dari anak?

Sebab, ternyata ada tiga jenis yang membedakan kemandirian ini, lho..

Independen, dependen, atau INTERDEPENDEN

Seperti tertera di buku The Attachment Parenting Book- nya Dr Sears. Disitu ada poin yang menjelaskan perbedaan tiga istilah ini. Jadi, membesarkan seorang anak dengan koneksi yang kuat, artinya memberikan tujuan agar ia tumbuh menjadi manusia yang interdependen.

Apa sih itu? singkatnya begini;

  1. Orang yang dependen: “YOU do it for me” – ia berharap ada orang yang terus melakukan segalanya untuk dia, ia bergantung terus pada keberadaan orang lain. Buah dari pengasuhan yang permisif dan memanjakan.
  2. Orang yang independen: “I do it MYSELF” – ia merasa bahwa dirinya dapat melakukan segala hal sendirian, enggak perlu orang lain dan cenderung memikirkan kepentingannya sendiri diatas segalanya. Individualis. Buah dari disiplin keras. (I’m talking to myself hahahaha…)
  3. Orang yang interdependen: “WE do it” – ia menjadi orang yang bijak karena mampu mendengarkan orang lain, mampu berkolaborasi, dan get the most out of their relationships while asking the most of themselves as well. Ia bisa melakukan banyak hal sendiri, dan atau Bersama orang lain.

Iya, jadi, orang yang independen akan menjadi leader namun terikat pada dirinya terlalu banyak sehingga melewatkan banyak kesempatan untuk lebih berkembang, karena tidak mau berurusan dengan orang lain.

Orang yang dependen akan menjadi follower, karena terlalu sibuk mengikuti orang lain sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apa maunya.

Sementara orang yang interdependen mampu menjadi leader dan follower tergantung situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Mengapa interdependen?

Mengasuh dan mendidik anak untuk menjadi interdependen, justru menjadikan anak siap menghadapi kehidupan. Sebab, sebagai manusia, baik pekerjaan maupun Pendidikan di masa depan, semuanya terkait dengan hubungan dengan manusia lain, bukan?

Semua pasti tahu dong buku Seven Habits od Highly Effective People-nya Stephen Covey? Disitu juga ada lho, bahwa interdependen adalah karakteristik orang-orang paling sukses. Dan bahkan bisa ditanamkan sejak kecil, lho. “Aku bisa melakukannya sendirian, tapi hasilnya akan lebih baik dengan bantuan orang lain.”

Iya, kolaborasi.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print