Previous
Next
Mencegah-Obesitas-dengan-bermain-1200x800

Mencegah Obesitas dengan bermain!

Anak gemuk memang terlihat lucu, namun obesitas tak membuat pipi bakpau itu terlihat lucu. Sebab ada begitu banyak penyakit yang berawal dari obesitas. Padahal tidak terlalu sulit untuk mencegah anak dari obesitas. Salah satu cara paling menyenangkan dan efektif yang bisa dilakukan orang tua adalah; BERMAIN! Lho kok bisa?

Data terbaru obesitas

Ngomong data terbaru dulu ya ayah dan bunda, tahukah? Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada 2013, persentase obesitas anak di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN, lho! Hampir 12 persen anak Indonesia mengalami obesitas.

Jika dirinci lagi, dari 17 juta anak yang mengalami obesitas di ASEAN, hampir 7 jutanya berasal dari Indonesia. Angka ini hanya mencakup balita. Jika ditambah lagi dengan kisaran anak-anak berumur 5-10 tahun, angkanya mungkin semakin bertambah.

Enggak Cuma data dari WHO, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, ada sebanyak 18,8% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan, dan 10,8% menderita obesitas. Riskesdas 2013 juga menyatakan hal ini erat kaitannya dengan kejadian obesitas pada orang tua.

Nah, Data Riset Kesehatan Nasional (Riskesnas) tahun 2016 menunjukkan penduduk dewasa berusia diatas 18 tahun yang mengalami kegemukan atau obesitas sebesar 20,7 persen. Angka itu menunjukkan peningkatan pesat dari tahun 2013 ketika penduduk yang kegemukan mencapai 15,4 persen. Ckckck…seram juga ya.

Pengaruh lingkungan ambil peran penting

Kita semua pasti sudah memahami, bahwa dibalik ke-chubby-an seorang anak yang mengalami obesitas, ada begitu banyak penyakit yang mengintai, bukan? Kalau kata Dr Arifianto SpA, dokter anak yang rutin mengunjungi Taman Main, penyakit yang mungkin dialami adalah saluran napas, asma, ganggguan tidur dan gangguan ortopedi. Belum lagi resiko diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner dan sebagainya.

Kenapa sih kok meningkat terus jumlahnya? Ternyata menurut Dr Apin, dalam kasus obesitas anak, justru pengaruh terbesar berasal dari lingkungan. Sebab, meski genetis memegang peranan juga, tetapi kalau faktor lingkungan tidak mencetus, harusnya tidak sampai kelebihan berat badan.

Nah, yang dimaksud  dengan faktor lingkungan adalah makanan yang pola hidup. Baik pola makan, menjalani aktivitas sehari-hari hingga menjamurnya berbagai macam makanan olahan yang praktis namun sebetulnya amat berbahaya.

Pentingnya bergerak dan bermain

Selain itu, kata Dr Apin, obesitas pun timbul karena asupan energi dari makanan dan minuman melebihi energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas. Dalam hal ini, berlaku hukum termodinamika. “Kalori yang masuk harus sama dengan kalori yang keluar. Obesitas itu akibat dari ketidakseimbangan energi,” kata dr. Arifianto.

Artinya? Iya, kids jaman now males gerak. Apalagi kalau sudah ‘nyantol’ sama layar. Duh, udah deh, bisa selonjoran terus, ditambah camilan yang sarat gula garam. Lengkap sudah.

“Anak jadi malas bergerak karena keasyikan nonton. Apalagi, kebanyakan iklan di teve isinya menyuruh anak-anak jajan yang tak sehat,” kata dr. Arifianto. Padahal idealnya, menonton televisi cukup 2 jam saja sehari.

Solusi; berkeringat Bersama!

Emang sih, agak sulit mencari lahan untuk anak bermain seperti zaman dulu. Ruang gerak anak kerapkali terbatas. Namun sebetulnya bisa saja kok. Ajak anak berpetualang, dengan membuat peta harta karun keliling kampung belakang komplek, misalnya. Atau sesederhana mengajak anak latihan bela diri, klub  roller skate, klub sepak bola dan berbagai olah raga lainnya.

Karena itu, lebih seru kalau dilakukan Bersama ayah dan bunda nya, bukan? Apalagi mengingat zaman sekarang melepas anak kecil main sepeda jauh-jauh sendirian itu kan deg-degan ya, takut diculik. Selain mencegah obesitas dengan kucuran keringat sehat, bonding orang tua dan anak pun terbentuk baik, sekaligus ayah dan bunda juga bisa melepas stress pasca Lelah bekerja kan?

Bermain dan menjaga hubungan baik dengan anak

Oh iya, kalau kata Dr Apin, kebiasaan lain yang membuat penurunan aktivitas anak adalah kenyamanan sarana transportasi. Coba diingat, berapa jam dalam sehari anak Anda berjalan kaki? “Orang tua cenderung mengantar anak sekolah dengan mobil, turun langsung di depan gerbang sekolah. Padahal, ada baiknya membiarkan anak jalan kaki setidaknya 15 menit dari jarak mobil ke sekolah,” katanya.

Nah, boleh nih dicoba sesekali antar anak ke sekolah sambil bersepeda atau sekalian lari pagi Bersama. Kebutuhan anak akan bermain terpenuhi, keinginan anak membangun kedekatan dengan orang tua juga tercapai, sekaligus membentuk kebiasaan sehat keluarga mencegah obesitas. Jadi, bermain yuk!

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print