Previous
Next
Mengajarkan-Anak-Tentang-Perbedaan

Mengajarkan Anak tentang Perbedaan

Seorang anak usia 3 tahun mengikuti perayaan kebudayaan di sekolahnya dimana ia harus mengenakan baju India. Ketika itu, ia belum menanyakan apa pun, ia bahkan tidak tahu budaya apa yang sedang ia rayakan. Satu hal yang ia pahami bahwa saat itu di sekolahnya, ada hiasan-hiasan lucu yang lebih dari hari biasanya dan ia memakai baju yang berbeda dari biasanya.

Melihat gambaran di atas kita pahami bahwa pada anak usia awal, sekitar 2-7 tahun, perbedaan kebudayaan dilihat oleh anak dari suatu hal yang konkrit seperti perbedaan warna kulit, perbedaan baju adat, serta perbedaan-perbedaan lain yang tampak jelas di depan mata. Namun begitu, ia sudah memahami bahwa hal tersebut berbeda. Bagaimanakah kita ingin anak kita menyikapi suatu perbedaan? Baik itu perbedaan budaya, agama, ABK dan typical, dan perbedaan-perbedaan lain, yang pastinya akan sering kita jumpai di setiap aspek kehidupan kita, terutama perbedaan pendapat?.

Kita harus menanyakan hal ini benar-benar pada benar kita sebagai orang tua. Bagaimana kita ingin anak kita menyikapi suatu perbedaan,apa pun itu? Setelah kita menanyakan hal ini kepada diri kita, pertanyaan kedua yang penting juga ditanyakan kepada diri kita adalah, bagaimana kita menyikapi perbedaan, apa pun itu, perbedaan agama, atau pun hanya
sekedar perbedaan pendapat dengan pasangan kita atau guru anak kita?.

Apakah jawaban dari kedua pertanyaan tersebut menghasilkan jawaban yang sama atau berbeda? Jika berbeda, maka akan sulitlah bagi anak kita untuk bisa mengambil sikap akan perbedaan itu dan akan terjadi kebingungan dalam dirinya dalam menyikapi perbedaan. Jika jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah sama, berarti kita sudah memiliki sikap
dalam menghadapi sebuah perbedaan dan anak kita juga tidak akan bingung menentukan respon perilakunya terhadap suatu perbedaan.

Mengapa penting untuk menanyakan dulu kepada diri kita sebagai orangtua? Karena kita perlu merefleksikan terlebih dahulu apakah kita sendiri nyaman dengan perbedaan. Semasa kita dibesarkan dulu, apakah perbedaan itu dianggap hal yang tabu? terutama perbedaan pendapat. Apakah kita dibesarkan dengan orangtua yang juga amat mengangungkan
kebudayaannya sendiri dan memandang rendah kebudayaan orang lain, yang seringkali disebut dengan chauvinisme pada pelajaran Pkn. Merefleksikan hal-hal ini amat penting bagi kita sebagai langkah awal mengajarkan anak kita tentang perbedaan. Sehingga kita paham, mana saja aspek-aspek perbedaan yang boleh ditolerir oleh anakku dan mana aspek
perbedaan yang merupakan prinsip penting keluargaku, sehingga perbedaan pada aspek tersebut amatlah tidak bisa diganggu gugat. Kita memikirkan perbedaan apa yang diterima, kemudian perbedaan mana yang tidak kita terima. Kemudian pada perbedaan yang kita terima itu, sampai mana kita terima. Sebagai contoh, kita menerima bahwa Indonesia
memang memiliki beberapa perbedaan agama. Kita menerima perbedaan tersebut sebagai orangtua, namun sejauh mana kita izinkan anak kita menerima perbedaan ini. Contoh, ia boleh berteman dengan seseorang dari agama mana saja, tapi tidak mengikuti perayaan- perayaannya. Setiap keluarga akan memiliki nilai toleransi yang berbeda-beda.

Memahamkan nilai toleransi pada anak bisa dilakukan dengan beberapa cara. Ketika menanamkan suatu nilai, ingatlah bahwa hal tersebut tidak terjadi dalam satu malam. Namun tertanam dalam diri anak melalui interkasi keseharian kita dengan mereka. Terdapat beberapa cara yang saya ambil dari buku Living Values Actiivity for Children karangan Diane
Tillman dan Diane Hsu yang bisa digunakan untuk menanamkan nilai toleransi pada anak. Kegiatan ini ditujukan untuk anak usia 4-7 tahun dan dilakukan secara berkelompok.

  1. Melakukan pembicaraan tentang keunikan individu. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta anak bercerita tentang siapa nama ibu mereka, apa film kartun kesukaan dan buku kesukaan mereka. Buat anak tertarik dengan perbedaan tersebut bisa dengan komentar “Wah beda-beda ya kita semua, seru!!Ada yang…ada yang..Ada cerita menarik apa lagi ya…”,
  2. Minta anak untuk membawa gambar kecil mainan atau makanan kesukaannya dari rumah. Gambarnya saja. Kemudian gambar sebuah pohon besar di kertas besar kemudian minta anak menempel gambar kecil tersebut di pohon yang telah dibuat. Jelaskan keunikan masing-masing anak. Katakan bahwa pohon tersebut menjadi indah karena banyak perbedaan “harta karun” yang ada pada gambarnya.
  3. Ceritakan buku yang menggambarkan tentang anak-anak dari negara lain atau kota lain.
  4. Menyanyikan lagu pelangi. Berikan penjelasan tentang pelangi dan manusia. Manusia sama seperti pelangi karena memiliki banyak suku dan kebudayaan. Kita semua memiliki mata, hidung, mulut, tangan dan kaki. Tetapi kita memiliki warna kulit dan bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang kulitnya putih dan sawo matang. Tiap suku itu unik, sama seperti tiap warna di pelangi. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan meminta anak menggambar pelangi dan jadikan pelangi dekorasi ruangan.

Itulah permainan sederhana yang bisa kita lakukan untuk memahamkan anak tentang perbedaan dan makna tolerasi. Pada usia awal ini, paling penting untuk mereka memahami bahwa perbedaan itu ada kemudian orangtualah yang akan menjadi model utama bagaimana anak akan bersikap terhadap perbedaan tersebut. Anak akan menjadi observasi
ulung tentang bagaimana orangtua berespon pada perbedaan, termasuk ketika orangtua menonton TV. Perhatikan komentar-komnetar kita saat dengan menonton berita di TV atau ketika ada yang menyampaikan pendapat di TV dan pendapat tokoh tersebut berbeda dengan pendapat orangtua. Apakah kita akan banyak mengutuk atau justru menjelaskan
dengan baik mengapa pendapat kita berbeda. Anak akan banyak belajar dari observasinya dari pengalaman ini.

 Seorang anak usia 3 tahun mengikuti perayaan kebudayaan di sekolahnya dimana ia harus mengenakan baju India. Ketika itu, ia belum menanyakan apa pun, ia bahkan tidak tahu budaya apa yang sedang ia rayakan. Satu hal yang ia pahami bahwa saat itu di sekolahnya, ada hiasan-hiasan lucu yang lebih dari hari biasanya dan ia memakai baju yang berbeda dari biasanya.

Melihat gambaran di atas kita pahami bahwa pada anak usia awal, sekitar 2-7 tahun, perbedaan kebudayaan dilihat oleh anak dari suatu hal yang konkrit seperti perbedaan warna kulit, perbedaan baju adat, serta perbedaan-perbedaan lain yang tampak jelas di depan mata. Namun begitu, ia sudah memahami bahwa hal tersebut berbeda. Bagaimanakah kita ingin anak kita menyikapi suatu perbedaan? Baik itu perbedaan budaya,
agama, ABK dan typical, dan perbedaan-perbedaan lain, yang pastinya akan sering kita jumpai di setiap aspek kehidupan kita, terutama perbedaan pendapat?.

Kita harus menanyakan hal ini benar-benar pada benar kita sebagai orang tua. Bagaimana kita ingin anak kita menyikapi suatu perbedaan,apa pun itu? Setelah kita menanyakan hal ini kepada diri kita, pertanyaan kedua yang penting juga ditanyakan kepada diri kita adalah, bagaimana kita menyikapi perbedaan, apa pun itu, perbedaan agama, atau pun hanya sekedar perbedaan pendapat dengan pasangan kita atau guru anak kita?.

Apakah jawaban dari kedua pertanyaan tersebut menghasilkan jawaban yang sama atau berbeda? Jika berbeda, maka akan sulitlah bagi anak kita untuk bisa mengambil sikap akan perbedaan itu dan akan terjadi kebingungan dalam dirinya dalam menyikapi perbedaan. Jika
jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah sama, berarti kita sudah memiliki sikap dalam menghadapi sebuah perbedaan dan anak kita juga tidak akan bingung menentukan respon perilakunya terhadap suatu perbedaan.

Mengapa penting untuk menanyakan dulu kepada diri kita sebagai orangtua? Karena kita perlu merefleksikan terlebih dahulu apakah kita sendiri nyaman dengan perbedaan. Semasa kita dibesarkan dulu, apakah perbedaan itu dianggap hal yang tabu? terutama perbedaan pendapat. Apakah kita dibesarkan dengan orangtua yang juga amat mengangungkan
kebudayaannya sendiri dan memandang rendah kebudayaan orang lain, yang seringkali disebut dengan chauvinisme pada pelajaran Pkn. Merefleksikan hal-hal ini amat penting bagi kita sebagai langkah awal mengajarkan anak kita tentang perbedaan. Sehingga kita paham, mana saja aspek-aspek perbedaan yang boleh ditolerir oleh anakku dan mana aspek
perbedaan yang merupakan prinsip penting keluargaku, sehingga  perbedaan pada aspek
tersebut amatlah tidak bisa diganggu gugat. Kita memikirkan perbedaan apa yang diterima, kemudian perbedaan mana yang tidak kita terima. Kemudian pada perbedaan yang kita terima itu, sampai mana kita terima. Sebagai contoh, kita menerima bahwa Indonesia memang memiliki beberapa perbedaan agama. Kita menerima perbedaan tersebut sebagai
orangtua, namun sejauh mana kita izinkan anak kita menerima perbedaan ini. Contoh, ia boleh berteman dengan seseorang dari agama mana saja, tapi tidak mengikuti perayaan- perayaannya. Setiap keluarga akan memiliki nilai toleransi yang berbeda-beda.

Memahamkan nilai toleransi pada anak bisa dilakukan dengan beberapa cara. Ketika menanamkan suatu nilai, ingatlah bahwa hal tersebut tidak terjadi dalam satu malam. Namun tertanam dalam diri anak melalui interkasi keseharian kita dengan mereka. Terdapat beberapa cara yang saya ambil dari buku Living Values Actiivity for Children karangan Diane
Tillman dan Diane Hsu yang bisa digunakan untuk menanamkan nilai toleransi pada anak. Kegiatan ini ditujukan untuk anak usia 4-7 tahun dan dilakukan secara berkelompok.

  1. Melakukan pembicaraan tentang keunikan individu. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta anak bercerita tentang siapa nama ibu mereka, apa film kartun kesukaan dan buku kesukaan mereka. Buat anak tertarik dengan perbedaan tersebut bisa dengan komentar “Wah beda-beda ya kita semua, seru!!Ada yang…ada yang..Ada cerita menarik apa lagi ya…”,
  2. Minta anak untuk membawa gambar kecil mainan atau makanan kesukaannya dari rumah. Gambarnya saja. Kemudian gambar sebuah pohon besar di kertas besar kemudian minta anak menempel gambar kecil tersebut di pohon yang telah dibuat. Jelaskan keunikan masing-masing anak. Katakan bahwa pohon tersebut menjadi indah karena banyak perbedaan “harta karun” yang ada pada gambarnya.
  3. Ceritakan buku yang menggambarkan tentang anak-anak dari negara lain atau kota lain.
  4. Menyanyikan lagu pelangi. Berikan penjelasan tentang pelangi dan manusia. Manusia sama seperti pelangi karena memiliki banyak suku dan kebudayaan. Kita semua memiliki mata, hidung, mulut, tangan dan kaki. Tetapi kita memiliki warna kulit dan bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang kulitnya putih dan sawo matang. Tiap suku itu unik, sama seperti tiap warna di pelangi. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan meminta anak menggambar pelangi dan jadikan pelangi dekorasi ruangan.

 Itulah permainan sederhana yang bisa kita lakukan untuk memahamkan anak tentang perbedaan dan makna tolerasi. Pada usia awal ini, paling penting untuk mereka memahami bahwa perbedaan itu ada kemudian orangtualah yang akan menjadi model utama bagaimana anak akan bersikap terhadap perbedaan tersebut. Anak akan menjadi observasi
ulung tentang bagaimana orangtua berespon pada perbedaan, termasuk ketika orangtua menonton TV. Perhatikan komentar-komnetar kita saat dengan menonton berita di TV atau ketika ada yang menyampaikan pendapat di TV dan pendapat tokoh tersebut berbeda dengan pendapat orangtua. Apakah kita akan banyak mengutuk atau justru menjelaskan
dengan baik mengapa pendapat kita berbeda. Anak akan banyak belajar dari observasinya dari pengalaman ini.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print