Previous
Next
Cacingan-1200x841

Menghadapi cacingan di sekolah

Ketika mulai masuk sekolah, tantangan yang timbul bukan hanya soal Pendidikan dan psikologi anak. namun juga soal kesehatan. Sebab, berani memasukkan anak ke sekolah artinya berani menerima segala resiko tertular atau mengalami kekhawatiran akan penyakit-penyakit yang endemik atau kejadian luar biasa.

Salah satunya adalah cacingan.

Ya, mungkin kita teringat saat masih SD dulu, ada slogan yang menyebutkan “minumlah obat cacing tiap 6 bulan untuk mencegah cacingan”. Atau siapa ayah dan bunda disini yang pernah disuruh mengumpulkan contoh tinja yang diambil dirumah, untuk dibawa ke sekolah, kemudian didata angka kecacingan-nya saat itu?

Nah, gimana sih sebenarnya soal ini? Emang sekarang masih perlu minum obat cacing enam bulan sekali? Cacingan menular atau gak sih? Seberapa bahayanya?

Bahaya cacingan

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 15 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Cacingan, prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk. Prevalensi cacingan bervariasi antara 2,5 persen sampai 80 persen.

Cacingan dapat mempengaruhi asupan (intake), pencernaan (digestive), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan.  Secara kumulatif, cacingan dapat menimbulkan kerugian terhadap kebutuhan zat gizi karena kurangnya kalori dan protein, serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, cacingan juga dapat menurunkan ketahanan tubuh penderitanya sehingga mudah terkena penyakit lainnya.

Apakah kita masih endemis cacingan?

Hal ini bisa ditanyakan ke puskesmas wilayah tempat kita tinggal kok. Apakah kita masuk wilayah cacingan atau enggak.

Aprilianto Edy Wirya, Ph.D, seorang ahli parasitologi klinik di Indonesia menambahkan, infeksi kecacingan memang relatif masih endemik di daerah pedesaan di Indonesia, namun di wilayah perkotaan, seperti Jakarta sudah berkurang banyak dan relatif rendah.

Hal ini terutama karena pengunaan jamban, kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir (+sabun) sebelum makan dan sesudah buang air besar dan menggunakan sepatu ketika bermain di tempat-tempat yang kemungkinan tanahnya mengandung larva cacing tambang, serta pembagian obat cacing secara teratur di sekolah-sekolah beberapa tahun yang lalu.

“Pemberantasan cacingan lebih pada perbaikan kebersihan lingkungan dan sanitasi pribadi,” ungkapnya.

Namun biasanya, orang yang beresiko cacingan adalah;

  1. Orang yang tinggal di tempat-tempat rawan cacing

Orang yang menghabiskan sebagian besar waktu berada di tempat-tempat rawan populasi cacing (seperti tanah liat, tanah gembur, dan pasir) berisiko cacingan jika tidak cuci tangan setelah beraktivitas, atau area tempat mereka beraktivitas miskin fasilitas sanitasi yang memadai, sehingga tanah yang terkontaminasi cacing dan feses binatang dan/atau manusia dapat dengan mudah memasuki mulut mereka.

  1. Orang yang makan makanan tidak bersih

Mengonsumsi sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih, terkupas benar, atau dimasak hingga benar-benar matang, akan membuat seseorang berisiko terkena cacingan. Rutin mengonsumsi daging babi dan daging sapi yang tidak dimasak matang juga meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit cacingan.

  1. Orang yang tinggal di lingkungan kumuh

Infeksi terjadi di tempat-tempat beriklim hangat dan lembap, misalnya di tengah masyarakat yang tinggal di daerah di mana fasilitas sanitasi dan kebersihan diri tidak memadai -seperti di bantaran kali, pinggiran kota, atau pedesaan.

Berdasarkan penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), hasil pemeriksaan feses dalam sampel masyarakat di lingkungan kumuh menunjukkan bahwa masih banyak orang dewasa yang membawa telur cacing dalam tubuhnya. Angka kejadian cacingan di tengah masyarakat kumuh Jakarta diketahui mencapai 40-45 persen. Ini yang menjadikan alasan mengapa golongan masyarakat daerah pinggiran atau pedesaan juga dianjurkan untuk minum obat cacing demi mencegah penularan cacingan.

Jadi, perlu minum obat cacing?

Kata dr Arifianto SpA, perlakuan antara daerah endemis dan non endemis memang berbeda. Pada daerah non endemis, obat cacing hanya diberikan kepada mereka yang terbukti cacingan dari pemeriksaan tinja. Sedangkan di daerah endemis, masih ada pembagian obat cacing sebagai pencegahan.

Banyak hasil penelitian yang berasal dari Indonesia pun tidak menyebutkan pemberian obat cacing sebagai upaya mencegah cacingan pada anak. Yang ada adalah: edukasi kesehatan bagi anak-anak SD agar senantiasa menjaga kebersihan tangan dan jajanannya, buang air pada tempatnya, dan menggunakan alas kaki. Hal ini menunjukkan upaya pencegahan sebagai pilar utama mengatasi infeksi kecacingan.

Referensi yang berasal dari UNICEF dan WHO pun (yang banyak meneliti negara-negara berkembang lainnya) menyebutkan hal serupa. Upaya edukasi kesehatan masyarakat dan pola hidup sehat adalah hal terpenting pencegahan cacingan.

Obat cacing seperti pirantel pamoat (yang banyak diiklankan sebagai pencegahan) dan albendazol/mebendazol pada dasarnya adalah untuk mengobati mereka yang sudah terbukti sakit cacingan, yaitu ditemukan adanya cacing atau telur cacing di tinjanya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print