Previous
Next
WhatsApp Image 2019-03-21 at 15.04.05(1)

Menikah butuh kesiapan mental “karena cinta tak bisa dimakan”

Saat ini banyak kaum muda yang sudah memiliki pasangan atau “pacar” ingin segera menikah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menikah di usia muda. Sebagai orang Indonesia, seringkali orang memiliki anggapan untuk segera menikah daripada diberikan label “tidak laku”, atau budaya latah dari rekan-rekan yang menikah pun kadang menjadi situasi yang menekan seolah-olah menjadi “berbeda” dari yang lain merupakan hal yang aneh. Padahal,  jika kita berada dikondisi single atau belum menikah merupakan kesempatan besar untuk mempersiapkan diri, dan menikmati hidup.

Saya menikah di usia 28 tahun, setelah lulus pendidikan S2 Profesi dan memang selama menempuh pendidikan tidak jarang orang tua yang saya jumpai seperti menyayangkan pilihan yang saya jalani untuk melanjutkan pendidikan tanpa memiliki pacar hehe. Namun, saat ini saya bersyukur bahwa saya menikah di usia tersebut karena ternyata menikah membutuhkan kesiapan khususnya secara mental.  Menikah tidak hanya mempersatukan dua orang saja, tetapi juga kedua belah pihak keluarga dan tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada perbedaan yang mungkin sepele namun berdampak besar dalam kehidupan pernikahan. Jika ingin menikah hanya karena cinta eits… tunggu dulu, perasaan cinta itu harus bisa diuji dan apinya tidak boleh padam sampai rambut kita memutih nanti. Menikah tidak karena sekedar cinta atau perasaan nyaman, apalagi karena faktor usia sehingga kita harus menikah. Mengapa demikian? kehidupan pernikahan membutuhkan kesiapan secara finansial (menafkahi keluarga, transparan dan terbuka soal keuangan, dan lain sebagainya), dan  kesiapan mental juga menjadi dasar kesiapan kita dalam membina rumah tangga.

Kesiapan mental akan dimulai ketika kita mendapatkan peranan baru sebagai suami/istri, sebagai menantu, kakak/adik ipar. Dalam pernikahan tidak ada lagi “aku” dan “kamu”, sebelum menikah sebaiknya mulai mengesampingkan ego, berlatih untuk asertif/terbuka dan jujur, belajar mengelola emosi, menguasai diri dan perasaan (tidak mudah marah, tersinggung atau baper), siap menjalani hidup dengan batasan tertentu, dan yang paling penting menerima pasangan kita apa adanya, baik dan buruknya. Sikap-sikap ini akan lebih terlihat ketika kita sudah menjalani kehidupan rumah tangga dan hidup bersama-sama. Bagi saya pernikahan diibaratkan kita membeli one way ticket ke suatu tempat yang tidak menjual tiket untuk kembali pulang.  Menjalani kehidupan rumah tangga tidak ada lembaga yang memberikan pendidikannya, sehingga kedua pasangan harus belajar dan berproses ketika menjalaninya. Dalam hal ini kedewasaan menjadi hal penting sebagai bekal untuk memebrikan respon dalam menghadapi situasi dalam kehidupan pernikahan.  

Jika kita membayangkan kehidupan pernikahan yang romantis, indah, dan berjalan mulus kita harus memperlebar sudut pandang kita. Menikah menyatukan dua orang dengan latar belakang pola asuh yang berbeda selama puluhan tahun, tentu hal ini akan memicu konflik atau perbedaan yang harus bisa disikapi dengan besar hati. Masing-masing orang tua akan menanamkan nilai/value, cara bersikap/berespon terhadap situasi tertentu, bagaimana menempatkan diri dan menghormati orang lain, serta pola pikirpun dapat diturunkan melalui pola pengasuhan anak. Sebagai orang tua dimasadepan kita juga harus menanamkan dasar pemikiran dan nilai-nilai yang baik bagi putra dan putri kita. Hal ini akan tercermin ketika anak-anak kita terjun bermasyarakat dan juga dalam menjalani kehidupan pernikahannya kelak.

Jadi, menikah tidak hanya butuh cinta karena cinta tidak bisa dimakan! Tetapi pernikahan membutuhkan kesiapan mental yang akan membantu kita dalam menjalani peran baru dan tanggung jawab baru dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print