Previous
Next
23-jul-Sharing-Menjadi-orangtua-berdaya-berbagi-kisah-dari-pasangan-orangtua-tuna-rungui--1200x1200

MENJADI ORANGTUA BERDAYA : BERBAGI KISAH DARI PASANGAN ORANGTUA TUNA RUNGU

Rinda dan Norman, pasangan orangtua tuna rungu berbagi kisah tentang pengalaman pengasuhan 2 orang anaknya. Sejak mengetahui dirinya hamil, Rinda dan Norman berusaha mencari obgyn yang kooperatif dengan keterbatasan yang mereka miliki. Meskipun ditemani sang Ibunda selama pemeriksaan kandungan, tapi Rinda selalu menekankan bahwa Mama boleh ada di ruang periksa tapi sebagai pendengar pasif, dan membantu menerjemahkan jika ada informasi yang masih belum dipahami.

“Namanya mama, beliau selalu tampak khawatir dokter dan aku miskomunikasi, nanti ada informasi yang salah atau kurang. Aku tahu maksud mama baik, tapi terkadang beliau malah nanya-nanya melulu dan aku malah berkurang kesempatan untuk diskusi dengan Obgyn, karena waktu yang kami miliki untuk konsultasi sangat terbatas”

Bahkan mama sempat bertanya ke Obgyn, apakah ada kemungkinan anak ku tunarungu juga. Aku gak nyangka, dokterku langsung nyeramahin mama! Intinya dokterku bilang agar mama memberikan kepercayaan penuh buat aku dan suami sebagai calon orangtua. Tuna rungu itu bukan penyakit menular atau menurun, jadi peluang bahwa bayi yang aku kandung dalam keadaan sehat dan sempurna, sangat besar! Orangtua tuna rungu sama seperti orangtua lain, berhak atas hak informasi mengenai kesehatannya sebagai ibu hamil dan kesehatan kandungannya. Sejak itu, mama dipersilahkan menunggu di ruang tunggu, dan hanya aku dan suami yang masuk ke ruang pemeriksaan.

Setelah Daffa lahir, timbul kekhawatiran lagi kalau dia menangis, aku dan suami tidak bisa dengar. Mama menawarkan agar Daffa bisa tidur di kamar beliau, tapi lagi-lagi aku meyakinkan mama bahwa kami mampu menjaga bayi kami. Konsekuensinya kami tidak melepas alat bantu dengar, kecuali kalau mandi. Jadi setiap Daffa menangis, aku atau suami langsung tanggap.

Berusaha yang terbaik, setelah itu berserah diri pada Allah saja. Ada suatu malam, aku lupa untuk memasang alat bantu dengar dan ketiduran. Ternyata, aku tetap terbangun saat malam karena tangan daffa menepuk nepuk dadaku, seakan-akan mau ngebangunin Ibunya. Aku terbangun, lihat Daffa dan langsung memeluk. Terimakasih ya Nak, kamu memahami keterbatasan kami,. Setelah itu, kami membiasakan Daffa setiap hari untuk menepuk aku atau suami, jika menginginkan sesuatu. Alhamdulillah, hal ini mempermudah kami semua.

Selang hampir 2 tahun, aku dipercaya untuk hamil anak kedua. Masa kehamilan relatif lebih mudah, terutama dengan bantuan Obgyn yang sama.  Dzaki, anak kedua kami banyak mencontoh prilaku kakaknya. Tanpa diajari khusus, ia mengerti untuk memanggil Ibu atau Ayahnya dengan tepukan. Dan kakak Daffa yang sekarang usianya 3 tahun malah sudah belajar bahasa isyarat untuk mempermudah komunikasi dengan kami.

Kami juga melewati masa-masa sulit lho, misalnya nih kalau berdendang lagu anak-anak. Bayangin nadanya pasti meloncat kesana kemari! Selain sadar kalau suara kami seadanya, kemampuan kami mengenal nada sangat terbatas. Soal nonton juga, banyak film kartun yang sebenarnya kami gak paham juga tuh tokoh kartunnya ngomong apa. Sedih banget kalau aku gak bisa menjawab pertanyaan anak-anak. Tapi aku dan suami saling menguatkan aja untuk fokus pada tujuan pengasuhan kami dan keluarga. Memaksimalkan kemampuan kami dan terus menerus belajar soal parenting. Percaya bahwa anak-anak tuna rungu, kelak akan menjadi orangtua yang membesarkan anak-anak yang mandiri dan berdaya, karena itu jangan pernah menyerah, atau menyalahkan keadaan. Orangtua yang percaya diri dan berdaya akan menjadi rumah terbaik bagi anak-anak mereka.

Selamat Hari Anak Nasional

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print