Previous
Next
Menjadi-yang-berbeda-di-negeri-bule

Menjadi yang berbeda di negeri bule

Cerita dari Ismaniar Catur Putri (Niar), seorang ibu dari 4 anak lelaki yang tinggal di Melbourne, Australia. Ia menikahi suaminya, Fadhil, yang merupakan warga Australia, meski ayah dan ibu nya adalah perantau asal Bandung, namun melahirkan semua anak-anaknya di negeri Kanguru tersebut.

**

Menjadi berbeda, biasanya identik dengan menjadi minoritas. Begitulah yang dirasakan Niar, 8 tahun yang lalu, ketika pertama kali pindah ke Kota yang selalu terpilih menjadi the best city tersebut. Serbuan rasa minder, dan kekhawatiran menyerang dirinya.

Namun beruntung memang karena ia tinggal di Melbourne. “Australia itu kan memang negara multicultural yah, jadi banyak banget pendatang. Dan disini kayaknya menghargai sekali perbedaan ras. Apalagi disini suka ada perayaan multicultural day, disekolah, kantor, community centre suka ngerayain. Biasanya, mereka memakai baju dari negara asal atau membawa makanannya (makanannya tetap harus jelas ingredients-nya klo ada kacang atau dairy), maklum negara banyak alergi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ketakutannya akan perbedaan agama karena dirinya seorang muslim pun ternyata terbantahkan. Bahkan, menurutnya makanan yang halal atau tidak pun kerap diinformasikan ketika ia dan keluarganya makan di restoran. “Meski ya ada juga haters nya, tapi aku enggak pernah ngalamin,” ujarnya.

Anak empat, dan satu lagi on the way

Nah, bagaimana dengan empat anak lelaki, dan sekarang sedang hamil yang ke-5? Bukan hal umum di zaman sekarang kan, punya banyak anak? untuk pertanyaan tersebut, perempuan usia 34 tahun ini terkekeh dengan mental baja. Karena ketimbang mendapat tatapan sinis atau sindirian, ia lebih sering mendapat tawaran manis “Do you need any help?” atau ucapan “You must be so handful!”

Meskipun pernah juga dapat beberapa kali teguran jika anak-anak bertingkah di tempat umum. Misalnya “Sorry is that your sons? I thing he’s bla bla bla bla and a lil bit dangerous!” ujarnya sambil terkekeh.

Kebijakan pemerintah untuk mereka yang berbeda

Di Melbourne, ungkap Niar, kalau punya anak banyak dan penghasilan dibawah rata-rata, sesungguhnya bisa mengajukan permohonan ke centre link untuk mendapat health care card. Keuntungannya bisa mendapatkan potongan harga di berbagai tempat, bahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah per anaknya.

Biaya melahirkan di public hospital juga gratis “Tapi enggak bisa nentuin dokternya. Tapi aku sudah bilang bahwa aku muslim dan kepingin ditangani dokter perempuan, maka mereka akan menuliskan notes tentang itu. ya untung-untungan sih, kalau pas dokternya bisa ya dapet yang perempuan,” katanya. Istimewanya, di rumah sakit disediakan makanan halal sebagai opsi bagi yang muslim.

Menjadi motivasi

Menjadi berbeda, bagi Niar, kadang bikin minder. Namun yang terkuat dirasakan justru menjadi motivasi kuat untuk membuktikan bahwa orang Indonesia, orang muslim, tidak seperti yang terlihat di media. “Kita berpendidikan, dan bisa menjaga manner..” ungkapnya. Hal ini juga yang ditanamkannya kepada anak-anak agar tetap percaya diri meski berbeda.

Seumur hidup lahir dan besar di Melbourne, membuat keempat anaknya memahami bahwa manusia terlahir dengan ras yang amat beragam. Ada yang berkulit putih, berkulit hitam, berkulit coklat, berhidung mancung, berhidung kecil, berambut merah dan sebagainya. Karena itu, ia membiasakan anak-anak untuk tidak memberikan stigma pada ras tertentu.

Mulai dari diri sendiri

Hal ini juga pernah menjadi masalah pembuat minder, karena 90 persen isinya bule. Namun anak-anak ya tetap anak-anak. Mereka tidak pernah memermasalahkan ras, agama dan sebagainya untuk memilih teman, bukan? Maka, dengan mudahnya anak-anak bersahabat dengan teman-teman dari berbagai ras dan bahkan hingga Niar pun bisa berteman dengan para orang tuanya.

“Intinya sih yang aku tanamkan bahwa enggak ada stereotype orang dengan ras tertentu itu pasti bad people. Siapapun bisa jadi bad people, makanya kita harus baik. Supaya semua orang juga baik sama kita. Kita dapet pahala, and we show them our best manner,” tuturnya sambil tersenyu,

**

Jadi, kenapa harus takut dan minder menjadi berbeda di negeri orang? Mulailah menjadi baik dari diri sendiri, dan tanamkan nilai-nilai itu sejak dini ke anak-anak. Terima kasih banyak ya Ibu Niar, untuk ceritanya! #ParentingisEasy

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print