Previous
Next
Mensyukuri-Perbedaan-1200x675

MENSYUKURI PERBEDAAN

Dalam setiap doa seorang ibu, pasti mengharapkan dikarunia anak yang cerdas, soleh, sehat, sempurna lahir dan batin. Doa ini dipanjatkan sejak hari pertama kehamilan. Kita berdoa, berusaha namun semua sudah ada suratan takdir. Allah SWT yang menentukan hasil akhirnya.

Bagaimana apabila anak yang dilahirkan ternyata memiliki kebutuhan khusus?  Apakah artinya doa ibu tidak dikabulkan? Tentu tidak, karena Allah SWT tahu yang terbaik untuk kita, walaupun belum tentu kita bisa memahami hal ini dengan mudah. Butuh waktu untuk memahami lebih dalam.

Saya memiliki beberapa orang teman yang dikarunia anak yang berkebutuhan khusus. Sebutlah namanya Ibu A dan Ibu B. Begini kisahnya ..

Ibu A, usia 41 tahun. Anak pertama seorang perempuan yang sekarang berusia 12 tahun. Sempurna lahir batin, cerdas, cantik, berbakat musik, jago senam. Impian semua ibu-ibu dalam memiliki seorang anak. Anak kedua seorang perempuan juga, berusia 5 tahun. Anak kedua berkebutuhan khusus. Berbeda dengan kakak nya, adiknya memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Sejak berumur 2 tahun, prilakunya sangat lincah, loncat ke sana kemari, berlari ke sana kemari.

Ibu B, usia 48 tahun. Memiliki dua orang anak lelaki. Anak pertama berusia 12 tahun. Sangatlah mandiri, sudah berani pergi dalam acara pertukaran pelajar ke luar negeri sejak kelas 3 SD,  pintar dalam akedemis dan olahraga. Anak kedua berusia 6 tahun, berkebutuhan khusus. Jadi perbedaan antara anak pertama dan kedua sangatlah mencolok. Kakak nya begitu mandiri, sementara adiknya harus ditemani dan diperhatikan khusus. Karena terkadang sang adik sering pergi dan menghilang apabila tidak diawasi.

Saya sering diskusi dengan kedua sahabat saya ini, dan saya melihat bagaimana mereka bisa menghadapi perbedaan kedua anak nya dengan begitu baik. Walaupun saya tahu, pasti ini tidak mudah. Namun tentunya dibalik semua hal ini, selalu ada hikmah nya. Kedua teman saya awalnya adalah ibu bekerja, yang memiliki karir di perusahaan besar, posisi tinggi. Sejak memiliki anak kedua yang berkebutuhan khusus. Akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus anak kedua nya. Karena pernah mereka mempercayakan pengurusan anak kedua pada suster, namun tetap hasil terbaik adalah di tangan ibu sendiri. Saya salut dengan keputusan besar yang mereka ambil. Tapi mungkin inilah berkah nya, dengan berhenti bekerja otomatis urusan rumah tangga, anak-anak, suami dan keluarga menjadi prioritas utama. Hal ini menjadi berkah tidak hanya untuk anak kedua, tapi untuk semua anggota keluarga. Karena ibu ada di rumah.

Bagaimana  dengan kondisi keuangan? Tentunya dengan berhenti bekerja, otomatis akan hilang satu mata pencaharian. Sementara biaya untuk mengurus anak berkebutuhan khusus tidak lah murah. Apa saja biaya nya :

  1. Biaya suster untuk menjaga di rumah
  2. Biaya makanan khusus (ada beberapa anak berkebutuhan khusus yg alergi)
  3. Biaya perawatan ke dokter
  4. Biaya obat
  5. Biaya terapi
  6. Biaya sekolah khusus, karena harus ada guru pendamping khusus

Mahal? Iya tentunya, tapi rejeki anak selalu ada. Kita tinggal harus mensyukuri dan mengatur dengan baik pengeluaran nya. Teman saya, sejak berhenti bekerja akhirnya berhasil memangkas beberapa biaya. Seperti biaya suster untuk jaga di rumah (karena ibu yang jaga sendiri), biaya terapi (karena sudah bertahun-tahun terapi, dan sudah ada kemajuan akhirnya diputuskan untuk stop dan  ibu yang akan melanjutkan terapinya).

Semenjak kedua teman saya fokus pada anak kedua nya, perkembangan anak-anak terlihat begitu cepat. Lebih cepat dibandingkan dulu, saat anak diasuh oleh suster dan ibu bekerja. Mensyukuri nikmat mendapatkan anak. Apa pun kondisi nya, karena Allah SWT tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita. Terbukti sekarang anak kedua mereka sudah sangat baik kondisi nya, sudah bisa diatur, sudah mengerti banyak hal, sudah bisa lancar berbicara. Dan bahkan salah satunya sudah sekolah di kelas umum tanpa pendampingan. Berkah yang luar biasa.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print