Previous
Next
31JUL12-1200x1200

MERAYAKAN HARI ANAK NASIONAL LAGI ??

Apa arti merayakan Hari Anak Nasional ? Artinya kita sebagai orang tua memberikan apa yang seharusnya menjadi hak anak. Apa saja hak anak? Kalau dijabarkan satu per satu, hak anak banyak lho. Yuk coba kita urutkan prioritas hak anak.

  1. Hak dasar (dipenuhi kebutuhan primer nya, sandang, pangan, papan)
  2. Hak  atas kasih sayang orang tua, waktu dan perhatian
  3. Hak pendidikan (pendidikan mental, jasmani, spritual)
  4. Hak atas kebutuhan tersier seperti liburan

Urutan prioritas atas hak anak, harusnya menjadi hal yang penting. Jangan sampai urutan prioritas nya menjadi tidak beraturan. Untuk hak nomor satu, pasti semua orang tua sudah berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin. Memberikan makanan sehari 3x, memberikan tempat tinggal, memberikan pakaian yang layak. Hal ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan saking ingin mmeberikan yang terbaik, seringkali orang tua sedikit kebablasan dalam memenuhi kebutuhan pokok anak-anak. Misal nya dalam hal makanan, yang pokok adalah makanan sehat sehari 3x ditambah cemilan sehat (buah) 2x sehari. Namun yang terjadi, banyak saya melihat orang tua (termasuk saya sendiri) sering terlalu memanjakan anak-anak. Memberikan jajanan yang mereka mau. Anak-anak tentunya sangat menyukai fast food, donat, coklat, pizza, es krim. Makanan nikmat yang selalu menjadi candu. Namun apakah hal tersebut baik untuk kesehatan mereka? Ini adalah hal yang harus diingat kembali oleh banyak orang tua. Menurut hasil obrolan dengan seorang dokter gizi, beliau menyatakan bahwa akhir-akhir ini angka obesitas pada anak semakin tinggi. Dan kejadian penyakit berbahaya diidap oleh anak akibat dari obesitas pun meningkat. Jadi dalam hal memenuhi hak makanan untuk anak, perlu diingat bahwa ada hak kesehatan anak yang harus kita jaga. Godaan makanan dan jajanan enak jaman sekarang sangat tinggi, iklan bertebaran di mana-mana, resto baru bermunculan sangat cepat, keinginan untuk mencicipi pun menjadi tak tertahankan. Mencoba, mencicipi tidak ada salahnya asalkan tidak berlebihan.

Hak untuk memperoleh pakaian, dari mulai pakaian seragam sekolah, pakaian sehari-hari di rumah, dan pakaian untuk bepergian. Anak jaman sekarang, sudah mulai mengenai merk terkenal. Bahkan terjadi kasus bully di sekolah hanya karena pakaian/ tas/ sepatu yang dipakai adalah KW dari merk terkenal. Tuntutan jaman, kemampuan ekonomi dari orang tua, membuat anak semakin paham bahwa memakai barang bermerk adalah keren. Yang tidak memakan barang bermerk tidak keren. Hal ini menjadi perhatian khusus para orang tua, jangan sampai membuat anak-anak kita dari kecil sudah memiliki pikiran sempit seperti ini. Apabila alasan membeli barang bermerk adalah karena kualitas nya, sehingga barang lebih nyaman dipakai, lebih kuat dan awet, ok. Tapi kalau alasannya hanya karena gengsi, ini akan menjadi bumerang di kemudian hari. Kita tanpa sadar mendidik anak untuk menjadi generasi konsumtif. Banyak kasus yang saya temui di beberapa klien, mereka terjerat oleh hutang kartu kredit karena gaya hidup yang sangat konsumtif. Berbelanja barang bermerk menjadi keharusan. Saat uang cash kurang, gesek kartu kredit, bayar minimum payment saja, akhirnya hutang bertumpuk. Jadi kembali diingat disamping hak memberikan pakaian/sepatu/tas yang layak ada hak anak untuk mendapatkan edukasi literasi keuangan. Jangan mengacaukan nya dari sejak mereka kecil

Hak atas kasih sayang, waktu, dan perhatian dari orang tua. Hak ini terkesan sepele, orang tua akan bilang tentu saya sangat menyayangi anak. Namun kenyataannya, berapa banyak waktu  yang kita dapat sediakan untuk mereka? Di sela-sela kesibukan bekerja dan beraktivitas, terkadang kita lupa meluangkan waktu yang cukup dan berkualitas. Misal wiken adalah waktu yang cocok untuk menghabiskan waktu dengan anak, tidak perlu selalu mengajak anak liburan ke tempat mahal. Jangan tukar kasih sayang orang tua dengan uang dan liburan mahal. Anak hanya butuh perhatian dan waktu dari orang tua. Bermain bersama bisa dilakukan di mana saja. Karena seringkali saya lihat keluarga yang berlibur ke tempat mewah, tapi orang tua nya tetap sibuk dengan handphone dan kegiatan nya sendiri. Anak-anak tetap bermain bersama pengasuhnya. Bukan itu inti dari hak kasih sayang untuk anak. Dalam hal memberikan hak liburan untuk anak pun, kita harus memperhatikan bahwa saat memberikan liburan mewah pada anak, misal jalan-jalan ke luar negeri. Apakah anak mengerti bahwa ini mahal, tapi bukan berarti bisa pamer pada teman-teman nya. Dan menganggap bahwa yang tidak bisa liburan ke luar negeri tidak keren. Ada hak untuk mendapatkan pengertian atas toleransi, empati yang harus kita ajarkan pada anak. Jangan sampai tanpa kita sadari, kita sedang mengajarkan hal yang salah dengan memberikan hal yang menurut kita baik.

Hak atas pendidikan, pendidikan lahir dan batin. Orang tua jaman sekarang berlomba untuk memberikan pendidikan sekolah terbaik, termahal. Menuntut anak untuk mencapai gelar S1 – S2. Belajar ke luar negeri, menuntut ilmu terbaik. Namun perlu diingat, bahwa tidak hanya ilmu dunia yang harus dikejar oleh anak. Ilmu akhirat sebagai bekal hari akhir, yang akan ditanya dan dipertanggung jawabkan setelah kehidupan dunia, juga menjadi hak orang tua untuk mempersiapkan nya. Jangan sampai anak kita sukses dalam sekolah dan karir, tapi kosong ilmu agamanya.  Siapkan waktu yang seimbang dalam pengajaran ilmu dunia dan ilmu akhirat. Jaman sekarang, bisa hanya dengan membuka youtube, kita bisa sama-sama belajar mendengarkan kajian para Ustadz, ajak anak untuk datang ke majelis ilmu, undang guru ngaji, belajar mengaji bersama. Tanamkan pada anak bahwa memahami ilmu agama sama pentingnya dengan memahami ilmu dunia.

So, parenting is easy ! Kita hanya perlu ingat di dalam setiap hak selalu ada kewajiban. Dalam memberikan dan memenuhi hak anak, ada kewajiban orang tua untuk mengingat konsekuensi dan efek samping dari hak tersebut.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print