Previous
Next
Stop-Mom-War-1200x858

Mom’s War: Anaknya ASI atau enggak ASI?

“Anaknya enggak minum ASI ya? Sayang ya, padahal kan ASI itu….bla bla bla” iya, memberikan ASI memang yang terbaik bagi bayi. Namun kalimat yang penuh dengan judgement tanpa mau mendengarkan alasan mengapa bayinya tidak diberikan ASI, adalah pemicu pertengkaran antar ibu, atau yang lebih popular disebut mom’s war.

Dari sisi medis, menurut dr Arifianto SpA, semua tergantung diagnosis tentunya. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah tulisan. Jadi, menurut Dokter Apin, ada beberapa kasus yang harus dicermati terkait pemberian ASI.

Prioritas utama: tumbuh kembang bayi, bukan?

Pertama, adalah bayi yang mengalami gagal tumbuh atau failure to thrive (ada juga yang menyebutnya weight/growth faltering), dan sayangnya sang ibu tidak menyadarinya sedini mungkin.

“Ya, saya mengamati beberapa Ibu merasa sudah memberikan ASInya dengan baik, dan tentunya ASI terus diproduksi, tetapi ternyata berat badan bayinya tidak naik dalam satu bulan pertama (bahkan lebih), atau malahan turun dari berat lahir,” katanya.

Apakah ASInya yang “salah”? Atau ibunya yang salah? Ternyata pengetahuan ibunya yang kurang dalam memahami manajemen laktasi, dan tidak memantau berat dan panjang badan bayi si kurva pertumbuhan. Jadi ada dua hal penting di sini: manajemen laktasi, dan pemantauan tumbuh-kembang sejak lahir.

Jadi, idealnya semua ibu, bahkan sejak masih hamil anak pertama, punya bekal kedua ilmu ini. Bukankah sejak hamil, semua ibu dibekali dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)? Pelajari dan pahami seluruh isi buku ini dengan baik! Plot berat, panjang badan, dan lingkar kepala bayi sejak lahir dan tiap bulan ke depannya.

Bayi baru lahir memiliki waktu kontrol saat berusia setidaknya satu minggu, dan saat berusia satu bulan. Tenaga kesehatan seharusnya mampu mendeteksi sedini mungkin berat badan yang tidak naik, dan mengevaluasi penyebabnya, serta mencarikan solusinya. Buku KIA juga memberikan informasi tentang laktasi.

Lalu, kalau memang sudah terjadi gagal tumbuh, apa yang harus dilakukan?

Memangnya ASI bisa kurang?

Langkah pertama tentunya mengevaluasi penyebab masalah, dan mayoritas adalah ASI yang ternyata tidak cukup bagi kebutuhan bayi untuk tumbuh. Bayi kadang mampu mengisap dengan baik, dan jumlah pipisnya terkesan cukup. Tetapi berat badan tidak kembali di usia satu bulan, bahkan sangat sedikit kenaikannya di usia 2, 3, bahkan 4 bulan. Bayi menjadi gizi buruk!

Kadang sebagian ibu tidak percaya: masa sih ASI saya kurang? Inilah pentingnya pemahaman manajemen laktasi. Ada beberapa yang “divonis” dengan mudahnya penyebabnya akibat tongue tie lalu dilakukan insisi atau frenotomi.

Padahal sesudahnya berat badannya juga tidak naik signifikan. Tapi kalau dievaluasi secara keseluruhan, dengan memperbaiki manajemen laktasi, maka jumlah ASI makin banyak. Konselor menyusui berperan penting dalam hal ini.

Ngotot mengandalkan ASI?

Kedua, kalau ASI tak segera kunjung makin banyak, atau bahkan bayi baru terdiagnosi gizi buruk dan gagal tumbuh lewat usia 2 bulan, masih harus menunggu mengandalkan ASI eksklusif ibunya saja? Ingin mencari ASI donor, ternyata tidak dapat, atau memang punya alasan pribadi tidak mau menggunakan ASI donor. Bolehkah memberikan susu formula? Nanti nggak eksklusif lagi dong?

Ingat, kembali ke niat awal memberikan ASI untuk bayi: untuk kebaikan sang buah hati. Bukan untuk dikatakan kelak: “lihatlah aku, yang berhasil ASI eksklusifnya!” (Maksudnya ada terbersit kesombongan, atau riya, ingin dipuji kawan-kawan dan tidak ingin dikatakan ibu yang gagal). Kalau memang bayi gagal tumbuh yang mengancam optimalnya perkembangan otak, bahkan hingga puluhan tahun mendatang (ingat masa depan), maka nutrisi harus diberikan seoptimal mungkin!

Pemberian susu formula menjadi punya indikasi medis dalam hal ini. Dokter pun tetap akan memantau tumbuh dan kembang bayi, apakah pemberian ASI, ditambah ASI perah ibu (mampu meningkatkan produksi ASI), dan susu formula bisa segera menaikkan berat bayi? Maka kontrol rutin tetap dilakukan.

Apakah nanti akhirnya bayi akan terus tergantung dengan suplementasi susu formula? Belum tentu. Seiring manajemen laktasi yang baik, produksi ASI bisa makin banyak, bahkan jika bayi sudah kenyang dengan ASI, ia tentunya akan menolak pemberian susu formula. Tentunya dengan berat dan tinggi badan yang sudah mengalami “kejar tumbuh” alias growth catch-up ya.

Tidak ada ibu yang gagal, meski tak ada juga yang sempurna

Prioritasnya adalah tumbuh kembang anak, bukan harga diri ibu, bukan? Jadi mom’s war; ASI atau tidak ASI harus tetap kembali pada diagnosis tumbuh kembang anak. ASI akan selalu jadi makanan terbaik, namun diberikan karena cinta dan keinginan anak tumbuh dengan baik. Bukan untuk disombongkan, benar?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print