Previous
Next
NIKMATNYA-PERBEDAAN-WEB-1200x606

NIKMATNYA PERBEDAAN

Anak pertama : hobi makan, senang mencoba hal yang menegangkan, serius, senang musik dan menari

Anak kedua : hobi ngobrol, tidak suka mencoba hal baru, agak lebih temperamental, nyaman dengan hanya diam di rumah, senang menggambar

Kata orang, memiliki 2 anak, maka bersiap dengan menghadapi 2 perbedaan. Padahal kedua anak ini berasal dari janin yang sama, orang tua yang sama. Tapi tetap saja mereka berbeda. Apakah jadi harus kesal dengan perbedaan ini? Tentu tidak, mari kita nikmati saja ☺

Karena hobi nya berbeda, maka kita sebagai orang tua harus membantu untuk mengembangkan kesukaan mereka. Salah satunya dengan mengikutsertakan pada les yang disukai. Tapi untuk bisa menemukan apa yang mereka sukai, saya mencoba berbagai macam les. Sampai akhirnya ditemukan 1 hal yang mereka suka. Untuk membiayai berbagai macam les ini, tentunya menggunakan biaya dan uang. Dan biaya les saat ini tidak lah murah, bahkan bisa lebih mahal daripada biaya uang sekolah bulanan. Jadi yang saya lakukan selama kurang lebih 3 tahun, mengajak mereka untuk mencoba semua hal yang mereka bilang suka. Tapi namanya anak-anak, bisa hari ini suka, eh kemudian beberapa bulan lagi tidak suka, bosan.  Saya minta komitmen untuk minimal mencoba dalam kurun waktu 1 tahun. Baru boleh putuskan suka atau tidak. Mau lanjut atau berhenti.

Berbagai les diikuti, dari les musik piano, biola, vokal, berenang, menari Sunda, menari Bali, berkuda, berenang, gymnastik, basket, menggambar,  balet, di luar les wajib untuk pelajaran dan mengaji. Setelah kurun waktu tertentu, saya ajak diskusi dan saya jelaskan berapa biaya untuk semua les-les tersebut pada anak-anak. Kemudian saya minta mereka memilih yang mana yang disukai.  Alhamdulilah walaupun mereka baru kelas 2 SD, dan kakak nya kelas 6 SD sudah bisa diajak diskusi dan dapat menerima hasil diskusi dengan baik. Penjelasan angka dan biaya les saya tuliskan di papan tulis kecil dan saya hitung total biaya per bulannya untuk semua les-les tersebut. Mereka sendiri kaget dengan angkanya. Dengan diskusi seperti ini, saya harapkan anak-akan lebih berkomitmen dan serius dalam semua les  yang diikutinya.

Ini kisah dua anak dengan les-les nya, yang harus kita siapkan biaya nya. Perbedaan yang tidak begitu memusingkan. Cerita berikutnya tentang salah satu teman saya memiliki dua orang anak. Dan sudah terlihat jelas bakat dan kesukaan nya. Masing-masing berbeda. Anak pertama jenis akademisi yang hobi belajar, anak kedua jenis non akademis yang hobinya melukis dan seni. Hebatnya sang ibu dan bapak benar benar memahami perbedaan kedua anak nya ini. Anak yang pertama mengikuti jalur normal ke sekolah umum. Sedangkan anak kedua, disekolahkan di sekolah khusus yang mendalami seni. Jadi tidak ada pelajaran akademis sama sekali. Setiap hari jiwa nya bebas, jam belajar bebas, anak-anak  diasah khusus untuk mengembangkan bakat nya masing-masing, tidak harus memasuki dan diam di ruang kelas, bebas mau melukis di area mana saja. Untuk orang tua yang tidak siap secara mental, pasti berat. Karena ini adalah metode yang berbeda dengan metoda sekolah pada umumnya. Saya salut kepada teman saya karena secara mental dia bisa menghargai perbedaan ini. Dan bahkan memberikan kesempatan pada anak nya untuk dapat berkembang. Tidak memaksakan keinginan pribadi orang tua kepada anak-anak nya, tidak terkungkung dengan pola pikir jaman dulu bahwa anak harus jadi seorang dokter, ekonom, atau insinyur. Orangtua nya ikhlas dan setuju anak nya menjadi seorang seniman. Kuat secara mental sudah hebat, yang berikutnya adalah persiapan finansial. Karena sekolah khusus seni ini biaya bulanan dan biaya masuk nya mahal sekali. Orang tua nya berkomitmen untuk mempersiapkan biaya sekolah demi mendukung sang anak. Lebih hebat lagi, kan? Kuat secara mental dan finansial

Dengan melihat cerita di atas, yuk kita belajar utuk dapat lebih menghargai perbedaan anak-anak kita. Setiap anak diciptakan berbeda oleh Allah SWT. Perbedaan akan menjadi hal yang menyenangkan apabila kita ikhlas dan menerimanya dengan baik. Namun bila kita tidak ikhlas, maka perbedaan ini akan selalu menjadi masalah besar yang tidak akan kunjung selesai seiring dengan semakin besarnya anak kita.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print