Previous
Next
Nutris-dan-Kesehatan-Anak-1200x768

Nutrisi dan Kesehatan Jiwa Anak

“No foetus can flourish when it its on the receiving end of toxic chemicals.”-Sue Gerhardt

Seorang ibu yang baru mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung pasti mengalami perubahan besar dalam dirinya. Perasaan pastilah berubah. Rasa senang sekaligus deg-degan bercampur aduk dalam menanti peran baru sebagai seorang ibu. Hal lain yang paling banyak berubah adalah asupan makanan. Seorang ibu menjaga betul asupan makanannya. Atas nasihat dokter, ibu perlu menghindari makanan A,B,C dan D. Jika kita pahami dan pikirkan betul mengapa dokter perlu melarang beberapa jenis makan untuk ibu hamil dan menganjurkan beberapa makanan lain, pasti kita akan menyadari betapa besar pengaruh nutrisi yang kita pilih terhadap tumbuh-kembang janin di dalam perut kita.

Dengan nutrisi yang tepat, janin kita akan didukung untuk berkembang dengan baik dan lahir menjadi bayi yang sehat.Sebaliknya, dengan nutrisi yang buruk, kemungkinan janin untuk tidak berkembang dengan baik menjadi lebih besar. Perkembangan janin yang tidak baik tentu akan mempengaruhi perkembangan ia seterusnya setelah lahir, termasuk masalah-masalah perilaku serta emosi yang menyertainya kelak.

Sejak bayi di dalam kandungan, nutrisi memegang peranan penting untuk pertumbuhan otaknya. Menurut, Gluckman dan Hanson (2004), apa yang dimakan oleh Ibu   memiliki dampak yang paling besar pada calon bayi terutama saat tiga bulan awal kehamilan.

Dari penekanan dokter akan pentingnya nutrisi yang baik bagi ibu hamil ini, kita jadi dapat yakin akan adanya hubungan erat antara nutrisi dengan tumbuh-kembang bayi dan anak. Termasuk di dalam tumbuh-kembang itu tidak hanya tubuh biologis etapi juga jiwa, kesehatan jiwa anak kita. Sering disebut juga dengan kesehatan psikologisnya.

Kemudian bagaimana dengan anak kita yang sudah tidak bayi lagi atau balita?

Salah satu penelitian terkait nutrisi yang dilakukan oleh McCann D, seorang ahli kesehatan anak pada tahun 2007, menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan makanan dengan kandungan pewarna buatan atau pengawet makan  menunjukkan adanya peningkatan pada perilaku hiperaktif mereka. Anak-anak ini terdiri dari kelompok anak usia 3 tahun serta kelompok anak usia 8-9 tahun. 

Penilitian lain yang dilakukan oleh Bateman B. dan rekan-rekannya pada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat pengurangan yang signifikan pada perilaku hiperaktif saat anak-anak yang diteliti  memasuki fase withdrawal atau sedang tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung pewarna makanan buatan serta pengawet makanan. Kemudian, terdapat peningkatan signifikan pada perilaku hiperaktif ketika anak-anak tersebut berada dalam fase aktif memakan makanan yang mengadung pewarna buatan dan pengawet makan berdasarkan laporan yang dibuat oleh orangtua mereka.

Dari penelitian di atas, patutlah kita lebih berhati-hati dalam memilih makanan untuk anak-anak kita. Namun demikian hendaknya jangan dipahami bahwa hanya faktor pewarna dan pengawet makananlah yang menyebabkan seorang anak hiperaktif. Tentu pemahaman ini perlu kita renungi terlebih dahulu dan jangan sampai membuat kita menjadi orangtua yang terlalu repot bahkan stress memikirkan masalah asupan makanan pada anak kita. Terdapat banyak sekali faktor yang mempengaruhi bagaimana tumbuh-kembang serta kesehatan jiwa anak tersebut. Faktor nutrisi adalah satu faktor penting dari sekian banyak faktor penting lainnya, seperti struktur otak serta profil sensori seorang anak, kemudian respon orangtua terhadap anak dalam menanggulangi masalah jiwa yang dialami anak.

Yuk kita mulai lebih teliti dalam memperhatikan nutrisi anak-anak kita!

Salam Hangat,

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print