Previous
Next
Obesitas-atau-Kerdil-1200x797

Obesitas atau kerdil?

Banyak orang makan seperti orang miskin, di tanah air yang kaya..(dr.Tan Shot Yen)

Sebuah pernyataan yang menonjok sampai ke ulu hati saya. Sedih banget tulisan dr Tan di kolom kompas.com ini.

Apalagi ditambah sebuah berita bahwa jumlah anak-anak dengan obsesitas di Asia Pasifik kini meningkat dengan cepat, jumlahnya bahkan naik 38 persen pada 2000-2016. Kenapa? Karena meningkatnya kesejahteraan warga di negara-negara Asia Pasifik selama 20 tahun terakhir.

Jadi, apakah kita miskin? Masalah gizi apa yang terjadi dengan kita? Mengapa kasus kekerdilan (stunting) terus meningkat, seiring dengan masalah kegemukan (obesitas)?

Kemiskinan?

Dr Tan Shot Yen, bukan Cuma sekali mengingatkan, namun berkali-kali, entah di forum, entah di bukunya, bahwa kita mengalami kemiskinan. Tapi bukan kemiskinan harta, melainkan kemiskinan konten pangan.

Bahkan pengeluaran untuk pangan yang sehat, jumlahnya selalu lebih kecil ketimbang pengeluaran lain seperti rokok, aksesori, ponsel. Sementara makan selalu asal kenyang. Prioritas yang dipilih, tidak pernah sesuai dengan kebutuhan. Orang tua yang belum jelas menata hidupnya, kepengen yang mudah-mudah saja, membuat bayi-bayi jadi tidak siap menghadapi masa depannya karena bahkan tidak dipersiapkan.

Padahal, gagal tumbuh, kata dr. Tan, membuat orang tua sudah mematikan beberapa cita-cita anak sejak dini. Bayangin, di Indonesia saat ini ada 2 anak kerdil dari 3 anak yang kita jumpai setiap harinya. Padahal WHO menggariskan angka 20 persen sebagai batas bahaya populasi stunting di suatu negara. Artinya, tidak boleh lebih dari 1 anak kerdil dari 5 anak dengan umur sebaya.

Kekayaan alam

Kata siapa kita miskin? Sudah lihat antrean untuk beli tiket jalan-jalan keluar negeri, di beberapa festival jalan-jalan beberapa waktu lalu? Makanan instan, tapi travelling selalu jalan. Karena kenyataannya, stunting tidak hanya terjadi pada mereka yang pendapatannya rendah, lho.

Tidak imbangnya komersialisasi pangan industri berbanding informasi pangan kodrati, membuat makin acakadulnya edukasi pemberian makanan bayi dan akan, kata dr. Tan. Indonesia itu tanah yang kaya, dengan berbagai jenis pangan yang tumbuh dengan mudah. Kenapa kita malah mengonsumsi makanan industri?

Kekayaan alam ini harganya akan sebanding jika pengeluaran tambahan ayah dan ibunya di pangkas. Kalau enggak mau, ya jangan panik jika lihat anaknya mudah jatuh sakit. Wong makanannya biscuit, minuman kemasan, makanan instan dan makanan yang bukan buatan tangan Tuhan.

Nutrition Deficit Disorder

Dr. Sears sudah pernah menuliskan satu buku mengenai hal ini; NDD. Anak-anak yang didiagnosis ADHD, ADD dan sebagainya itu, kadang hanya mengalami satu masalah yang sebetulnya sederhana: KURANG GIZI. Dan implikasinya bisa jadi obesitas, kerdil, tidak konsentrasi di kelas, diabetes, masalah pencernaan, mudah sakit, dan sebagainya.

Akan tumbuh seperti apa generasi masa depan jika orang tua tidak mulai menentukan skala prioritasnya? Kebayang kan kalau anaknya gampang sakit, pasti susah menerima pelajaran dan melakukan eksplorasi. Apalagi kalau kegemukan, atau terlalu kerdil. Gak usah sebut diabetes, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya yang sudah jelas akan menghambat kemampuan anak untuk menikmati serunya masa kecil yang penuh dengan bermain sambil belajar.

Memakan biaya lebih besar

“Tapi makanan sehat itu MAHAL!” sering dengar? Tau gak, kalau persoalan obesitas warga di wilayah Asia Pasifik memerlukan biaya penanganan sebesar 166 miliar dollar AS atau sekitar 2,3 triliun per tahun? Malaysia, Indonesia, Singapura dan Thailand adalah negara-negara di Asia Tenggara yang kini warganya mengalami masalah obesitas.

Itu baru obesitas. belum masalah lainnya yang disebabkan kemiskinan konten pangan.

Gaya hidup

Memang masalah utama penghuni kota adalah karena menghabiskan waktu berjam-jam untuk bepergian karena sistem transportasi dan infrastruktur yang buruk. Sehingga ketika sampai di rumah, hanya memiliki sedikit waktu untuk memasak, dan akhirnya memilih jajan.

Tapi kalau kita tidak berusaha untuk melakukan sesuatu untuk perbaikan gizi, setidaknya dalam keluarga sendiri dulu, lalu apakah kita hanya akan duduk menanti infrastruktur menjadi baik? Pertanyaannya adalah: kita akan duduk menanti dimana? Di rumah sambil menyantap pisang, jambu dan pepaya. Atau di ruang ICCU berteman mesin penopang hidup?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print