Previous
Next
sep-web-4

Orang dewasa yang sulit disiplin, bermula dari mana?

Mari kita susuri jalanan di Ibukota, dan mulai perhatikan lingkungan sekitar kita. Hari demi hari, jumlah mereka yang menganggap menerobos lampu merah, mengendarai motor di atas trotoar, menyeberang sembarangan, membuang sampah di jalanan, mengebut di bahu jalan hingga tidak bersedia antre bukan sebagai kesalahan, semakin banyak.

Studi yang dilakukan Paul Ramchandani dari Universitas Oxford menemukan bahwa jika seorang ayah tidak dekat dan tidak terlibat dengan bayi, maka bayi mereka memiliki masalah-masalah eksternalisasi (kasar, agresif, berantem) pada usia 1 tahun nanti. ketika hubungan positif tidak terjadi pada masa bayi, maka pada tahap balita nanti, akan lebih sulit mengajaknya untuk berprilaku sesuai dengan norma sosial.

Dimulai sejak dini

Ya, tentu saja semua bermula dari awal kehidupan seseorang. “pesan” yang didapatnya ketika kecil, akan dibawanya hingga dewasa. Berapa banyak dari kita yang menaati aturan hanya karena takut ditilang, atau takut ditangkap polisi? Bukan karena berempati pada orang lain, dan meyakini bahwa disiplin penting dilakukan agar tidak merugikan orang lain?

Disiplin. Di buku Peaceful parent, happy kids, tulisan Dr Laura Markham tertera bahwa dalam ilmu psikologi, disiplin artinya memberikan bimbingan. Sayangnya, sering disalahpahami bahwa disiplin berarti kekerasan untuk mengontrol sesorang, bahkan identik dengan hukuman. Inilah pentingnya disiplin positif.

Bukan, bukan memanjakan anak hingga tidak tahu aturan. Namun justru melakukan cara-cara yang tidak merusak hubungan dengan anak agar anak tetap bisa melakukan perbuatan baik denga nada atau tidak adanya kita di samping dia. Inilah self-discipline, inti dari disiplin positif.

Pondasi penting: secure attachment

Dan tahukah ayah dan bunda? Anak akan lebih terbuka pada bimbingan orang tua jika orang tua berempati dan menahan diri untuk tidak menghukum anak. karena itu, semua nya kembali lagi ke pondasi penting; secure attachment antara anak dengan orang tuanya. Kalau menurut dr Sears dalam buku The discipline book, attachment yang secure adalah tanah pijakan untuk rumah yang akan dibangun.

Sementara, Teknik pendisiplinan anak adalah batu bata yang digunakan untuk membuat tembok, atap dan sebagainya. Artinya, jika orang tua lekat secara emosional dengan anak, maka anak akan menerima arahan dari orang tua, tanpa melawan dan tanpa paksaan. Karena anak merasa bahwa orangtuanya adalah figure yang ia percaya. Dan ia yakini dapat diandalkan untuk memberikan arahan dalam hidupnya.

Hal ini yang akan dibawanya hingga dewasa nanti.

Secure attachment dan disiplin positif tak berarti semua kemauan anak jadi dituruti. Justru karena anak butuh limit. Ini yang akan menjaganya untuk tetap memiliki pegangan. Salah satu caranya bisa dengan mencegah perilaku sebelum terjadi. Bagaimana?

Misalnya saja perilaku melempar. Kita sudah tahu, tanda-tandanya anak akan memukul, bisa dengan anak yang mengepalkan tangan, atau raut wajah marah. Ketika tanda itu muncul, cepat alihkan ke perilaku lain. Misalnya dengan cepat menggandeng tangannya, lalu mengajaknya berputar, melompat, menari atau melakukan kegiatan lain agar anak teralihkan perhatiannya.

Nanti ketika marahnya reda, kita bisa mengajak anak berdiskusi mengenai cara sehat selain memukul, ketika marah. Nah, untuk mengetahui kemunculan tanda-tanda tersebut, tentu saja orang tua dan anak wajib dekat secara emosional, bukan? Jadi semuanya saling berkaitan satu sama lain.

Perilaku buruk yang dicegah, lalu dibahas dengan baik akan berdampak positif pada diri seseorang. Kedepannya ia akan terbiasa mengendalikan emosi, dan mengendalikan diri. Maka ketika menjadi bagian dari masyarakat, ia pun paham dan bisa mengikuti aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print