Previous
Next
orang-uang

Orang lebih penting daripada barang!

“If you have a choice between being right and being kind, choose kind.” -Dr. Wayne W. Dyer (Wonder).

Tau gak sih bunda dan ayah? Salah satu nilai yang dimiliki oleh orang berhasil adalah fokus kepada orang. Sebab kita manusia, dan bukan robot.

Sebelum memasukkan anak sekolah yang beresiko terpengaruh lingkungan, sebaiknya tanamkan dulu nilai penting bahwa berfokus pada orang lebih penting. Apa saja yang kira-kira harus ditanamkan?

Orang lebih penting dari barang

Pernahkah melihat seorang ibu yang memarahi anaknya karena makan berantakan, dan mengotori baju juga sepatunya? Bahkan kadang-kadang bentuknya hardikan keras, atau hukuman fisik karena tidak sabar melihat betapa cerobohnya anak saat belajar makan.

Ujung-ujungnya lebih memilih untuk menyuapi anak, karena sayang nanti baju dan sepatunya kotor.

Apakah kita sudah menyadari bahwa ada yang namanya proses belajar? Bukankah keberadaan ibu disamping anaknya yang sedang bersusah payah belajar makan, hingga berantakan itu, jauh lebih penting daripada baju yang kotor atau tidak?

Iya, memang harga baju mahal, dan ibu merasa rugi. Tapi apakah waktu makan Bersama yang menyenangkan antara ibu dan anak bisa dibeli dengan uang? Baju kotor masih bisa dicuci. Atau bahkan beli lagi. Tapi kesedihan si anak tidak bisa dibeli.

Jangan sampai anak merasa bahwa orang tua lebih memerhatikan barang dibandingkan diri mereka. Nantinya ia akan menganggap barang lebih penting dari orang. Akibatnya, ketika dewasa ia akan menjadi manipulatif kepada orang dan mengorbankan orang lain untuk mendapatkan uang

Mencoba mengerti kondisi orang

Coba tanya lagi deh sama diri sendiri, bagaimana cara kita memerlakukan orang lain? Karyawan yang bekerja untuk kita, misalnya? ART di rumah? Tetangga? Saudara? Teman?

Pernah gak kita melupakan simpati dan empati demi kepentingan kita? Enggak mau memahami saat karywan tertimpa musibah, misalnya. Atau menagih utang orang lain tanpa belas kasih. Atau bahkan menghardik ART ketika terpeleset dan membuat salah satu piring pecah. Padahal ia sedang sakit.

Ini adalah contoh bahwa kita hanya memedulikan apa yang kita butuhkan, tanpa memedulikan apa yang sedang dialami orang lain. Sekarang coba kondisinya dibalik, gimana misalnya anak yang selalu kita penuhi keinginannya itu terus meminta tanpa mau mengerti kondisi kita?

Misalnya di usia tua nanti, kita mulai sakit-sakitan, tanpa peduli si anak terus saja meminta uang ketika ia membuthkan. Ia tidak peduli apakah kita membutuhkan kehadirannya atau enggak. Maukah kita mempunyai anak seperti itu?

Melihat kebaikan orang

Pernah gak mendengar cerita ini? Ada seorang anak yang meminta uang kepada ibunya dengan memaksa. Karena tidak memiliki uang ekstra, ibu menolak permintaan anaknya. Karena kesal, si anak lalu membuat catatan: “Bantu ibu nyuci (5.000), bantu ibu bersihin kebun (5.000), bersihin kamar mandi (5.000), menyapu kamar dan belajar (5.000). total Rp 20 ribu”

Lalu ibu hanya tersenyum dan membalas dengan tulisan “Mengandung 9 bulan (gratis), menyusui 2 tahun (gratis), mengantar sekolah bertahun-tahun (gratis). Total yang harus dibayar TIDAK ADA”

Tak lama, si anak meminta maaf. “Maaf ibu, seharusnya aku enggak boleh ngasih catatan itu. apa yang ibu berikan selama ini lebih besar daripada apapun yang aku kasih”

Ini mengenai kebaikan dari semua orang. Ketika kita berusaha melihat kebaikan, kita akan bisa lebih fokus pada orang dan bukan keuntungan belaka. Begitupun anak, yang meniru kita.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print