Previous
Next
Pedihnya-Kisah-Mereka-yang-Terbuang

Pedihnya Kisah Mereka yang Terbuang

Bicara soal HIV/AIDS, artinya bicara soal kontroversi. Iya, ricuhnya masyarakat karena ketakutan mendengar nama virus dan penyakit ganas tersebut, dan betapa hinanya mereka yang menjadi penderita. Asal muasal penyakit yang kerap dikaitkan dengan perilaku seksual menyimpang, atau perilaku yang berdosa, membuat HIV/AIDS selalu terpinggir.

Sedih, tapi begitulah realitanya.

Dosa orang tua, ditanggung anak?

Dan realita yang lebih menyayat hati adalah bahwa tidak hanya orang dewasa sebagai populasi kunci saja yang terinfeksi. Ada anak-anak yang juga harus menanggung beban penyakit ini. Anak-anak yang turut dibenci masyarakat, dijauhi, dianggap kutukan, ditakuti. Anak-anak yang kebanyakan dari mereka yatim piatu, karena ayah dan ibu nya meninggal oleh AIDS.

Anak-anak yang harus menjaga rahasia penyakitnya, sebab kalau tidak, mereka tidak bisa sekolah. anak-anak yang bahkan ditolak oleh orang-orang terdekatnya. Anak-anak yang tidak mampu, kurang gizi dan  harus terus menerus sakit karena HIV menggerogoti daya tahan tubuhnya. Anak-anak ini, haruskah mendapatkan perlakuan sedemikian rupa?

Lentera anak pelangi

Sekelumit cerita mengenai anak-anak terinfeksi HIV ini kami dapatkan hasil ngobrol dengan Tiara Silalahi, Tim Psikososial Lentera Anak Pelangi (LAP) sebuah organisasi nirlaba yang menjalani rutinitas pendampingan bagi anak terinfeksi HIV.

Lentera Anak Pelangi saat ini mendampingi sekitar 96 anak-anak dengan HIV/AIDS yang mayoritas tinggal di kota Jakarta. 70 persen anak-anak yang didampingi oleh LAP sudah menjadi yatim piatu, dan 80 persen berasal dari keluarga tidak mampu.

Dari anak-anak yang sudah yatim piatu ini, 80 persennya diasuh oleh nenek/kakek. LAP berkomitmen untuk memberikan pendampingan kepada mereka dari usia 0 – 17 tahun. “Tapi paling banyak di rentang usia 5-9 tahun,” kata Tiara.

Rata-rata, anak—anak ini didiagnosis HIV/AIDS pada usia 3-4 tahun, karena terus menerus sakit namun tidak ketahuan penyebabnya apa. “Setelah di cek dokter, ternyata HIV,” tambah Tiara.

Mereka butuh kita

Kebanyakan anak yang didampingi oleh LAP adalah rujukan dari rumah sakit, atau dari masyarakat yang sudah lebih dulu mengetahui keberadaan LAP. Sebagai satu-satunya Lembaga yang concern di dunia anak dengan HIV, selama 8 tahun ini LAP menyediakan pendampingan seperti home visit, bantuan nutrisi, dampingan advokasi dan psikososial.

“Bahkan kita juga punya rumah belajar pelangi,” kata Tiara. Meski terbatas untuk anak-anak penderita HIV yang berdomisili dari Jakarta Utara. Sebab, tambah Tiara, setengah dari total jumlah anak yang ditangani LAP, berasal dari wilayah tersebut.

Sulit, adalah kata yang paling tempat untuk menggambarkan perjuangan teman-teman di LAP dalam melaksanakan tugasnya. HIV, bukan penyakit anak yang mudah diterima keberadaannya oleh masyarakat. Menangani penyakitnya saja sudah rumit, belum lagi mengubah stigma. “Negara sendiri untuk layanan anak belum dijadikan prioritas, sekarang yang banyak ditangani hanya populasi kunci saja. Pengguna napza suntik, pekerja seks dll,” tambah Tiara.

Memang jumlahnya belum sebanyak penderita dewasa. Karena itu, obat-obatan yang diminum pun, diberikan dengan dosis yang sama dengan oranng dewasa. “Nanti dipotongin sendiri sesuai dosis yang dibutuhkan oleh setiap anak,” ujar Tiara.

Belajar dari mereka

Karena penyakit ganas ini, banyak juga dari anak-anak yang mengalami gangguan intelektual di sekolah. daya tahan tubuh yang lemah, dan virus yang menyerang bagian tubuh lain. Karena itu, dari pihak LAP melakukan pendampingan psikososial dengan tidak memberitahu penyakitnya hingga usia 11 tahun keatas.

Ketika anak sudah bisa menjaga rahasia dan bisa diajak berdiskusi. Sebab biasanya, dengan tubuh yang lemah itu, dan mengetahui bahwa penyakit ganas telah menggerogotinya, mereka biasanya kehilangan rasa percaya diri dan semangat. “Yang kecil hanya diberitahu bahwa sedang sakit, jadi harus minum obat sehari dua kali,” ujar Tiara.

Dari anak-anak ini, kita belajar arti berjuang dalam hidup yang sesungguhnya, meskipun mereka belum mengerti apa yang mereka lakukan adalah sebuah pertarungan yang hebat.

Sudah menjadi hal biasa, jika dalam kurun waktu tiga bulan harus masuk rumah sakit selama 5 kali. Berat sekali rasanya bagi mereka menghadapi hal ini sendirian. Lalu apakah mereka berdosa, dan harus dijauhi? Apakah HIV layaknya common cold yang menular lewat bersin sehingga kita harus ketakutan?

Tidak. Mari kita berhenti membenci, agar bisa melihat dari dekat, sebuah sudut pandang mengenai kehidupan yang amat menyesakkan dada. Kemudian bayangkan jika kita yang ada dalam posisi itu. apa rasanya?

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print