Previous
Next
Sex_education

Pendidikan Seks Bagi si Kecil – THE SERIES #1

Mulai bulan ini, kami akan memulai tulisan berseri tentang Pendidikan seks bagi anak.

Kenapa?

Karena kejadian kekerasan seksual yang menimpa anak-anak, bukan lagi angka yang remeh. Tidak bisa disepelekan, bahkan mulai mengerikan.

Dua bulan, 223 aduan kasus kekerasan seksual

Ketua KPAI, Susanto, membeberkan sejumlah kasus kekerasaan terhadap anak, yang terjadi di hampir semua daerah. Pasalnya, hingga bulan Februari 2018, KPAI telah menerima 223 aduan kekerasan seksual.

Kebanyakan pelaku kekerasan seksual adalah mereka yang pernah juga mengalami kekerasan di masa lampau nya. “Di Karanganyar 17 anak usia 8-10 tahun jadi korban oleh pelaku yang usianya 29 tahun merupakan korban kekerasan seksual oleh seniornya di masa lalu. 42 anak jadi korban pelecehan oleh pelaku yang usianya 35 di Tapanuli selatan, lalu di Jombang 35 siswi dicabuli oleh guru, dan di Tasikmalaya 6 anak dengan pelaku anak-anak juga, sehingga total ada 223 kasus,” ungkapnya.

Tidak hanya anak perempuan

Justru di tahun 2018 ini, kasus kekerasan seksual lebih banyak memakan korban anak laki-laki. Jadi, kalau dulu kita seringkali khawatir akan anak perempuan, kali ini tidak ada bedanya. Semua harus mendapatkan perlindungan yang sama.

“Pertama kasus sodomi di Aceh dengan total korban 26 anak, pelaku 40 tahun menggunakan modus bermain bersama. Lalu di Tangerang ada 45 anak usia 7-15 tahun. Kemudian di Jambi ada 50 anak laki-laki jadi korban,” ujar Susanto.

Makanya, Pendidikan seks itu penting

Salah satu faktor banyaknya terjadi kekerasan seksual terhadap anak adalah karena kurangnya pemahaman. Anak-anak dianggap kurang mengetahui bentuk kekerasan seksual.

“Supaya terhindar, anak-anak harus terus diberikan pemahaman agar mereka sadar dan tahu bahwa itu adalah kekerasan seksual, bentuknya seperti apa, pelakunya seperti apa,” kata Manager Advokasi Plan Internasional Indonesia Nadira Irdiana.

Menurut Nadira, anak-anak harus diberi tahu bahwa sesuatu yang berkaitan dengan perlakuan seksual yang tidak diinginkan merupakan bentuk dari kekerasan seksual. Termasuk hal yang paling sederhana seperti bersiul menggoda.

Nadira menjelaskan umumnya para perilaku pelecehan seksual banyak memulai tindakannya dengan memberikan lelucon berkaitan dengan seksual. Jika lelucon itu dibiarkan, besar kemungkinan bakal menjadi kekerasan seksual.

Sedia payung sebelum hujan

Karena itu, kami ingin menjadi salah satu media yang membantu ayah dan bunda untuk memulai memutus rasa tabu untuk Bersama dengan anak mengenal Pendidikan seksual sejak dini.

Sebab, mengajarkan seksualitas yang benar membutuhkan proses yang Panjang — sejak anak lahir sampai tahap remaja akhir. Pendidikan seks sejak dini juga harus sesuai dengan perkembangan anak.

Apa aja sih nantinya yang akan kami bahas?

Tentu saja mengenai fungsi organ reproduksi serta cara menjaga dan memeliharanya. Seiring bertambahnya usia anak, Pendidikan seks juga memberi pengetahuan mengenai cara bergaul dan bertanggung jawab sesuai nilai-nilai ajaran agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

Jika sejak kecil anak sudah mendapatkan bekal Pendidikan seks yang benar, tentu akan melindungi anak dari bahaya bully seksual, perilaku seks bebas, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, pemerkosaan dan mencegah penularan berbagai penyakit kelamin.

Apa itu Seks?

(Pendidikan seks bagi si kecil- THE SERIES #1)

Kalau menyebut kata seks, langsung deh mata melotot. Padahal seks itu bukan hal tabu yang enggak boleh dibicarakan, lho, ayah dan bunda.

Kata seks itu sendiri berarti perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan, atau biasa juga disebut jenis kelamin.

Tahapan memerkenalkan seks kepada anak:

  • Mulai sejak lahir

Dr. H. Boyke Dian Nugraha, SPOG, MARS, pernah menuliskan di dalam bukunya bahwa Pendidikan seks bisa dikenalkan sejak lahir, lho. Misalnya dengan membiasakan meminta izin kepada si kecil ketika membuka baju atau mengganti popoknya. Biasakan juga dengan mengganti bajunya di ruangan yang tertutup.

Meski anak masih bayi dan belum bisa merespons Anda, melalui kebiasaan sederhana ini, dia belajar untuk menghargai tubuhnya sendiri dan orang lain. Ini juga pernah dikatakan oleh Psikolog anak, Devi Sani M.Psi, bahwa dalam membentuk attachment atau kelekatan dengan anak, maka ciptakan suasana yang predictable setiap saat.

Dengan terbentuknya attachment, maka anak dan orang tua akan saling terkait satu sama lain. Dengan kedekatan tersebut, anak akan selalu mendengarkan orang tuanya. Hal ini tentu akan terkait dengan cara ia bersikap seumur hidupnya, bukan?

  • Kenalkan beda kelamin

Tentu saja yang termudah, kenalkan perbedaan dari contoh terdekat misalnya ayah adalah laki-laki, bunda adalah perempuan, lalu terangkan juga perbedaan organ tubuh antara ayah dan bunda.

Kita juga bisa mulai menanamkan moral dan kesopanan sesuai dengan agama dan nilai-nilai yang dianut keluarga. Jelaskan mengenai underwear rules dan cara melindungi diri dari orang asing.

Pengenalan ini terus dilakukan bertahap hingga nanti ia menjelang pubertas. Kita bisa memerkenalkan kepada anak tentang tanda-tanda pubertas dan bagaimana menghadapinya. Beri dia rambu-rambu yang jelas dalam bergaul dengan lawan jenis.

Siapa yang harus melakukannya?

Kalau bercerita mengenai seks pada anak, kita bisa berbagi tugas kok. Misalnya ayah memberikan edukasi kepada anak laki-laki, dan ibu bertanggung jawab memberi pengetahuan kepada anak perempuan.

Biasanya anak laki-laki akan merasa lebih nyaman jika membicarakan organ seksnya pada ayah, sebab ayah memiliki organ seks yang sama. Begitu juga dengan anak preempuan yang biasanya lebih nyaman bicara pubertas dengan ibunya. Selain itu, kita kan juga bisa lebih mudah memberikan contoh melalui anggota tubuh sendiri.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print