Previous
Next
sep-web-3

Pernahkah terbayang rasa takut si bayi baru lahir, jika tangisan tak ditanggapi

Mari kita sama-sama membayangkan, rasanya berada didalam Rahim ibu. Tumbuh dari seukuran kacang hingga layak lahir ke dunia. Betapa nyamannya berada didalam sana, dengan suara lembut detak jantung, gejolak air perlahan yang seperti air terjun, tempat hangat berlimpah makanan bergizi, empuk dan gelap layaknya kamar jelang tidur.

Nikmat sekali kan, sungguh kenyamanan yang tak dapat tergantikan. Tiba-tiba, semua itu harus berlalu dengan kejadian mengagetkan. Bahwa kita, yang seumur hidup belum pernah melihat cahaya, kemudian diserang dengan tembakan cahaya dari Lorong yang memaksa kita untuk melorot keluar. Belum lagi udara dingin dan suara keras dari mana-mana. Suara yang tadinya hanya kita dengar sayup-sayup, didalam sana. Ada tangan yang meraih tubuh kita, dan tiba-tiba kita tak lagi berada dalam pelukan hangat Rahim kesayangan.

Kira-kira apa yang pertama ada di bayangan seorang bayi yang baru saja keluar dari surga-nya itu? Takut. Iya, takut.

Ia mulai memasuki sebuah dunia yang tidak bersahabat, dipaksa keluar dari goa tempat dirinya berlindung selama 9 bulan. Ia membutuhkan orang lain, ia membutuhkan suara yang ia kenal, suara yang tadinya terdengar sayup-sayup dari dalam. Suara ibunya..

Ia membutuhkan suara degup jantung yang membuatnya merasa aman, ia membutuhkan alunan dendang yang menemani tumbuh kembangnya dalam kegelapan, ia butuh rengkuhan hangat penuh kasih sayang. Ia butuh tempat yang membuatnya merasa tidak asing di dunia yang serba bising ini. Semua, milik ibunya..

**

Tidak, ia tidak butuh box mewah dengan berbagai ornamen lucu yang mengelilinginya. Tidak, ia tidak butuh baju yang manis dan membuatnya terlihat menggemaskan di foto. Ia bahkan masih punya cadangan makanan yang bisa membuatnya bertahan selama 1-2 hari, jadi ibunya tak perlu panik jika ASI nya belum banyak.

Ia butuh ibunya, ia butuh orang yang membuatnya merasa aman. Ia butuh suasana yang sama seperti ketika dirinya masih berada didalam Rahim. Ia hanya butuh pelukan itu, ciuman itu, dan bisikan penuh kasih dari orang yang akan menemani langkahnya untuk percaya, bahwa ia disayang, bahwa ia layak dan dunia adalah tempat yang indah.

**

Maka berhentilah percaya pada bau tangan. Gendonglah anak kecil yang hanya bisa menangis itu. Peluklah ia erat-erat, biarkan ia mendengar denyut jantung ibunya, ayahnya. Susui dirinya, katakan hal-hal yang indah tentang dunia ini.

Ia ketakutan, bu. Dunia ini bising dan mengerikan, bu. Ia butuh ibu dan ayahnya. Ia butuh ditanggapi setiap kali terbangun dari tidur. ia butuh diajak ngobrol ketika popoknya akan diganti, atau menjelang waktu mandi. Ia butuh ditanggapi ketika tengah malam terbangun dan menangis tak kunjung henti.

Jangan hukum dia dengan memisahkannya dari ibunya. Ia butuh berada dalam dekapan ibu dan ayah. Tidurlah bersamanya, gendong dan ajak ia beraktivitas. Sebab ia tidak butuh mainan kinclong atau selimut mahal. Percayalah, ia hanya ingin orang tuanya.

Bayi kecil tak perlu dipaksa mandiri. Dengan bekal rasa percaya pada lingkungan dan orang disekitarnya, ia akan lebih cepat belajar percaya pada kemampuannya sendiri, saat itulah ia akan membentuk kemandiriannya. Semua ada saatnya, bu, yah. Percayalah..

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print