Previous
Next
Melawan-GTM-Dengan-Jamu-Cekok

Pro Kontra Vaksin MR; Pencegahan lebih penting daripada Perdebatan, bukan?

Fatwa MUI nomor 33 tahun 2018 mengenai mubahnya penggunaan vaksin Measles Rubella (MR), yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII), sempat membuat media sosial tegang berhari-hari. Perdebatan demi perdebatan berlangsung panas antar golongan.
Dokter anak, Dr Arifianto SpA adalah salah satu yang kena banyak hujatan karena terus memerjuangkan peningkatan angka vaksinasi. Sebab dari pengalamannya, tidak sedikit jumlah pasien yang terdampak dari campak dan rubella.

Menurut dokter Apin, Fatwa Nomor 33 tahun 2018 tersebut telah memberi kejelasan, sehingga tidak ada keraguan lagi di masyarakat untuk bisa memanfaatkan vaksin MR dalam program imunisasi yang sedang dilakukan saat ini sebagai ikhtiar untuk menghindarkan buah hati dari risiko terinfeksi penyakit Campak dan Rubella yang bisa berdampak pada kecacatan dan kematian.
Ada alternatif?

“Saya tidak menyebut merek dagangnya (saya berlepas dari konflik kepentingan produk vaksin manapun). Di medsos sudah cukup berseliweran hari ini. Vaksin ini memang bukan vaksin kombo MR, tetapi MMR (ada tambahan virus “mumps” alias gondongan di dalamnya). Dan apabila kita melihat pada product monograph yang dengan mudah bisa diunduh di internet, jelas disebutkan vaksin ini tidak menggunakan gelatin babi sebagai stabilizer. Saya membaca kata “sucrose” alias sukrosa, dan saya menyimpulkan bahwa vaksin MMR ini menggunakan glukosa tersebut sebagai stabilizer. Bukan gelatin.” Kata Dokter Apin.

Lantas apakah vaksin tersebut diyakinkan bebas dari porcine alias babi? menurut kesimpulan Dokter Apin; belum tentu. Mengapa? Karena ada vaksin serupa, meskipun tidak memakai gelatin babi, tetapi di produk akhir kemasan vaksinnya tertulis “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi”.

Bagaimana dengan vaksin MR produk SI India? Apakah menggunakan tripsin babi (istihlak), atau gelatin babi (istihalah)? Simak lagi fatwa MUI; Di dalam Ketentuan Hukum poin kedua, disebutkan alasan vaksin MR SII haram karena “Dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi”. Apa artinya? Ya betul, istihlak. Bukan istihalah. Dan bisa jadi, bahkan sangat mungkin menurut saya, vaksin MR SII dengan vaksin MMR yang disebut-sebut sebagian orang bebas gelatin babi (memang bukan istihalah, tetapi mungkin istihlak), ternyata sama saja: sama sama menggunakan tripsin babi di proses produksi awal. Jelas? Paham?

Kesimpulannya: memang belum ada pengganti untuk vaksin MR SI India ini. Dan jangan lupakan poin ketiga fatwa MUI: akhirnya mubah dengan darurat syar’iyyah dan belum ada alternatif lain.
Seberapa penting?

Berdasarkan data yang dipublikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus Campak dan Rubella yang ada di Indonesia sangat banyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah total kasus suspek Campak-Rubella yang dilaporkan antara tahun 2014 s.d Juli 2018 tercatat sebanyak 57.056 kasus (8.964 positif Campak dan 5.737 positif Rubella).
Tahun 2014 tercatat 12.943 kasus suspek Campak-Rubella (2.241 positif Campak dan 906 positif Rubella); Tahun 2015 tercatat 13.890 kasus suspek Campak-Rubella (1.194 positif Campak dan 1.474 positif Rubella); Tahun 2016 tercatat 12.730 kasus suspek Campak-Rubella (2.949 positif Campak dan 1.341 positif Rubella); Tahun 2017 tercatat 15.104 kasus suspek Campak-Rubella (2.197 positf Campak dan 1.284 positif Rubella); dan s.d Juli 2018 tercatat 2.389 kasus suspek Campak-Rubella (383 positif Campak dan 732 positif Rubella).

“Lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan, baik Campak (89%) maupun Rubella (77%) diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun”, tutur Dirjen P2P Kemenkes RI, Anung Sugihantono.
Jadi kalau melihat datanya, jelas penting banget ya!

Harus vaksin?
Menurut dokter Apin, menjawab hal ini artinya harus memahami beberapa poin penting terkait vaksinasi MR. yakni:
Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah tidak adanya kasus campak sama sekali di Indonesia (eliminasi), bahkan di seluruh dunia! Kampanye imunisasi MR ini bukanlah program dadakan, dan sudah direncanakan mengikuti komitmen bersama 194 negara WHO sesuai Renstra yang ada, yaitu menekan angka kematian akibat campak sampai 95 persen, mengurangi insidens campak kurang dari 5 kasus per satu juta penduduk, dan mencapai cakupan imunisasi campak (atau MR) sampai 90 persen di tingkat nasional. Maka diharapkan Indonesia bebas campak di tahun 2020, selain mampu mengendalikan rubella dan sindrom rubella kongenital. Inilah tujuan dari kampanye imunisasi MR yang mengundang pertanyaan banyak orang.

Sebagian orang berkata: “campak bukanlah penyakit berat, bukankah semua anak akan mengalami campak?” Di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, dan Australia, penyakit campak sangat ditakuti, dan orang yang mengalaminya harus diisolasi di dalam rumah sampai berhari-hari, dan tidak boleh melakukan aktivitas di luar, atau pergi bekerja/bersekolah, sampai dinyatakan dokter boleh kembali beraktivitas di luar. Masyarakat di negara-negara ini sangat paham bahayanya campak.

Lihat saja cakupan imunisasinya yang tinggi, seperti di Amerika Serikat (AS) sebesar 91,9 persen (dalam bentuk imunisasi MMR) dan dinyatakan telah mengeliminasi campak sejak tahun 1997, dan negara-negara lain seperti Australia (eliminasi sejak tahun 2005), Kanada (sejak 1998), Inggris dan Wales (tahun 1995 – 2001), dan Korea (tahun 2001 – 2006).
Bagaimana dengan data kasus campak di Indonesia yang turun terus, dari 10.712 kasus di tahun 2013, lalu sempat naik menjadi 12.493 kasus di tahun 2014, dan turun ke angka 8.185 kasus pada tahun 2015? Kematian yang dilaporkan pun hanya satu. Tidakkah merasa puas dengan “prestasi” yang ada? Tentu saja tidak! Penjelasan sebelumnya mengenai target Indonesia bebas campak tahun 2020 sudah sangat jelas.

Lagipula, tidak semua kasus kematian dilaporkan, dengan luasnya dan beragamnya geografis Indonesia, termasuk daerah-daerah pelosok, dan sistem pelaporan yang belum memadai di semua tempat. Bisa saja kenyataan yang terjadi merupakan fenomena gunung es, yaitu masih banyak kasus yang tidak atau belum terlaporkan. Di dalam petunjuk teknis kampanye imunisasi MR sendiri, Kementerian Kesehatan mengakui jumlah kasus diperkirakan masih rendah dibandingkan angka sebenarnya di lapangan, mengingat masih banyaknya kasus tidak terlaporkan, terutama dari pelayanan swasta, serta kelengkapan laporan surveilans yang masih rendah.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak masih rendah, yaitu 82,1 persen, meskipun laporan dari data rutin imunisasi campak menunjukkan angka 97,8 persen di tahun yang sama, dan turun menjadi 92,3 persen di tahun 2015. Maka untuk mencapai target cakupan lebih dari 95 persen di tahun 2020, tantangannya menjadi sangat besar, dan kampanye imunisasi MR yang diawali tahun ini menjadi cermin bagaimana Pulau Jawa mampu menghadapinya.

Pada akhirnya, perdebatan harus kalah dengan ikhtiar, bukan? Sebab mencegah akan selalu jauh lebih baik ketimbang mengobati.
Dokter Apin juga menceritakan, “Pernahkah Anda melihat anak yang dirawat di RS karena sakit campak, dengan komplikasi pneumonia, diare atau ensefalitis? Saya seorang dokter anak, dan saya melihat sendiri penderitaan anak-anak yang dirawat karena napasnya sesak, lemas akibat kekurangan cairan saat diarenya, bahkan sampai kejang berulang karena ensefalitis, dan berakhir pada kematian, atau cacat seumur hidup, setelah sebelumnya mengalami tumbuh-kembang normal! Penderitaan akibat penyakit campak dan rubella tidak semata pada fisik si anak saja, tetapi anggota keluarga lain yang terpaksa harus menemaninya menjalani sakitnya.”

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print