Previous
Next
Review-Ready-Player-One

Review : Ready Player One

(film ini untuk ayah dan bunda ya, bukan untuk anak-anak yang masih kecil..)

Waktu pertama melihat trailer film ini, saya enggak terlalu berminat nontonnya. Selain karena saya bukan penggemar game, saya agak trauma dengan film Wrinkle In Time, yang sama sekali enggak menarik itu.

Apalagi ini pemeran utamanya juga remaja-remaja. Seperti beberapa film genre sci-fi-action yang muncul belakangan. Yang membuat saya tetap nonton adalah nama Steven Spielberg.

Ajaib

Ternyata, film yang durasinya nyaris 2,5 jam ini tidak membuat saya tidur, dan bahkan mata saya seperti lekat di layarnya. Karena menarik banget ceritanya. Sebagai penikmat cerita, film-film dengan genre seperti Ready Player One ini biasanya membuat saya tertidur karena Cuma sibuk action tembak2, berantem lalu habis.

Sementara yang satu ini punya cerita, yang bahkan saya bisa mengkorelasikannya dengan realita kehidupan di dunia parenting belakangan ini. Ketika ada begitu banyak anak yang tumbuh tanpa attachment kepada manusia, tapi dengan benda.

OASIS

Film yang disadur dari buku dengan judul yang sama, besutan Ernest Cline ini digarap dengan rapi dan plot yang memudahkan penonton untuk menikmati film tanpa rasa bingung.

Ceritanya adalah mengenai seorang geek yang jago menciptakan game, dan kemudian dia menciptakan OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation) juga kompetisi untuk mendapatkan 3 kunci, kalau berhasil memecahkan teka-teki dalam perlombaan.

Orang yang berhasil akan mendapatkan OASIS untuknya.

OASIS ini adalah virtual world yang membuat banyak orang bertemu dengan menggunakan avatarnya di dunia game online. Kalau orang-orang suka main mobile legend, ya macam begitulah. Tapi dunianya besaaaaar sekali, enggak Cuma ada 1 game disitu.

Diciptakan karena kesepian

“Being human totally sucks most of the time. Videogames are the only thing that make life bearable.”

Ini alasan si jenius Halliday menciptakan OASIS. Ia mengalami konflik batin karena jatuh cinta namun enggak berani menyampaikan. Ia juga mengalami konflik dengan sahabatnya. Dan di akhir hidupnya, ia tidak pernah bisa menyelesaikan berbagai persoalan dengan manusia karena ia gagal memahami koneksi antar manusia.

Iya, dia anak yang tumbuh kesepian dan menjadi dewasa dalam kebingungan.

Good point, karena dia tidak tumbuh menjadi pelaku kriminal atau kekerasan. Ia menciptakan sesuatu. tapi jadi satire, karena dunia yang diciptakannya itu ternyata amat disukai oleh begitu banyak orang di dunia, dari berbagai lapisan usia dan latar belakang, hanya karena…

Mereka merasakan kesepian dan kebingungan yang sama.

Mereka gagal menciptakan koneksi dengan manusia lain, lalu menghabiskan waktu di dunia virtual itu sepanjang hari, dan hanya keluar ketika lapar, mengantuk atau ingin buang air.

Konflik yang menarik

Menjadi menarik, karena konflik yang diciptakan oleh film ini adalah mengenai perusahaan Innovative Online Industries (IOI) sebagai penyedia alat pendukung OASIS yang harganya mahal dan membuat orang menghabiskan sisa uang dan bahkan mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk membayar keperluan rumah.

Belum lagi keinginan IOI untuk menjadi pemenang awal agar bisa menguasai OASIS dan memberlakukan peraturan atau menyediakan alat sebebas-bebasnya.

Pokoknya, IOI ini jeli memanfaatkan situasi dan momen ketika orang kecanduan dan akan melakukan segala cara agar bisa memenuhi hasrat bermain di OASIS.

Hiburan menarik

Iya, film ini masuk ke kategori hiburan menarik yang akan membuat me time atau kencan ayah dan bunda jadi seru. Enggak masuk kategori BAGUS SEKALI atau BRILIAN. Tapi, ini film sci-fi yang ringan dan menghibur. Dengan bonus cerita yang membuat saya, sebagai ibu-ibu, jadi tambah khawatir sama keberadaan gadgets hehehe..

Sekarang aja sudah begitu sulit membesarkan anak dengan kelekatan dan koneksi, pada orang tuanya, pada orang lain dan mahluk hidup di sekitarnya. Kita sudah terlalu terbiasa terkoneksi dengan benda, dan kini ditambah dengan layar. Padahal dengan seperti itu, yang terjadi adalah kebingungan menghadapi masa depan.

Lalu merasa terasing, tidak bisa berinteraksi dengan manusia lain, tidak mampu berempati, dan lalu mau gimana dong, kan kita enggak hidup di OASIS?

“I created the OASIS because I never felt at home in the real world. I didn’t know how to connect with the people there. I was afraid, for all of my life, right up until I knew it was ending.

That was when I realized, as terrifying and painful as reality can be, it’s also the only place where you can find true happiness. Because reality is real.” (James Halliday-Ready Player One)

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print