Previous
Next
9-agust-20.00-artikel-Rokok-dan-bayi-bukan-perpaduan-yang-ideal-1200x1200

Rokok dan bayi bukan perpaduan yang ideal!

Sebelum baca lebih lanjut, coba bayangin dulu deh kita sedang menggendong adik bayi lalu hendak masuk ke sebuah ruangan. Tiba-tiba ada tulisan “Peringatan: Ruangan ini terpapar setidaknya 4.000 jenis gas beracun. Beberapa diantaranya menyebabkan kanker dan penyakit paru. Sudah dipastikan amat berbahaya bagi pernafasan bayi!”

Mau masuk?

Nah inilah yang bayi kita dapatkan jika ibu atau ayah atau anggota keluarga lainnya merokok. Apapun alasan kita, betapapun sulitnya berhenti merokok, jika kita melakukannya saat memiliki bayi maka kita berutang seluruh dunia padanya. Sebab resikonya merupakan semua hal yang kita enggak inginkan kalau sampai kejadian pada anak kita. Apa aja sih? Ini kata the breastfeeding book tulisan dr William Sears:

Rokok menghambat pertumbuhan anak

Begitu banyak penelitian yang menunjukkan tingginya korelasi antara ibu yang merokok ketika hamil, dengan pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Kebanyakan anak yang lahir dari ibu yang tetap merokok ketika hamil biasanya lahir lebih kecil dan memiliki skor APGAR yang rendah. Bahkan ia cenderung tumbuh lebih mungil, mengalami kesulitan belajar, dan mengalami masalah perilaku ketimbang anak lain seusianya.

Rokok menyebabkan kehamilan beresiko

Ibu hamil yang tetap merokok, atau sering terpapar rokok, lebih beresiko mengalami kehamilan ektopik, plasenta previa, placenta abnormalities, bayi lahir prematu dan masalah pertumbuhan anak. Ketika ibu hamil tetap merokok, meningkatkan resiko kematian bayi ketika lahir sebesar 20 persen.

Rokok mengganggu pernafasan bayi

Kejadian terkait masalah pernafasan, seperti pneumonia, asma, infeksi telinga, bronchitis, sinusitis lebih sering terjadi pada anak yang terekspos asap rokok. Bahkan, asap rokok mreampas asupan oksigen pada bayi. Artinya, menyebabkan gangguan pada perkembangan otak yang mengontrol pernafasan

Rokok membahayakan jantung anak

Anak yang terpapar asap rokok, tak hanya mengalami masalah paru, namun juga jantung. Sebab, kadar HDL, atau kolesterol baik yang tugasnya melindungi tubuh dari penyakit jantung pada anak yang kerap terpapar asap rokok jumlahnya lebih rendah. Racun dari rokok pun menyebabkan masalah pada regulasi detak jantung anak.

Rokok menghambat ASI

Banyak penelitian membuktikan bahwa ibu menyusui yang merokok, produksi ASI nya rendah dan jarang mengalami “Milk-ejection reflex” yakni refleks tubuh membuat ASI turun deras dan mencukupi kebutuhan anak, yang timbul karena oksitosin melimpah. Yang lebih mengerikan adalah; ibu menyusui yang merokok memiliki konsentrasi jumlah nikotin di dalam ASI-nya yang tiga kali lebih tinggi ketimbang didalam aliran darahnya sendiri. Jadi anak, tidak hanya menghirup asap beracun namun juga menelannya.

Rokok mengganggu insting keibuan

Studi membuktikan bahwa ibu menyusui yang merokok dan terpapar asap rokok memiliki kadar prolaktin (hormon yang mengatur produksi susu dan instrument penting untuk kualitas dan jumlah ASI) yang rendah. Resiko ibu dengan kadar prolaktin rendah adalah mereka mengalami banyak kesulitan dalam mengasuh anakya, karena hal ini terkait dengan hormone yang mengatur instuisi seorang ibu.

Rokok meningkatkan resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

Orang tua yang merokok adalah salah satu alasan besar penyebab SIDS pada bayi. Apalagi jika keduanya merokok, maka resiko menjadi dua kali lipat lebih banyak. Padahal bayi yang terlahir dari seorang ibu yang merokok saja sudah meningkatkan resiko terjadinya SIDS lima kali lebih besar ketimbang bayi yang tidak terpapar asap rokok.

.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print