Previous
Next
Okt-7

Rumah bukan Gudang kenangan

Jika shopaholic mengalami hasrat tak terbendung untuk terus menerus membeli barang, meski tak diperlukan, maka yang satu ini serupa tapi tak sama. Bedanya, hasrat yang terjadi adalah keengganan membuang barang.

Cara mudah menilainya; coba deh, cek lemari atau rak di rumah Anda, berapa banyak barang yang sebenarnya sudah tak terpakai, tetapi Anda enggan membuangnya karena takut jika suatu saat barang-barang itu masih akan dipakai lagi?

Bila Anda gemar menumpuk barang, bisa jadi sebenarnya Anda menderita penyakit hoarding.

Penyakit hoarding, seperti dikutip dari Mayo Clinic, adalah perilaku sulit berpisah atau membuang barang. Keinginan menyimpan barang ini sangat kuat, tak peduli nilai barang tersebut.

Ciri Khas

Nah, harus diingat bahwa yang satu ini berbeda dengan kolektor. Para kolektor hanya akan menyimpan satu jenis barang tertentu, mengaturnya, memajang yang disukai, dan membuang yang tidak terpakai. Sementara itu, pada gangguan perilaku hoarding, segala hal disimpan, termasuk koran, majalah, hingga benda-benda yang terlihat tak berguna, misalnya serbet dari restoran.

Ciri khas lain dari penderita gangguan perilaku ini adalah kesulitan mengatur barang, memiliki interaksi sosial terbatas, dan merasa malu dengan perilakunya.

Buang!

Nah, kalau Anda belum separah itu, sebaiknya mulailah membuang barang. Cara paling mudah adalah mengingat apakah Anda pernah memakainya dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak, buang atau hibahkan saja pada yang membutuhkan. Berikut barang-barang yang seharusnya tak lagi disimpan:

  1. Hadiah Tak Terpakai
    Baru menikah dan dapat barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan? Sebaiknya jangan terus disimpan dan dibiarkan menumpuk di rumah. Jika bisa berilah ke orang lain atau dijual saja. Menurut Dr. Susan Bartell, koleksi benda itu bisa membuat Anda tidak bahagia karena perasaan tidak enak untuk membuang apalagi itu pemberian orang.2. Kenangan Masa Kecil
    Masa kecil yang bahagia memang sulit untuk dilupakan. Untuk itu, ada sebagian orang yang memilih menyimpan boneka atau mainannya hingga tumbuh besar. Padahal, menurut penulis Christina Waters, PhD hal tersebut bisa membuat Anda lelah secara emosi.
  2. Koleksi dan Hobi Terbengkalai
    Sebaiknya buang juga koleksi atau alat-alat hobi yang sudah tidak terpakai. Misalnya saja koleksi DVD yang sudah tak ingin ditonton atau atribut olahraga tak terpakai, tempat makan yang tak pernah digunakan, baju dan tas lama. Rasa tak bahagia biasanya datang karena rasa bersalah dan kekhawatiran.
  3. Barang Rusak
    Perhatikan deh, masih ada remote control lama, pulpen habis tinta, kaus kaki tanpa pasangan, sunblock kadaluarsa, sisa make up, payung patah, telepon seluler tua? Biasanya hal tersebut disimpan karena Anda menganggap jika barang itu masih bisa digunakan suatu saat dan rasa takut kekurangan barang. Padahal benda rusak bisa merusak energi dan membuat kesal karena perasaan perlu membetulkannya.

Manfaatkan lagi

Nah, jika Anda kreatif, bisa juga lho Anda memanfaatkan tumpukan barang dirumah itu untuk dibuat benda baru. Misalnya membuat kerajinan, frame dari kardus bekas, boneka dari kaus kaki, mainan anak dari tempat makan, dan sebagainya. Bukan hanya memanfaatkan barang tak terpakai dan membuat rumah jadi lebih rapi, namun juga bisa menjadi tambahan penghasilan jika dijual.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print