Previous
Next
7-Sept-20.00-Artikel-Psikolog-Cecil-1200x1200

Saat Ini Anak Banyak Bermain atau Belajar ?

Saat ini kita tentu sering mendengar kata “jaman now”, dan  ternyata tidak hanya untuk anak-anak yang bermain gadget saja sebutan “jaman now”. Disisi lain saya juga melihat fenomena bahwa anak jaman sekarang tiada hari tanpa kursus. Keseharian anak didominasi oleh kegiatan belajar dan belajar hingga sepulang sekolah mereka juga harus belajar lagi (kursus) sampai sore hari.  Hal ini tentu membuat anak-anak lelah, karena setelah setengah hari dihabiskan untuk belajar di sekolah, dan ketika pulang sekolah anak juga harus belajar kembali di tempat kursus. Begitu banyak jenis kursus yang diikuti oleh anak-anak, bahkan hampir setiap hari mereka ada -kegitaan kursus di berbagai tempat. Seberapa pentingkah kursus ini bagi anak-anak ?, dan apakah hal ini baik untuk perkembangan anak?. Selain itu, apakah dana yang dikeluarkan dan tenaga yang dihabiskan oleh anak untuk mengikuti kursus seimbang dengan waktu yang digunakan anak untuk bermain?. Menurut saya, tidak semua anak menyukai kursus karena tidak semua anak memiliki minat dan motivasi yang sama. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kursus yang diikuti anak merupakan obsesi atau keinginan dari orangtua.

Saya akan mengambil contoh dari anak yang pernah saya temui usianya baru sekitar 8 tahun. Namun, saat masuk SD ia mulai terlihat tidak tertarik dengan kegiatan belajar di sekolah. Guru dan lingkungan sekolah melihat anak sebagai sosok yang kurang bersemangat. Setelah ditelusuri ternyata anak sudah aktif melakukan kegiatan sejak usia dini, saat anak mengikuti pendidikan toddler, preschool, ia juga mengikuti kegiatan lain seperti kursus musik, calistung, olah raga dan bahasa lainnya. Tentunya hal ini bukanlah keinginan anak ya kan? dan merupakan keinginan dari orangtuanya. Terbayang, bukan? Di usia kecil anak ini sudah sibuk dengan kegiatan belajar dimana seharusnya ia masih bebas bermain sesuai dengan perkembangannya. Lalu, bagaimana sebaiknya? “apakah banyak mempelajari hal lain seperti kursus tidak baik untuk anak?”. Dari beberapa orangtua yang saya temui mereka menyampaikan bahwa ada keinginan supaya anaknya menjadi lebih pintar, adapula yang merasa cemas takut anaknya tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, dan alasan untuk membuat anak sibuk dan menghabiskan waktu hingga jam pulang kantor orangtua. Wah, terbayangkan betapa lelahnya anak dan dari anak yang saya temui ternyata kelelahan dan jenuhlah yang menjadi faktor utama anak yang saya temui menjadi kurang semangat saat belajar di tingkat SD.

Anak merasa kelelahan karena sudah banyak melakukan kegiatan belajar sebelum ia siap untuk melakukannya. Kita sebagai orangtua penting untuk menstimulasi perkembangan anak, dan memang usia golden age 0-5 tahun merupaka usia dimana anak menangkap segala sesuatu dengan cepat dan diibaratkan otak anak-anak pada usia ini bagaikan spons yang menyerap air. Tidak salah jika orangtua menginginkan anak belajar banyak hal, namun jangan lupa kita harus mempertimbangkan bahwa apa yang diajarka harus sesuai dengan kemampuan anak pada usianya. Disini saya akan contohkan, lebih baik tidak mengajarkan anak usia 3 tahun membaca, karena pada usia 3 tahun seharusnya anak baru mengenal berbagai macam bentuk sederhana (kotak, persegi panjang, lingkaran, dll) karena pengenalan bentuk dasar akan menjadi landasan anak untuk membedakan huruf dan menulis. Selain itu, perlu diingat juga bahwa sebelum mengikutsertakan anak dalam kegiatan seperti kursus orangtua harus mempertimbangkan minat anak terhadap kegiatan yang dilakukan. Jika anak kurang berminat lebih baik orangtua mempertimbangkan, dan menggali minat yang lain pada anak, karena pada dasarnya anak membutuhkan usaha dan proses untuk mempelajari hal baru.

Jadi, apakah dengan mengikuti kursus sudah dapat dipastikan anak menjadi semakin pintar? Hal ini dibergantung seberapa besar keinginan anak untuk mengikuti kegiatan tersebut, dan perlu diingat juga bahwa hak setiap anak adalah bermain. Jadi jika ingin belajar maka anak harus diimbangi dengan kegiatan bermain sehingga menjadi lebih mengasyikan dan juga tidak menjenuhkan bagi anak. Belajar sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan adalah hal yang baik, namun belajar dengan terlalu banyak dan tidak sesuai dengan kapasitas akan membuat anak merasa jenuh dan lelah. Jika saya boleh sarankan memberikan kursus tentunya harus disesuaikan dengan minat dan keinginan anak dalam belajar serta jangan lupakan bermain dan beristirahat karena kedua hal ini adalah bagian besar yang harus anak-anak dapatkan dengan cukup setelah mereka lelah belajar.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print