Previous
Next
Sadar-Keuangan-sejak-dini-mulai-dari-empat-hal-ini

Sadar Keuangan sejak dini, mulai dari empat hal ini

Kita semua dirumah pasti memiliki obeng. Ya, karena gunanya amat penting. Bisa untuk memasang baterai, bisa untuk memasang lemari, bisa untuk membenarkan letak rak gantung dan sebagainya. Tapi obeng bisa untuk menyakiti orang lain? Bisa.

Namun apakah karena hal ini, kemudian kita memutuskan untuk tidak memiliki obeng di rumah?

Begitu juga uang. Keberadaannya bisa menjadi alat untuk memerbaiki kehidupan banyak orang, namun demikian kalau berada di tangan yang salah tentu bisa membahayakan. Cara pandang seseorang mengenai uang dan penggunaannya ini amat penting untuk ditanamkan, dalam bentuk nilai-nilai kebaikan sejak dini.

Mulainya dari mana?

Orang tua

Tentu saja, sebab orang tua adalah guidelines setiap manusia dalam hal apapun. Karenanya, sikap kita terhadap uang umumnya pun dibentuk oleh Pendidikan kita waktu kecil, dan pada gilirannya kita juga akan memengaruhi sikap anak-anak kita.

Kalau terbiasa dibesarkan dalam keluarga yang hemat dan suka menabung, apalagi disertai kebiasaan berinvestasi, maka pola itu akan dibawa sampai dewasa. Begitu juga sebaliknya, kalau kita tinggal dalam keluarga yang mengabulkan semua keinginan, kita mungkin akan menjadi orang dewasa yang menghabiskan uang tanpa berpikir Panjang.

Tidak ada Batasan usia untuk mengajarkan pembiasaan keuangan yang baik bagi anak. Semua bisa dimulai sejak sangat dini, lewat contoh perbuatan. Nilai dan perilaku kita diamati dan diserap oleh anak. jika tindakan kita tidak konsisten dengan yang dikatakan, mereka akan mengabaikan apa yang diajarkan dan hanya mengikuti yang kita lakukan.

Orang tua adalah teladan anak dalam penggunaan, pengeluaran dan penganggaran uang, serta cara kita memandang kekayaan.

Sekolah

Pernah kan mendengar program anak sekolah menabung ke bank? Ketika rombongan anak-anak kecil datang ke bank, dan membuka rekening tabungan dengan menyetorkan sejumlah uang-yang kebanyakan berasal dari celengannya. Hal ini adalah salah satu pengalaman mengesankan yang menanamkan sebuah nilai mengenai pentingnya menabung.

Kini juga banyak deh sekolah-sekolah yang rutin membuat “Market Day” ketika anak harus membawa hasil karya, masakan atau minuman yang dibuatnya, untuk dijual di sekolah. ini adalah kelas bisnis paling mendasar pada siswa. Meski biasanya anak kecil belum “ngeh”, namun kebiasaan dan nilai yang diajarkan mengenai “Uang datang setelah bekerja” adalah hal yang amat baik.

Teman-teman

Internet dan jejaring medsos memudahkan anak untuk memengaruhi serta dipengaruhi, bahkan bisa saja tak terawasi. Apalagi anak-anak dengan usia yang sudah lebih besar. Inilah mengapa peran orang tua amat penting untuk membekali anak dengan kemampuan untuk berpikir dan mengevaluasi diri, termasuk pandangan mereka mengenai materi.

Pengaruh tekanan lingkungan dan teman bisa jadi baik, tetapi bisa pula buruk. Persaingan untuk menjadi juara, bisa jadi hal baik jika dilakukan dengan adil dan sportif. Namun bersaing menjadi yang terkaya dalam kelompok main, memiliki tas yang paling mahal atau paling sering jalan-jalan ke luar negeri, tentu saja negatif.

Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai perkara uang sejak dini. Bahwa kualitas teman tidak bisa dinilai dari apa yang mereka pakai atau beli. Atau anak dan temannya sesungguhnya sama-sama belum punya penghasilan. Jadi apapun yang dipakainya adalah penghasilan orang tua. dan tentu saja menanamkan rasa percaya diri, meski berbeda, tak berarti ia lebih buruk.

Media

Inilah tantangan terbesar abad ini. Soalnya, baik sekolah maupun teman anak masih bisa dikontrol. Namun media? Seiring usia bertambah, maka akan bertambah pula kesukarannya. Satu-satunya yang bisa dikontrol adalah dengan membatasi penggunaan gawai, dan layar pada anak. atau tidak membiarkan ada gadget/televisi dalam kamar.

Karenanya, kembali lagi pada nilai yang ditanamkan kepada anak sejak dini. Memersiapkan mereka lebih awal serta membimbing mereka sehingga terlatih untuk menjadi bijak dan bisa memilah apapun yang dilihat, dengar serta baca. Karena kita enggak bisa kan mengunci anak di rumah selamanya?

**

Membesarkan anak itu layaknya menanam pohon. Pohon dengan akar yang dalam akan mampu menahan angin. Akar terdalam bagi anak adalah keluarga. Inilah bekal mereka untuk menguatkan fondasinya, agar ia tumbuh menjadi manusia yang percaya diri serta mampu mengatasi pengaruh apapun dari luar.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print