Previous
Next
4th_of_july

Sapih ASI; bukan mengganti ASI dengan susu sapi.

By: Dr Arifianto SpA
Banyak sekali orangtua yang mengganti kebiasaan anak minum ASI dengan susu sapi. Kalau biasanya sebelum tidur menyusu langsung kepada ibunya, ketika hendak sapih maka diganti dengan minum susu sapi.
Sebetulnya bagaimana mengenai hal ini? Dr Arifianto SpA sudah pernah membahasnya. Bahwa, ketika seorang anak sudah berusia di atas satu tahun, maka susu (baik air susu ibu maupun susu sapi) bukanlah makanan utamanya, melainkan hanya tambahan.

Hal terpenting adalah orangtua memahami konsep makan, yaitu dalam satu sajian terdiri atas karbohidrat, protein (dan kaya zat besi), sayur-mayur, dan buah-buahan, dalam porsi yang kurang lebih seimbang antara keempat bahan pangan ini. Susu melengkapinya, dalam jumlah yang tidak melebihi 500 mililiter atau 2 gelas dalam seharinya.

Tidak ada kebutuhan minimum mengonsumsi susu!
justru yang ada adalah jumlah maksimum susu yang bisa diminum. Mengapa demikian? Susu dibutuhkan oleh anak, terutama untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D, yaitu sekitar 700 miligram kalsium dan 600 international units vitamin D dalam sehari. Susu dianggap memenuhi sebagian besar kebutuhan kedua zat gizi ini.
Anak jadi malas makan

Sayangnya, susu juga mengandung lemak. Artinya, konsumsi susu berlebih dapat menyebabkan berlebihnya asupan lemak pada anak.
Kelebihan susu akan menyebabkan anak menjadi kenyang, akibatnya anak relatif malas makan. Banyak orangtua mengeluh pada saya: “Anak saya susah makan! Bagaimana mengatasinya? Kasih vitamin?” ketika digali, saya tanya: “anaknya minum susu?” Jawaban orangtua: “iya, banyak susunya.”

Ya iya lah, anaknya sudah kekenyangan susu. Jadi wajar saja tidak mau banyak makan. Jadi, supaya anaknya mau makan, gimana? Ya kurangi susunya! Buatlah ia lapar, supaya mau makan. “Nanti anaknya ngamuk kalau nggak dikasih susu?”

Pasti butuh waktu dan perjuangan. Karena tidak sedikit yang justru “tersesat” dengan pandangan: kasih susu supaya anaknya mau makan. Susu tinggi kalori hanya untuk mereka atas indikasi khusus yang ditentukan dokter.

Mengurangi penyerapan zat besi di usus
Dampak negatif lainnya, mengurangi penyerapan zat besi di usus sehingga berisiko membuat anak mengalami anemia akibat kekurangan (defisiensi) zat besi. Untuk itu, pilihlah sumber makanan lain yang tinggi kalsium, misalnya kacang kedelai, kacang merah, produk susu lain, seperti keju, yoghurt, dan brokoli.

Masalah lainnya karena susu?
Karies gigi. Ini jelas sekali, yaitu adanya “baby bottle caries”, dan karies rampan. Minum susu dan minuman manis lainnya menggunakan botol dot, sampai anak tertidur dengan dot di mulutnya, dan tidak gosok gigi lagi. Wah, lengkaplah penderitaan.

sembelit atau konstipasi akibat kebanyakan susu. Begitu jumlah susunya dikurangi, sembelit langsung teratasi. Sambil menjaga asupan serat dari sayur dan buah secara cukup.

Jadi ingat: ketika sudah tidak memberikan ASI lalu memberikan susu, maka alasannya BUKAN menggantikan ASI ya, tapi mendapatkan kebutuhan kalsium dan lemak asalkan tidak berlebihan dan berdampak buruk. Misalnya lagi menjadi #sembelit akibat milk overfeeding, dan tentunya… pengeluaran rumah tangga meningkat.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print