Previous
Next
def pic

Semuanya Berawal Dari Rumah


Saya seringkali dengar komentar seperti ini dari para klien yang saya temui di ruang praktek “iya nih, mbak, kalau lagi ngambek..persis kayak bapaknya” atau “marahnya itu loh, khas ibunya banget, mbak!” Sayapun juga merasakan hal yang sama dengan keponakan saya. Saat marah, ia akan mengeluarkan suara seperti erangan yang ternyata ia contoh dari kakeknya (hebat ya anak kecil itu, bahkan meniru dari hal sekecil ini!). Dari pengalaman tersebut cukup bisa membuktikan ya ayah, bunda ternyata pernyataan children see, children do bisa jadi tepat. atau istilah yang sering kita dengar dari jaman dahulu “buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” , ada benarnya juga. Kok bisa ya seperti ini? Karena siapa lagi contoh pertama yang akan anak lihat kalau bukan orangtuanya? Orangtua adalah model pertama bagi anak. Bagaimana anak berperilaku, bersikap, memiliki karakter yang baik ataupun buruk, semua tergantung orangtuanya. Ditambah, anak di usia dini lebih mudah belajar dengan suatu hal yang konkret. Ia akan lebih mudah menyerap informasi yang diperagakan secara langsung dibandingkan hanya melalui suatu yang abstrak (melalui ucapan verbal, misalnya). Sering mengalami nggak ayah bunda, ketika si kecil kita kasih tahu satu kali, besok masih diulangi lagi? Hehe jadi lebih baik langsung berikan contoh nyata dibandingkan hanya dengan kata-kata. Misalnya, kita ingin anak kita jadi anak dermawan maka berikan contoh nyata kalau orangtuanya juga senang berbagi kepada yang membutuhkan. Ingin anak bisa kontrol emosi saat marah? Orangtua perlu mencontohkan bersikap tenang saat si kecil sedang tantrum. Susah susah gampang ya? 😀

Selain itu,  anak di usia dini sangat mengagumi orangtuanya. Apapun yang diucapkan oleh orangtuanya, akan “ditelan” bulat bulat. Kalau orangtua bilang “kamu anak pintar!” anak akan percaya 100% bahwa ia memang anak pintar. Begitu juga sebaliknya, kalau kalimat negatif yang ia dengar tentang dirinya, maka akan tertanam menjadi bagian dari evaluasi dirinya bahkan sampai dewasa. Sedih ya? ☹ oleh karena itu, bersama dengan tulisan ini, saya ingin mengajak orangtua bersama-sama, untuk mulai menciptakan lingkungan yang positif bagi anak, dimulai dari rumah. Karena, semuanya memang berawal dari rumah. Kalau kata psikolog anak, Dr. Laura Markham, orangtua adalah kunci utama yang dapat mengembangkan roots (akar) dan wings (sayap) dalam diri anak. Bagaimana caranya? Roots akan tumbuh dengan cinta dan limpahan kasih sayang tanpa syarat dari orangtua. Wings akan berkembang ketika orangtua memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, agar merasakan keberhasilan atas usahanya sendiri. Ketika dua kebutuhan utama ini terpenuhi, anak tidak akan lagi mencari kasih sayang ke “tempat” yang salah. Anak akan fokus mengembangkan potensi terbaik dari dirinya, bukan lagi sibuk meminta cinta dan perhatian dari orang di sekitarnya. Menariknya lagi, ada sebuah percakapan yang saya kutip dari buku  “How To Talk So Teens Will Listen And Listen So Teens Will Talk” karya Adele Faber dan Elaine Mazlish, seorang bapak yang bertanya “bagaimana caranya melindungi anak anak kita dari bahaya yang lebih besar, seperti seks bebas dan narkoba?”. Jawaban yang menarik yang saya dapatkan : “ Yang bisa menahan anak dari arus pergaulan negatif adalah ikatan emosional antara anak dan orangtuanya. Mengapa? Karena ia akan lebih takut mengecewakan kedua orangtuanya ketika ikatan tersebut terjalin kuat, dibandingkan mengikuti arus pergaulan itu”

Jadi, sudah siap memulai dari rumah? Semangat yaa ayah dan bunda!

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print