Previous
Next
binky-3-web

Si Kakak yang Istimewa

Sometimes your heart needs more time to accept what your mind already knows.

Siang itu, saya duduk menikmati makan siang di sebuah tempat yang nyaman Bersama dengan seorang teman. Saya yang memintanya bercerita, hari itu. Saya memintanya bercerita mengenai sesuatu yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini. Iya, saya ingin mendengarkan sebuah kisah mengenai putri pertamanya, si kakak.

Kakak yang istimewa.

Kami menghabiskan awal pembicaraan dengan kisah-kisah dari akal cerdas dan pengetahuan luasnya mengenai ilmu tumbuh kembang, mengenai anak spesial, mengenai anak berkebutuhan khusus, mengenai dokter, mengenai psikolog anak, mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis dan terapi.

Saya mendengarkan dengan seksama. Saya mendengarkannya bercerita dari akal, dan menanggapinya juga dengan akal.

Akalnya sudah mengenal

Hingga akhirnya saya menyadari bahwa akal cerdasnya sudah mengetahui segala titik, semua celah dan seluk beluk anak pertamanya yang kini nyaris 7 tahun usianya. Ia mengenal betul anaknya, dan ia tahu apa yang terjadi. Ia tahu, ia sadar betul bahwa ia dianugerahi sebuah hadiah besar; anak yang spesial

Anak yang cerdas, dan mampu memahami suatu dunia yang kita tidak mengerti. Seperti Temple Grandin yang memahami suara hewan jauh lebih baik dari siapapun, hingga bisa menghasilkan begitu banyak karya untuk kehidupan hewan dan bahkan manusia yang lebih baik.

Anak yang disiplin, punya keteraturan dan pattern yang terus sama seperti seniman Andy Warhol, yang karyanya hingga kini masih terus dikenal dunia. Atau seperti Emily Dickinson, yang puisi-puisi indahnya hingga kini masih sering dikutip, dan dikenang orang.

Asperger’s syndrome.

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang Asperger. Entah mengapa dunia begitu takut pada sesuatu yang berbeda. padahal Tuhan sudah menciptakan kita semua berbeda, bahkan menyatakan bahwa semua itu dicipta agar kita saling menyayangi dan saling mengisi. Saling memberi pelajaran dan agar tumbuh kebersyukuran.

Berusaha untuk menerima

Teman saya ini, adalah seorang ibu dari dua anak. Ia juga menjalani profesi sebagai psikolog. Ia mengakui bahwa dirinya sempat merasa amat kaget dengan diagnosa tersebut. Sebagai manusia biasa, ia sempat melalui masa-masa berat untuk menerima, menyalahkan dirinya, memertanyakan kesalahan apa yang pernah diperbuatnya, hingga merasa gagal.

“Gue enggak mikir sampai kesana. Gue Cuma berpikir anak gue speech delay, dan dia sudah terapi. Meski memang enggak pernah ada progress yang signifikan pada perkembangannya. Tapi gue bener-bener enggak kepikiran sampe kesana,” tuturnya.

Meskipun kini ada sebersit lega di hatinya, karena akhirnya mengetahui apa yang terjadi. Meskipun akalnya sudah memahami segalanya, namun hati-nya belum juga bicara. Hati-nya belum berani melangkah. “Di mulut gue udah bisa bilang oke, tapi di hati sebenarnya belum…” ujarnya.

Saya tersenyum mendengarnya. Kita semua pasti pernah mengalami hal ini, bukan? Ketika akal sudah menerima, namun hati butuh lebih banyak waktu untuk melakukannya.

Masa depan si kakak

Apalagi kalau sudah berkaitan dengan kekhawatiran. Disinilah hati tidak bisa dipertanyakan “So, what’s next?” sebagai langkah menuju solusi. Karena rasa khawatir tidak selalu bisa dikendalikan, layaknya akal.

Teman saya kembali menuturkan betapa ia merasa was-was akan masa depan anaknya. Apa yang akan terjadi, jika Tuhan mengakhiri hidupnya dan tugasnya sebagai ibu. “Bagaimana dia nantinya? Bisakah dia survive tanpa ibunya? Dia kepengen jadi dokter, tapi bagaimana dia akan menghadapi pasien nantinya? Apa yang akan terjadi dengan masa depannya?” kata dia.

Bicara dengan hatinya

Akhirnya saya memuskan untuk bicara dengan hatinya. Ketika air mata mulai menetes, saya tahu, ucapan berikutnya muncul dari hati, bukan dari akal. “Gue sebetulnya bersyukur sekali dikasih dia. Gue percaya, melalui dia, Allah memberi sesuatu. Kalau enggak ada dia, mungkin gue gak akan pernah tau bahwa hidup ini harus teratur, misalnya. She’s truly a big bless for me,” katanya.

Iya, pasti. Benar kan bahwa Tuhan memberikan kemampuannya dulu, baru ujiannya?

Saya sih percaya, dia, Binky Paramitha, pasti bisa menjadi ibu yang terbaik untuk Alaula, si kakak yang istimewa. Ia pasti bisa membesarkan seorang putri spesial yang sehebat Temple Grandin, nantinya.

Semoga dunia semakin ramah

Do’a saya satu, semoga dunia semakin hari akan semakin ramah kepada mereka yang berbeda. Semoga kita semua, warga dunia, semakin hari semakin bisa menerima bahwa arasy Tuhan bukanlah pabrik mesin cuci yang menghasilkan produk serupa setiap waktunya.

Semoga mereka yang spesial ini, semakin hari semakin mendapatkan tempat di hati siapapun. Sehingga tak ada lagi air mata yang perlu jatuh dari mata seorang ibu yang dikaruniai anak-anak yang istimewa. Tak ada lagi kekhawatiran akan masa depan, hanya karena anaknya berbeda.

“I am  different, not less…” (Temple Grandin)

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print