Previous
Next
4th_of_july

Situasi Depresif; #AbisLahiran di Negara Orang

Menjalani hidup berumah tangga dan memiliki anak di negeri sendiri, dengan banyak bala bantuan dari keluarga, teman dan bahkan orang-orang yang bisa bekerja untuk kita, rasanya kerap melelahkan.

Apalagi jika pada akhirnya memutuskan untuk menjalani kehidupan tersebut di negeri orang. Dari mulai kerabat hingga Bahasa bisa jadi kendala.

Seorang ibu, Namanya Princess Grace Kamila Noer, mengalami sebuah kondisi yang Namanya baby blues. Iya, situasi yang terjadi persis setelah melahirkan putri pertamanya, di Jepang. Rasa surreal yang dihadirkan di hadapannya, bukan kebahagiaan seperti yang diceritakan mengenai kelahiran anak.

Pentingnya Mengatur Rencana Masa Depan

Sebetulnya, Grace sudah tinggal di Jepang selama dua tahun untuk belajar, sebelum menikah. Tetapi situasi dari lajang dan mahasiswa menjadi menikah dan belum bekerja, ternyata beda banget.

“Sebetulnya sudah ada bayangan bahwa menetap di Jepang Bersama suami artinya jauh dari keluarga, teman dan bahkan enggak akan mudah punya tetangga yang akrab,” kata Grace. Iya, tapi Cuma itu yang ia tahu, enggak ada bayangan detil mengenai situasi berkeluarga di Jepang.

“Jujur saja karena dari awal saya tidak benar-benar punya rencana yang detil tentang melahirkan di Jepang, saya juga jadi minim ekspektasi mengenai menjadi ibu.

 

Saya tidak meromantisasi kondisi menjadi ibu itu bagaimana, apalagi kondisi saya baru mulai bekerja dan menikmati pekerjaan saya. Tapi saya bahagia ketika tahu saya hamil dan menerimanya dengan suka hati.

 

Selain tidak meromantisasi dan memiliki ekspektasi yang tinggi, saya juga tidak memperhitungkan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Ini adalah kesalah terbesar saya. Mencoba untuk “do as things go” tanpa persiapan yang matang benar-benar membuat saya terkaget-kaget dengan situasi menjadi ibu baru.

 

Walau sumber informasi banyak, tapi saya tidak juga mencari tahu secara detil sebelum melahirkan; pokoknya jalani saja dulu, belajar sembari berjalan. Hal inilah yang membuat saya cukup kewalahan dengan adanya perubahan dalam hidup saya setelah melahirkan,” pungkas Grace.

 

Jadi, enggak bahagia?

 

Menurut Grace, Perasaan awal adalah surreal. Bukan bahagia yang meletup-letup, bukan sedih, hanya merasa seperti tidak nyata. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya informasi dan kesiapan saya untuk menjadi ibu baru.

 

“Saya kira setelah melahirkan saya bisa lebih santai sedikit, badan saya bisa jadi lebih bebas bergerak, tubuh saya bisa jadi milik saya sendiri lagi, saya kira saya bisa tidur lebih pulas karna sekarang bisa tidur dengan posisi manapun yang saya mau, saya kira setelah melahirkan semuanya lebih mudah. Iya, saya naif sekali.”

 

Problematika awal yang amat mendasar: ASI

 

Sessat setelah melahirkan, Grace dipaksa pergi ke ruang menyusui tiap 2 jam sekali. Tapi, bayinya tidak bisa latching dengan sempurna dan karena takut kurang asupan ASI, akhirnya ia menambahkan dengan susu formula yang disediakan RS untuk keadaan terpaksa.

 

“Saya mencoba pumping dengan tangan, tapi susah sekali dan melelahkan. Berujung dengan waktu di RS dihabiskan di ruang menyusui (bayi tidak boleh room in). Sampai ada titik ketika saya lelah sekali, tidak paham kenapa saya tidak bisa sebentar saja beristirahat…”

 

Pulang dari RS, dikira semuanya akan lebih mudah. Dengan kondisi kelelahan, kaget dengan situasi yang di luar bayangannya, anak yang kurang ASI karena belum bisa latching, membuatnya menjadi tidak bisa menikmati menjadi seorang ibu.

 

Akhirnya ia merasa tidak siap menjadi ibu yang menyusui. Ia tidak menyangka bahwa menyusui itu sulit, bahwa menyusui itu berarti memberikan badan 24/7 untuk si bayi. Dan bayi belum tentu bisa menyusui dengan lancar pada usia awal.

 

Upside down

 

Kehidupan yang membuat Grace merasa terbolak balik itu berlangsung selama beberapa bulan. Dari yang enggan menyusui anaknya, mengalami mastitis, penuh benci, galau, dan berbagai jenis perasaan yang hilang dan timbul dengan ekstrem.

 

Tapi ia berhasil kok. Iya, katanya, “Untuk keluar dari perasaan kesepian, ketidakberdayaan saya di hadapan bayi saya (cannot always control the baby, mostly the baby controls me!), saya baca banyak forum di internet. Forum ibu-ibu baru yang juga melewati masa tidak bahagia, saya juga berkomunikasi dengan teman saya yang juga saat itu anak pertamanya seusia dengan anak saya.”

 

Pelan-pelan ia bisa menerima identitas baru dan konsekuensinya, tanpa berusaha menghilangkan dirinya yang lama. Pelan-pelan ia pun mulai bisa melihat bahwa putri sulung ini adalah bagian dari dirinya.

 

Terima bantuan!

 

Things dont have to be always perfect. We are not perfect,” kata Grace. Persis seperti kata psikolog Klinis, Nadya Pramesrani. Yang bisa kita lakukan untuk membantu ibu yang berada dalam siituasi depresif adalah bertanya “Apa yang kamu butuhkan?”

 

Kalau kita yang berada dalam situasi depresif, JANGAN MENOLAK TAWARAN ITU YA! Terima lah dengan senang hati. Kita mahluk sosial, kita butuh bantuan. Meski itu hanya mengobrol atau sebuah pelukan.

“Jika situasinya jauh dari kerabat dan keluarga seperti saya, maka cari tahu fasilitas yang bisa digunakan yang tersedia,” tambah Grace.

 

Dan Grace menutup semua kisahnya dengan sebuah mantra yang hakiki; This too shall pass. SEPAKAT!

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print