Previous
Next
okt-3

Stop. Jangan Nangis!

Siapa yang tahan dengar tangisan bayi? Enggak? Iya, wajar kok. Tapi, ternyata nasib menjadi orang tua, salah satunya adalah; harus mampu menerjemahkan tangisan bayi. Duh!

Disaat seperti ini lah, biasanya setiap orang tua berharap anak lahir lengkap dengan buku petunjuk penggunaan, bukan? Karena kita selalu kesulitan mencari tahu, apa arti tangisannya, dan harus melakukan apa saat ia menangis. Karena itu, banyak orang tua yang akhirnya menyerah dan meminta anak untuk diam lalu berhenti menangis. Tak jarang yang akhirnya naik pitam.

Menurut psikolog anak, Devi Sani M.Psi, Psikolog, dari Klinik Rainbow Castle, menangis adalah Bahasa bayi. Jadi hal penting yang harus diingat oleh orang tua adalah;

Setiap anak yang sehat pasti menangis.

Ini adalah cara bayi mengekpresikan perasaannya dan ia harus diperbolehkan untuk menangis. Jadi, daripada menghentikan tangisan anak dengan mengalihkan perhatian, lebih baik kita mencari tahu mengapa ia menangis.

Menangis bayi, ujarnya, berbeda dengan menangis orang dewasa. Bagi bayi, menangis lebih untuk ekspresi diri atau untuk menghabiskan tenaganya. Oleh karena itu, dari pada mencoba mendiamkan bayi saat menangis, lebih baik mengatakan: “kenapa? Iya mama dengar kamu nangis” atau “Dede mau apa? Mau makan?”

A Good Cry

Tetapi, jika kita belajar menikmati tangisan bayi dan mendengarkannya, seiring berjalannya waktu, kita akan membangun toleransi akan tangisan bayi dan paham kenapa bayi menangis. Jika kita menyuruhnya diam maka sama saja kita mengatakan pada bayi: “Jangan ngomong, saya gak tertarik sama apa yang kamu bicarakan” atau “Jangan ceritain ke saya apa yang kamu rasain”. Duh sedih ya?

Berdasarkan penelitian, menangis merupakan cara kita untuk menyembuhkan diri kita. Dengan menangis, tubuh berubah setelah menangis. Tubuh menjadi berkurang ketegangan dan lebih rileks, istilahnya A good cry.

Bukan membiarkan bayi menangis sendirian

Namun, mendengarkan bayi menangis bukan berarti membiarkannya menangis sendirian, lho. Menurut William Sears, M. D., membiarkan bayi menangis sendirian, selain berakibat buruk pada bayi, membiarkan bayi terus menangis sendirian juga membuat orang tua melawan intuisi dasar yang ia miliki untuk segera merespon tangis.

Jika dibiarkan, lama kelamaan orang tua bisa menjadi tidak peka terhadap ‘bahasa’ yang diberikan oleh bayinya.

Menurut Sears, Ketika bayi menangis, secara biologis tangisan itu akan mempengaruhi tubuh orang tua dan menimbulkan emosi yang sangat kuat untuk segera bertindak. Secara naluriah, orang tua akan bergegas mencari tahu apa yang terjadi, atau apa yang dibutuhkan bayinya. Sesuatu yang alamiah ini sebaiknya tidak diabaikan, karena itu sama artinya dengan mengabaikan kebutuhan anak. Jangan heran jika suatu saat nanti kita justru akan terpaksa menghadapi ‘pemberontakan’ anak akibat perasaan tidak dipedulikan.

Lalu bagaimana?

“Sebaiknya, dengarkanlah suara hati Anda,”

saran Dr. Sears. Bila Anda merasa perlu bergegas menanggapi tangisan bayi karena ia memang membutuhkan sesuatu yang mendesak, lakukan segera! Sebaliknya, Anda boleh menunda sebentar ‘panggilan’ si kecil jika Anda tahu sebenarnya ia baik-baik saja.

Sementara, menurut Devi, cara efektif bereaksi terhadap tangisan:

  • Menghadapi dengan Lembut dan tenang
  • Perlahan dan katakan ”Dede nangis, kenapa?”
  • Cek kebutuhannya dasarnya sudah terpenuhi atau belum (popok, makan, minum, baju yang enak, suhu udara, dll)
  • Kalau sudah semua, bisa mulai menggendong bayi perlahan
  • Bicara dengan nada lembut tanpa mengayun terlalu kencang

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print