Previous
Next
Infografis-Stop-Siblings-Rivalry-01

STOP SIBLING RIVALRY!

  1. Gendongan itu penting: Bayi punya kebutuhan untuk menempel pada orang tua lebih banyak ketimbang yang sudah besar. Namun, kalau terus menerus fokus ke bayi maka kakak akan terlupakan. Maka, gendongan to the rescue! Sambil menggendong, ibu bisa lho tetap bermain dan menemani kakak.
  2. Selalu ada “Special Time”: ingatlah untuk selalu menyebutkan; “Ini special time bunda/ayah buat kakak” setiap kali ayah mengajak kakak bermain bola di taman dan makan es krim berduaan. Atau ibu memeluk kakak lebih lama di pagi hari sambil bermain kelitik-kelitikan, tanpa memegang adik.
  3. Kakak; bagian penting dari hidup adik. Begitupun sebaliknya. Tidak ada kakak dan adik yang terlahir sebagai musuh, kecuali diizinkan oleh orang tuanya. Dengan mengajak kakak dan adik menjadi sahabat, dan menjadi saensitif satu sama lain merupakan bekal cinta mereka. Dan bahkan akan dibawa masing-masing anak untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain diluar keluarga.
  4. Kunci utama: belajar empati. “Kalau ingin orang lain berbuat baik padamu, lakukan hal-hal baik” bantulah anak-anak untuk membesarkan rasa empati dan melihat persoalan dari kacamata orang lain. Pikirkan dengan matang, sebelum melakukan sesuatu. mulailah hal ini dari hal terkecil; hubungan antar saudara.
  5. Setiap anak setara, bukan sama persis. Setiap anak unik dan berbeda, jadi enggak perlu diperlakukan sama persis. Adil bukan berarti memerlakukan semuanya sama. Bayangkan, jika ayah dan bunda harus menemani setiap anak tidur di waktu bersamaan dengan durasi yang sama setiap malam. Tentu yang sudah lebih besar sudah tidak membutuhkan perlakuan yang sama dengan yang bayi, bukan? Ingat, kita membesarkan anak untuk hidup ditengah kenyataan, yang tidak adil dan sama persis. Mereka harus memahami porsinya masing-masing.
  6. Setiap anak adalah favoritnya ayah dan bunda. “Ayah dan bunda menyayangi kalian dengan cara yang spesial” atau “Kamu kan anak pertama bunda, dan enggak ada lagi yang bisa jadi anak pertama bunda!” (katakan juga ke anak kedua dan selanjutnya). Adalah jawaban yang terbaik untuk pertanyaan “Ayah dan bunda lebih sayang sama siapa sih?” Sebab setiap anak berbeda, dan kita pasti menyayangi mereka semua dengan cara yang berbeda-beda pula, bukan?
  7. Stop membanding- bandingkan. Berikan pujian kepada setiap anak sebagai pencapaiannya atas dirinya sendiri, dan bukan karena ia berhasil mengungguli saudaranya. “Wah nilai kamu lebih bagus daripada pekan lalu, hasil dari belajar keras kemarin ya? Hebat!” bukannya “Wah nilai kamu lebih tinggi daripada kakak, hebat!” atau “Kok nilai kamu enggak sebagus kakak sih?” kehidupan diluar rumah sudah penuh dengan persaingan, dan melelahkan. Jadikanlah rumah sebagai tempat ternyaman yang tidak membuatnya harus bersaing, dan justru bekerjasama sebagai tim.
  8. Khawatir? intervensi saja! “Nanti juga kalau sudah besar, jadi akur-lah!” sering denger? Studi membuktikan sebaliknya. Kakak dan adik yang tidak bisa membina hubungan baik, lebih sering tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak mampu membangun hubungan baik. Mereka yang diizinkan bertengkar, akan tumbuh menjadi tukang berantem ketika dewasa. Konflik diselesaikan, bukan didiamkan.
  9. Dengarkan cerita kedua belah pihak. Iya, cover both sides. Kalau masih marah, tenangkan dulu lalu ajak duduk Bersama untuk bergantian menceritakan kronologis pertengkaran. Tunjukkan bahwa kita berempati, dan acknowledge perasaan masing-masing kakak dan adik, namun ayah dan bunda hadir untuk membantu menyelesaikan masalah.
  10. Saudara kandung=hubungan seumur hidup. Blood is thicker than water. Kakak dan adik adalah support system untuk satu sama lain. Maka tanamkanlah hal ini sejak dini. Saudara kandung adalah sahabat seumur hidup. Ketika semua teman sudah tidak satu sekolah, tidak tinggal berdekatan, saudara kandung akan selalu ada. Friends come and go; siblings are forever.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print