Previous
Next
Stunting-Bukan-Hanya-Masalah-Kemiskinan-1200x583

Stunting bukan hanya masalah ‘Kemiskinan’

Rabu (24/1) kemarin, kami dapat undangan menghadiri sebuah acara bincang-bincang yang SERU BANGET!! #NgobrolTempo bareng Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia). Judulnya “bibit unggul untuk Indonesia hebat: Mencegah Stunting, meningkatkan daya saing bangsa” menarik kaaann…

Nah, dari obrolan yang berlangsung dua jam itu, ada beberapa hal yang bisa dibagi. Salah satunya adalah stunting, atau kurang gizi kronik itu tidak hanya dialami oleh mereka yang kemampuan finansialnya rendah. Namun juga bisa dialami oleh semua anak, lho. Karena, stunting bukan masalah kurang makan aja, tapi lebih sistemik dari itu.

Stunting; masalah mendasar pembangunan

Bapak Yanuar Nugroho, deputi II Kepala Staf kepresidenan yang juga menjadi pembicara di acara ini dengan tegas menyatakan bahwa stunting adalah masalah mendasar pembangunan. Jadi stunting bukan serangan mendadak, atau wabah seketika. Stunting adalah manifestasi dari struktural. “Persoalan sistemik dalam menjalankan pembangunan,” ujarnya.

Iya, jadi 9 juta balita Indonesia yang kini mengalami stunting adalah hasil dari bertahun-tahun masyarakat kita menjalankan gaya hidup yang tidak sehat, dan tidak sesuai dengan standar untuk pemenuhan gizi. Turun temurun, dan dibiarkan.

Stunting; tentang perilaku dan prioritas

Menanggapi hal ini, bapak Iing Mursalin, direktur proyek kesehatan dan gizi berbasis masyarakat untuk mencegah Stunting dari MCA-Indonesia menambahkan bahwa terjadinya stunting juga karena perilaku atau kebiasaan masyarakat dan prioritas yang salah.

Misalnya, kata Pak Iing, banyak di daerah yang rumahnya mewah, alat-alat elektronik lengkap dan bagus, namun kakusnya enggak bikin. Jadi masih diluar, atau di sungai. Bahkan ada juga mitos yang beredar bahwa orang hamil enggak boleh makan cumi-cumi, nanti bayinya terlilit. Padahal sumber protein hewani (tentu saja yang segar dan baik) sangat baik untuk mencegah terjadinya stunting.

Jadi stunting, bukan hanya mengenai orang miskin saja. Justru mengenai kebiasaan makan, kebiasaan kebersihan, dan prioritas yang gak keruan.

Stunting; waspada ‘pencuri’!!

Bapak Fasli Jalal, Pakar nutrisi yang juga dewan Pembina perhimpunan dokter gizi medik Indonesia (PDGMI) bilang bahwa stunting itu bukan hanya karena kemiskinan, namun karena ‘pencuri’ gizi tubuh anak.

Misalnya cacing, infeksi. Anak kalau terlalu sering sakit, tentu saja membutuhkan makanan bergizi yang lebih banyak untuk recovery. Padahal kalau sakit, jadi enggak nafsu makan. Dan kalau makanan yang dimakannya kurang bergizi, anak juga jadi mudah sakit. “Layaknya lingkaran setan,” kata Pak Fasli.

Sanitasi yang tidak menjadi prioritas itu juga beresiko menyebabkan infeksi dan cacingan. Ini jadi lebih bahaya lagi. Dan ini tidak hanya terjadi di kalangan menengah kebawah, toh?

Stunting; bukan dari kemiskinan, tapi bisa menyebabkan kemiskinan

Dari sisi ekonomi, ibu Sri Enny Hartati, Direktur INDEF tegas banget bilang bahwa stunting ini merugikan negara. Bayangin, kalau jumlahnya terus meningkat, berapa yang harus ditanggung sama BPJS untuk dampak jangka panjangnya nanti? “Apa iya negara mampu menanggung semuanya?” kata Ibu Enny.

Di era persaingan ketat ini, kalau pertumbuhan otak anak-anaknya terhambat karena stunting, bagaimana Indonesia bisa bersaing? “Prasyarat minimal untuk kebutuhan energiinya saja tidak ada!” ujar Enny. Apalagi di generasi ke empat yang kini basisnya teknologi. Kuncinya kan inovasi dan kreativitas, bagaimana mungkin bisa dipenuhi?

Duh, serem ya…

Tapi bukan maksudnya nakut-nakutin kok. Awareness aja, agar kita lebih peduli pada tumbuh kembang anak secara holistik. Karena faktor penyebab dan penanganannya banyak kok.

Di acara ini juga dibahas. Yuk baca tulisan lainnya mengenai stunting di www.parentingiseasy.id

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print