Previous
Next
5-agust-12.00-ARTIKEL-3G-TRIPLETS-1200x1200

TAMBAH TIGA KEBAHAGIAAN : MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK SI BUAH HATI

CERITA ACIT GANESHA IBU DARI 3G, 3 ANAK KEMBAR LAKI-LAKI

Program bayi tabung yang dijalankan oleh pasangan Acit Ganesha dan suami, merupakan salah satu ikhtiar mereka untuk segera hamil sebelum usia Acit memasuki 30 tahun. Menjalani program IVF di Klinik Family Pluit pada bulan April 2011 dan Alhamdulillah berhasil. Dari 3 embrio yang masuk dalam rahim, setelah p=dinyatakan positif hamil, diketahui hanya 2 janin yang berkembang dan 1 janin bentuknya tidak sempurna. Saat kontrol 2 minggu berikutnya, janin yang tidak sempurna dinyatakan menghilang dan hanya ada 2 janin, berarti positif bayi didalam kandungan saya kembar.

Saat memasuki usia kandungan 4 bulan, rasanya saya sudah sulit sekali untuk bangun dan berjalan, badan rasanya sakit semua, biasanya menghabiskan waktu hanya untuk tidur-tiduran dan selalu harus diganjal bantal.  Saat paling sakit adalah ketika paha atas di kaki kanan sakit sekali sampai saya kesulitan berjalan, dokter bilang salah satu anak saya menekan syaraf tulang belakang. Aduh kalau diingat-ingat saat itu masih ingin nangis rasanya, bukannya tidak bersyukur atas kehamilan yang diberikan, tapi rasanya saat mengandung kok beraattt banget.

Belum lagi urusan berat badan saya dari sebelum hamil 58kg melonjak sampai ke 120kg. Kebayang ya ibu-ibu, gimana beratnya berdiri dan menopang diri sendiri.  Ajaibnya dengan si tubuh besar ini, saya sering banget pingsan akibat kadar gula darah yang terlalu rendah. Nah, jadi saya hrus ngantongin bekal kurma, biskuit, makan es krim dan minum es coklat. Saya sudah harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas, karena kalau tidak dibantu kursi roda – bisa bisa ngendap di kasur aja setiap hari.

Setelah kandungan memasuki usia 5 bulan berganti dengan perubahan hormon yang bikin kulit saya mirip kulit tokek, dan itu bertahan terus sampai 3G (triplets, ke 3 anak laki-laki saya kami beri julukan 3G) berusia 4 bulan.

Sungguh komplit segala keajaiban ini, saya selalu mengingatkan diri saya untuk terus menerus bersyukur dan nahan diri untuk tidak mengeluh.

Perjuangan saya cuma sampai di usia kehamilan 32 minggu, hari itu 8 November 2011 ketuban saya sudah rembes. Setelah sampai rumah sakit, ternhyata sudah bukaan 3 tapi kondisi ketuban saya masih bocor. Karena dr. Yuslam menganjurkan dokter anak yang handle anak-anak saya adalah dr. Rina, spesialis untuk bayi-bayi bermasalah. Akhirnya kami menunda operasi sampai keesokan harinya.

Saya diberi suntikan penguat paru, sambil saya nahan pikiran-pikiran soal kondisi bayi saya yang usianya masih terlalu dini.

Akhirnya 3G lahir melalui operasi ceasar pada tgl 9nov 2011 pukul14.00 anak pertama , pukul 14.05 anak kedua dan pada saat dokter bersiap mengeluarkan plasenta anak kedua, yang sangat lengket – dokter sempat memberitahu bahwa bisa jadi kemungkinan rahim ibu harus diankat, karena kondisi plasenta yang sangat lengket. Saya dan suami menyetujui segala saran yang diberikan dokter, asal anak-anak saya selamat. Ternyata, saat dokter masih berusaha membersihkan plasenta, beliau malah memegang kaki anak ketiga saya. Semua terkejut, karena si anak ketiga ini bahkan tidak terlihat saat USG, namun Alhamdulillah ternyata sehat. Pecahnya tawa saya, yang tadinya super tegang. Wah bonus nih, nanti nyusuinnya gimana Dok.

3G harus dirawat di NICU selama 7 hari. Bagi saya, rasanya lebih berat setelah melihat kondisi mereka  di hari ke 5. 3G lahir dengan berat 1,4kg; 1,6kg; 1,4kg dan mereka dirawat  sampai kondisinya stabil, kira-kira 1 bulan. Dan tentu kondisi 3G saat lahir tidak ASI, keputusan kami saat itu adalah agar anak-anak kondisinya stabil dulu. Di hari ke-5, saay saya pertama kali melihat anak-anak saya, ASI pun sudah keluar, meski harus minum ASI melalui sonde tapi saya berusaha betul memerah ASI kejar-kejaran sesuai kebutuhan 3G

Kalau dibilang sifat anak itu sudah dibawa sejak lahir ya memang betul, anak pertama gak mau langsung menyusu ke payudara, anak kedua kalau sudha menyusu nempel terus gak lepas-lepas, nah anak ketiga sya paling sabar dan pengertian nunggu jatah menyusu. Oh ya, saya ini menyambung ASI dengan susu formula, dan itu adalah keputusan yang saya pertanggungjawabkan sampai hari ini.

Manajemen ASI saya biasanya dari subuh sampai jam 8 malam 3G menyusu dan ASIP, tapi setelahnya saya tambal susu formula sampai mereka tidur. Alhamdulillah mereka tidur nyenyak sampai subuh dan saya juga bisa istirahat gak melalui fase fase begadang berkepanjangan. Saya sadar diri betul, makin saya paksa diri saya untuk “sempurna”, pressurenya makin besar, produksi ASI saya malah menurun drastis. Misalnya nih mompa ASI cuma dapet 60cc, ya senyum aja, makan enak, nahan diri biar gak ambisius menyusui langsung 3G, saya selalu bicara ke diri sendiri “semampunya saja Cit, sebisanya saja, ini yang terbaik”.

Kalau soal Me Time, sekalian dengan We Time bareng suami ya – yang rasanya 4 tahun pertama ya kami kerja bakti betul untu kehidupan anak-anak, mereka sehat itu kami jadikan penyemangat buat saling mengalah dan memahami. Kami yakin, aka nada waktunya kok, buktinya sekarang sudah  jauh lebih “santai” dan tantangan yang ada berkembang sesuai meningkatnya usia 3G.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print