Previous
Next
Telan-Asapnya-Sendiri-1200x800

Telan Asapnya Sendiri!

Hari tanpa tembakau sedunia masih harus terus diperingati, setidaknya ada momen pengingat yang sebetulnya harus dilakukan setiap hari. mengingatkan para perokok, bahwa siapapun ia, dirinya terlalu egois. Apalagi, jika sudah menjadi orang tua.

Jumlah perokok terus meningkat

Sayangnya, Data dari Kementerian Kesehatan menunjukan kabar buruk. Ternyata prevalensi perokok di Indonesia pada usia ≥ 15 tahun meningkat sebesar 36,3% dibandingkan dengan Tahun 1995 yaitu 27%. Tidak heran jika Indonesia menjadi negara nomor tiga terbanyak jumlah perokoknya di dunia setelah China dan India.

Jumlah perokok di Indonesia pada 2017 terus meningkat terutama pada usia anak-anak dan remaja usia 15 – 19 tahun. Jumlah tersebut bahkan meningkat dua kali lipat di Tahun 2016 sebesar 23,1% dari sebelumnya 12,7% pada Tahun 1995.

Dampak buruk pada anak

Jika dampak buruk merokok hanya dialami oleh para perokok saja, mungkin tidak jadi masalah. Namun tidak demikian kenyataannya. Di ruang praktik dr Arifianto SpA, sering dijumpai bayi-bayi yang sejak usia sangat muda sudah mengalami batuk kronik karena perokok di rumahnya.

Siapakah dia? Tidak lain ayahnya sendiri.

Sang ibu hanya menjawab dengan pandangan lesu ketika dokter memintanya untuk menegur suaminya agar berhenti merokok.
“Susah Dok, padahal udah saya bilangin.”
“Ayolah Pak, berhenti merokok. Udah punya anak sekarang. Sudah jadi ayah….” bujuk dr. Apin bila si bapak kebetulan menemani anak dan istrinya. Dan si bapak hanya tersenyum simpul.

Second hand dan third hand smoker

Tahukah Anda, dari 92 juta orang perokok pasif, 43 juta di antaranya anak-anak dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

Dokter Apin pun mengatakan bahwa dirinya hampir setiap hari mendapatkan kasus asma, baik kasus baru ataupun pasien kontrol rutin. Semuanya sama: asma persisten, BUKAN intermiten. Artinya serangannya muncul tiap bulan. Entah hanya sekali, beberapa hari, atau berminggu-minggu. Dan kesamaan lainnya adalah: ayahnya perokok.

“Merokoknya nggak di rumah kok, tapi di teras atau di garasi..” Tetap aja! Asap yang masuk ke dalam rumah (#secondhandsmoke), atau residu asap rokok di baju perokok (#thirdhandsmoke) mencetuskan serangan! “Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam,” kata dr Apin.

Dokter Apin pun menjelaskan bahwa sekalipun anak sudah mendapatkan terapi asma yang tepat sekalipun, selama ada paparan asap rokok, maka serangannya sulit terkendali.

Rokok tidak murah

Sudah merugikan banyak orang, harganya pun kini semakin melambung tinggi, bukan? Sudah berapa harga rokok sekarang? Rata-rata 15-20 ribu per bungkus, kan? Kalau dalam sehari habis satu bungkus, maka satu bulan, pendapatan keluarga hilang terbakar sebesar Rp 450 ribu-600 ribu. Itu kalau satu bungkus, kalau lebih? Sementara anak yang asma membutuhkan alat spacer yang harganya sekitar Rp 400 ribu tidak terbeli.

Kalau dihitung lebih globak, berapa uang negara untuk kesehatan yang dihabiskan untuk membiayai pengobatan sebagai dampak dari rokok? Masa iya, rakyat harus terus menanggung biaya orang sakit akibat rokok?

Mengingat sulitnya menghadapi perusahaan rokok yang sudah menggurita di negara ini, baik lewat peraturan perundangan yang ada dan iklan-iklannya yang masif, ditambah sangat banyaknya jumlah penduduk perokok, maka sebagai perokok pasif, lakukan apapun yang kita bisa.

Bukankah merokok adalah suatu kezaliman, baik terhadap dirinya sendiri yang merusak kesehatannya dan bagi orang lain di sekitarnya? Dan tidakkah seharusnya kezaliman dihentikan semampu kita?

Lain kali, asapnya ditelan sendiri ya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print