Previous
Next
temanku-beli-barang-itu-masa-aku-enggak-punya

“Temanku beli barang itu, masa aku enggak punya…”

Jika anak memiliki banyak teman, adalah hal yang baik sebetulnya. Meskipun demikian, ada resiko yang akan timbul seperti misalnya tekanan sosial dari lingkungan pertemanan sekitarnya. Entah itu di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan rumah.

Pernah gak sih ngalamin, ketika kita sudah amat waspada menjaga diet gluten anak karena ia memiliki masalah kesehatan, namun tiba-tiba ia merengek meminta kue coklat hanya karena temannya membawa kue itu ke sekolah? kalau sudah agak besar sedikit, tekanan sosialnya biasanya bertambah. Misalnya teman sekolah mengajak play date hoverboard di rumah, apa iya kita harus membelikan hoverboard agar anak tidak menjadi berbeda?

Awali dengan rasa percaya diri

Tekanan sosial semacam ini, biasanya memang tidak bisa benar-benar dihindari. Semua anak biasanya mengalami, dan ini wajar karena kita manusia yang saling membutuhkan. Ada juga rasa ingin diterima oleh lingkungan dan menjadi bagian dari suatu perkumpulan.

Tetapi, bukan berarti semua harus dituruti, bukan? Enggak berarti apapun dilakukan demi menjadi sama, dan punya teman. Psikolog anak dari klinik Rainbow Castle, Devi Sani M.Psi, menjelaskan bahwa yang utama harus ditanamkan oleh orang tua adalah rasa percaya diri. Dan hal ini sudah dimulai sejak amat dini.

Caranya bagaimana?

“Jika orangtua sejak dini sudah mengutamakan untuk mengucapkan hal-hal berharga dari dalam diri anak, hal ini akan sangat membantu membangun self esteem atau rasa berharga pada anak,” ujarnya. Terlebih lagi, tambahnya, jika orang tua fokus memuji anak pada proses atau akhlak atau sifat yang ia lakukan, bukan hanya sekedar hasil (co: raport bagus, nilai bagus, gambar bagus).

Contoh pujian, misalnya:

– “Terima kasih ya dek udah sabar nungguin macet sama mama”

– “Wah ade baik sekali mau pinjemin mainan”

– “Makasih ya dek mau usaha terus buka mainannya. Walaupun susah adek usaha terus. Gak nyerah!”

“Interaksi sederhana sehari-hari seperti ini yang membentuk self-esteem dia,” tambah Devi.

Tanamkan empati sebelum nasihat

Iya, seperti yang sudah-sudah; koneksi sebelum koreksi. Begitu juga dengan empati. Kalau anak merengut karena merasa tidak punya tas baru yang mahal seperti punya temannya, kemudian malah kita nasihati, tentu hanya masuk kuping kanan langsung keluar di kuping kiri, bukan?

Akan lebih menenangkan bagi anak, ketika kita sebagai orang tua berempati dulu pada apa yang dirasakannya. Misalnya dengan mengatakan “Iya, adek kesel banget ya diketawain teman. Keseeeeel sekali.” Sudah begitu saja, tanpa embel-embel nasihat.

Menurut Devi, nasihat bisa menunggu, yang terpenting adalah empati dulu kepada perasaannya. “Kita perlu sensitif kapan saat berempati, dan kapan saat nasihat masuk,” tambahnya.

Empati adalah landasan utama parenting

Ketika kita membangun empati dalam diri anak, hal ini akan memperkuat hubungan antara kita dan dia. Kalau menurut Dr Laura Markham, psikolog, empati membantu anak merasa dimengerti, tidak sendirian dengan rasa sedih dan penderitaannya. Empati menyembuhkan. “Pengalaman dari empati mengajarkan si kecil mengenai hal paling mendasar, mengenai cara manusia saling terkoneksi satu sama lain. Ini adalah bekal yang akan dibawanya seumur hidup dalam menjalin hubungan dengan siapapun,” ujar Laura.

Lagipula dengan memiliki empati, anak pun akan memahami berbagai hal yang terjadi di dunia ini dari berbagai sudut pandang. Ia akan menilai tekanan sosial yang dialaminya, dengan jauh lebih bijaksana. Ia pun akan mampu memahami bahwa perbedaan memang ada, dan tidak ada salahnya menjadi berbeda.

“Jadi darimana anak belajar empati? Dari pengasuh utamanya yang menunjukkan bagaimana rasanya direspon secara empati,” pungkas Devi.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print