Previous
Next
images

Terlalu banyak minum susu sapi bikin anemia defisiensi besi (ADB)!

Sering kan mendengar istilah anemia defisiensi zat besi (ADB)? Ternyata, menurut dr Arifianto S.pA kejadian ADB sering ditemukan pada balita karena mengonsumsi susu sapi terlalu banyak (lebih dari 500 ml per hari) dan sedikit mengonsumsi makanan kaya zat besi (daging merah dan sayuran hijau). Faktanya; terlalu banyak susu membuat tubuh sulit menyerap zat besi dan menjadi penyebab ADB pada balita.

Apa sih anemia defisiensi besi itu?

Untuk memberikan definisi ADB, harus di telaah satu per satu. Jadi, menurut World Health Organization (WHO), UNICEF dan united nations University; anemia merupakan kadar hemoglobin (hb) berada di bawah minus 2 SD (standar deviasi) rata-rata kadar Hb untuk populasi normal (dengan usia dan jenis kelamin yang sama).

Sementara, kecukupan zat besi adalah kondisi saat zat besi dapat menjaga fungsi normal tubuh. Nah, yang dimaksud dengan defisiensi zat besi adalah kondisi ketika zat besi tidak mampu menjaga fungsi normal tubuh. Mulanya karena penyerapan zat besi tidak mencukupi untuk mengakomodasi pertmbuhan sang anak.

Bisa juga disebabkan oleh kekurangan zat besi dalam waktu yang lama, infeksi cacing dan kondisi menstruasi. Kondisi ini menyebabkan cadangan zat besi dan zat besi dalam sumsum tulang belakang menjadi berkurang.

Defisiensi besi belum tentu menjadi anemia, tetapi apabila dibiarkan berlanjut, maka dapat menjadi anemia.

Gejala anak yang mengalami ADB?

Biasanya, pada gejala awal ketika baru terjadi deplesi dan defisiensi besi, belum sampai anemia, sering kali tidak menunjukkan gejala apapun. Nah, jika telah terjadi anemia akan ditemukan gejala seperti ini:
lemah dan Lelah
kulit pucat terutama tangan, kuku dan kelopak mata
bunyi jantung menjadi lebih cepat
anak menjadi lebih rewel
nafsu makan berkurang
sensasi nyeri kepala

mengetahui ADB atau tidak?

Lalu, bagaimana cara kita bisa mengetahui anak mengalami ADB? Tentu saja hanya lewat pemeriksaan laboratorium. Deteksi dini secara rutin (uji tapis/skrining) defisiensi zat besi adalah pada usia 1 tahun untuk bayi cukup bulan dan usia 6-9 bulan untuk bayi kurang bulan/premature.

Hal penting yang harus diingat

Prinsip yang perlu diketahui seputar zat besi:
bayi yang berusia di bawah 1 tahun hanya diperbolehkan mengonsumsi ASI atau susu formula yang sudah difortifikasi dengan zat besi. Mulai usia 6 bulan, bayi harus diberikan MPASI yang mengandung zat besi.
Anak yang berusia di bawah 2 tahun tidak boleh diberikan susu (whole milk) lebih dari 500 ml/hari. ; sereal direkomendasikan agar anak mendapatkan sumber zat besi.
Makanan kaya zat besi lainnya meliputi; daging merah, ikan tuna, salmon, kuning telur, sayur berwarna hijau, kacang-kacangan, kismis dan roti gandum. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi, konsumsi makanan tersebut bersamaan dengan makanan kaya vitamin C seperti tomat, brokoli, jus jeruk, stroberi dan lainnya.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print