Previous
Next
Tolerance-memperkenalkan-dan-mengajarkan-anak-mencintai-perbedaan

Tolerance : memperkenalkan dan mengajarkan anak mencintai perbedaan

Beberapa waktu yang lalu saya bersama keponakan pergi jalan-jalan bersama, Kiel (7 tahun) sambil bermain ia melontarkan pertanyaan kepada saya “Aunty, di Bali kok banyak orang Hindu?”, “Kenapa, temen aku ada yang negro (kulitnya hitam banget?), kenapa?”. Wah, saya  tersenyum dan mulai berpikir untuk memberikan penjelasan mengenai konsep perbedaan agama, suku bangsa, warna kulit dan lain sebagainya. Hal ini mungkin nyaris terlupakan oleh kita sebagai orangtua untuk memperkenalkan konsep tolerance (menghargai perbedaan sejak dini) sekaligus mengajak anak-anak kita untuk mencintainya.

Mayoritas keponakan saya memang bersekolah di sekolah homogen, dengan pertimbangan pentingnya memperkenalkan nilai-nilai agama sejak dini. Tapi ternyata tetap saja menyekolahkan anak di sekolah homogen juga mempunyai tantangan tersendiri. Seperti pertanyaan-pertanyaan tadi, mereka sudah terbiasa dengan keseragaman sehingga merasa asing dengan keragaman yang ada di Indonesia. Kebanyakan anak-anak saat masuk SD mengenal berbagai agama di Indonesia namun mereka tidak sering bertemu dengan penganutnya. Hal ini tidak salah, hanya ternyata sebagai orang tua kita kita memiliki PR yang harus kita sampaikan dan membimbing anak-anak kita kelak untuk menjadi individu yang mencintai perbedaan yang ada di Indonesia. Tentunya Ayah dan Bunda ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang  sayanbg kepada sesama tanpa membedakan SARA, dan ini merupakan hal yang penting dan perlu ditanamkan kepada anak kita sejak dini.

Lalu dari mana harus dimulai? Saya mencoba untuk menjelaskan mengenai lingkungan di sekitar anak terlebih dahulu, misalnya saat tetangga merayakan hari Raya Idul Fitri dan membagikan kue-kue dan ketupat ke rumah disekitar. “Apa kamu ingat?”, “Bagaimana perasaan mu, senang kan?”. Lalu ketika berulang tahun semua teman datang ke pesta mu, membawa hadiah dan mengucapkan selamat ulang tahun”. Kemudian Kiel mengangguk dan tersenyum “iya aku sangat senang”. Ia juga menceritakan bahwa teman di sekolahnya yang berkulit hitam berasal dari Papua bersama Desta, Kiel juga senang bermain dengannya karena Desta anak yang baik. Saya mencoba menyampaikan secara sederhana bahwa kita tidak boleh melihat pada perbedaan yang ada, misalnya: kulit hitam, putih, mata sipit, rambut keriting, rambut lurus dan lain-lain karena yang terpenting adalah anak-anak harus mampu melihat kebaikan hati orang lain.

Hal lain yang lebih mudah adalah dengan berjalan-jalan dengan anak ke mall saat hari besar seperti: Imlek, Natal, dan Idul Fitri dengan melihat berbagai hiasan ornamen yang terpajang di mall. Hal ini saya rasa lebih mudah untuk menyampaikannya kepada anak-anak kita, toh semua itu adalah ornament yang merupakan symbol kebahagiaan universal kan?. Kita juga bisa menikmati keindahan dari suasana setiap hari besar yang ada di Indonesia. Well, yang terpenting bagi kita orang tua adalah tidak memberikan label terhadap orang lain, suku lain, atau agama lain sehingga anak-anak kita menjadi generasi yang berbeda dan lebih baik tentunya. Kalau di dalam dunia ini semuanya sama pasti akan terasa membosankan, kan?. Jadi perbedaan inilah yang membuat keindahan ada.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print