Previous
Next
ptsd

Trauma Pada Anak

Trauma merupakan pengalaman yang dialami seseorang yang bersifat psikis sehingga memberikan dampak yang negatif untuk situasi saat ini dan masa depan. Ketika seseorang mengalami kondisi tersebut maka kondisi mental seseorang bisa saja tidak berada pada keadaan siap sehingga akibat terburuk adalah mengalami trauma psikologis (ketakutan, tidak percaya diri, dll).

Trauma pada anak adalah ketakutan atau kondisi yang mengancam yang dialami anak,  dan membuat anak merasa tidak nyaman sehingga enggan untuk mengulang kembali hal tersebut, bahkan menghindari kondisi tersebut. Pada anak trauma tidak hanya dikondisikan dengan situasi yang berat (bencana alam/tindakan kekerasan), namun juga oleh pengalaman yang sederhana yang bagi orang dewasa hal ini dianggap tidak mengancam, namun bagi anak hal ini merupakan situasi yang membuatnya tidak nyaman. Disini saya contohkan : hari pertama anak masuk sekolah TK/SD.

Batasan kondisi traumatis pada anak,ini dapat dilihat dari respon atau reaksi yang ditampilkan oleh anak ketika berada pada situasi/kejadian yang kurang menyenangkan. Reaksi pertama adalah reaksi jangka pendek biasanya ditampilkan oleh anak yang mengalami trauma adalah  shock, dan penolakan. Sedangkan, reaksi jangka panjang pada anak yang mengalami trauma adalah kondisi emosi yang tak terduga ketika anak mengalami atau teringat akan hal yang terjadi di masa lalu : gejala-gejala fisik, seperti : pusing, mual, keringat dingin, menangis histeris bahkan muntah.

Masih banyak yang bingung cara membedakan rasa takut dan trauma. Rasa takut sudah jelas berbeda dengan Trauma,  rasa takut merupakan mekanisme pertahanan diri anak sebagai respon terhadap sebuah stimulus tertentu. Rasa takut juga secara psikologis digolongkan kedalam salah satu emosi dasar manusia. Trauma dapat terjadi dan kemudian berkembang melalui seberapa kuat (berbicara mengenai frekuensi dan intensitas) pengalaman kurang menyenangkan yang dialami oleh seorang anak, semakin sering terulang dan tidak ditangani maka semakin besar pengaruh kejadian traumatis tersebut terhadap kondisi tunbuh kembang anak khususnya psikologis anak.

Kasus traumatis yang banyak menimpa anak, Kasus yang saat ini 2016-2017 banyak menimpa anak khususnya anak-anak yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Kota-kota besar banyak memberikan tantangan hidup yang lebih berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya dalam pergaulan (peer group) di sekolah : adanya kelompok-kelompok populer dan tidak populer, perilaku di lingkungan sosial “bullying”. Selain itu juga akhir-akhir ini mulai marak kasus pelecehan seksual pada anak, dan juga Cyber crime melalui medsos.

Jika membayangkan apa yang anak rasakan saat mengalami trauma adalah kebingungan terhadap situasi yang sedang anak hadapi, hal ini dikarenakan anak tidak mengerti dan tidak mampu menjelaskannya secara eksplisit dalam kondisi tertentu. Selain itu anak juga merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut sehingga muncul rasa takut terhadap kondisi atau situasi yang dialami. Jika kondisi ini terus berulang, maka anak akan mengalami pengalaman traumatis sehingga tanpa mengalami/mengulangi kejadian tersebut anak sudah bisa merasakan ketakutan yang berlebihan (misal: mengingat, atau mendengar suara, dll).

Trauma dapat diatasi dengan :

  • Memberikan rasa aman dan nyaman : memberikan pelukan, kehangatan, dan memberikan rasa aman kepada anak dengan meyakinkan anak bahwa semua akan baik-baik saja sehingga anak tidak perlu merasa cemas. Disini anak juga perlu diajarkan empati, dan juga mengajarkan nilai-nilai Agama.
  • Memberikan kesempatan kepada anak untuk menangis, dan mendengarkan keluh kesahnya. Menangis merupakan hal yang penting dimana dengan menangis anak dapat menyalurkan emosinya kepada orang terdekat.
  • Mengajak anak berbicara, dan membiarkan anak mengungkapkan apa yang ia alami dan rasakan. Disini anak butuh didengarkan dan kita harus belajar untuk memahami apa yang anak rasakan.
  • Jika hal-hal diatas tidak berhasil atau tidak memberikan perubahan maka sebaiknya mengajak anak untuk bertemu psikolog atau orang yang ahli dibidangnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah trauma berkepanjangan yang dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan psikologi anak hingga dewasa.

Perlu diketahui bahwa respon alami anak ketika mengalami trauma adalah mencari keamanan dan kenyamanan dari orang dewasa yang dekat dengannya. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang paling penting bagi seorang anak : misal orang tua, atau keluarganya.  (Hal ini hampir serupa dengan apa yang dapat dilakukan di nomor 10)

  • Paling penting adalah orang tua menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak dan mendengarkan apa yang anak rasakan.
  • Orang tua tidak boleh membohongi anak, karena dengan demikina hal ini tidak akan menyelesaikan permasalahan anak dan justru anak akan merasa dibohongi oleh orang tua. Orang tua memberikan penjelasan yang sederhana sehingga anak dapat memahami dengan cara mereka.
  • Meyakinkan anak bahwa ia dapat menciptakan rasa aman untuk dirinya sendiri.
  • Menunjukkan kasih sayang kepada anak

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print