Previous
Next
c5cbcdb745ff124f8abf7974ece1522c

Upgrade Pola Asuh yuk!

Beberapa waktu yang lalu saya sedang berkumpul bersama ibu-ibu di sekolah SD dan secara tidak langsung saya mendengarkan semua keluh kesah mereka. Dari yang saya amati dan perhatikan banyak orangtua yang sedang mengalami pergumulan dalam mengasuh anak-anak mereka di rumah. Beberapa ibu mengungkapkan pengalamannya dan mendapatkan respon yang sama dari ibu-ibu lainnya, yang dapat saya simpulkan bahwa mereka berada diposisi yang sama dan nyaris mati gaya untuk mengatasinya.

Saya akan berikan gambaran kasus yang salah satu ibu ungkapkan, “anakku tuh kerjanya main hp mulu, kalau disuruh tidur susah dan harus nonton youtube dulu sampai malam”, “aku pusing anak ku kalau keinginannya ga dituruti langsung tantrum”, “kata guru di sekolah dia gak PD ngerjain sendiri tugasnya dan minta bantuan temannya terus”. Kurang lebih itulah yang saya dengar, dan sepertinya memang anak jaman “now” tidak bisa lepas dari gadget dalam kesehariannya. Jika saya simpulkan secara singkat penggunaan gadget berlebih, perilaku tantrum, dan kepercayaan diri anak semuanya dibangun dari lingkungan sosial, yaitu lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah pola pengasuhan anak mulai dibentuk. Pola asuh adalah perilaku atau perlakuan yang diterima oleh anak secara berulang sehingga membentuk pola dalam mengasuh anak. Pola asuh ini memegang peranan besar atas pembentukkan karakter anak di masa depannya.

Setiap orangtua memiliki kebebasan dalam mengekspresikan perasaan sayangnya kepada anak. Namun, ternyata ekspresi sayang yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi perkembangan karakter anak. Disini saya akan memberikan contoh, seorang ibu yang kerapkali membantu anaknya disebut angel syndrome diaman ibu selalu membantu anak dalam melakukan tugas sehari-hari (makan, minum, membereskan mainan, memakai sandal/sepatu, dll).  Ibu biasanya merasa kasihan jika anak melakukan tugasnya sendiri, dan kadang merasa malas menunggu anak selesai mengerjakannya sendiri. Padahal jika disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak seusianya, anak-anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan tugas sehari-hari secara mandiri, seperti: makan, minum, memakai/melepas sepatu, membawa/menyimpan tas, membuka/tutup resleting dan lain sebagainya. Anak yang kurang diberikan kesempatan akan tumbuh menjadi anak yang dependen, tidak percaya diri dan selalu menuntut bantuan dari orang lain. Selain itu, anak yang terbiasa dituruti/dipenuhi keinginannya akan tumbuh menjadi anak yang penuntut, atau menampilkan perilaku tantrum karena tidak mampu menunda keinginannya. Banyak orangtua yang merasa malu ketika anaknya merengek minta dibelikan mainan di mall, dan tidak sanggup untuk menolak keinginann anaknya. Hal ini dapat menyebabkan anak membentuk pola pemikiran dan juga perilaku bahwa setiap keinginannya akan dipenuhi bahkan harus dipenuhi.

Contoh diatas merupakan dampak dari pola asuh yang tidak tepat sehingga membentuk karakter anak yang kurang baik. Tenang, memberikan pola pengasuhan ada caranya. Kita hanya perlu : mengenal karakter anak, dengan mengenal sifat, kelebihan dan kekurangan anak maka kita bisa menyesuaikan gaya pengasuhan yang akan diterapkan kepada anak. Menyepakati gaya pengasuhan, ayah dan ibu harus bersama-sama menerapkan pola pengasuhan yang sama sehingga anak tidak bingung dengan aturan dan nilai-nilai yang berlaku di keluarga. Menjadi pendengar yang baik¸anak jaman now merupakan generasi milenial yang kritis, eksploratif dan cerdas oleh karena itu sebagai orangtua kita harus bisa menempatkan diri kapan menjadi teman dan kapan berperan sebagai orangtua. Konsisten, dan update tentunya pla asuh yang diterapkan harus konsisten, dan orangtua harus update pengetahuan, pergaulan dan lainnya sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga bisa selalu memahami dan terkoneksi dengan apa yang anak rasakan terutama dalam pergaulannya.

Selamat mencoba!

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print