Previous
Next
def pic

Vaksin tidak menyebabkan autisme!

Hingga hari gini, masih banyak aja yang meyakini bahwa vaksin menyebabkan autisme. Tidak hanya meyakini, namun juga berusaha meyakinkan seisi dunia.

Menjawab hal ini, dr. Arifianto Sp.A dengan tegas menjawab tidak.  Karena sudah banyak sekali penelitian yang membuktikannya.

Penelitian awal

Awalnya, isu ini berasal dari penelitian Dr. Andrew Wakefield. Seorang dokter bedah di Inggris, yang dimuat British Medical Journal pada 1998 dan mengungkap adanya “hubungan” antara imunisasi MMR yang diberikan kepada dua belas pasiennya dengan gangguan perkembangan yang mereka alami saat itu.

Penelitian tersebut dibuktikan mempunyai banyak kelemahan, yang membuat hipotesis Wakefield tidak dapat diterima. Antara lain, dianggap bukan tulisan ilmiah karena menekankan kepada subjektivitas laporan orangtua pasien, tidak mempunyai kelompok “control”, mengandung bias seleksi dan tidak dapat dibuktikan bila diulang oleh peneliti-peneliti yang lain.

Peneitian-penelitian lain yang dilakukan sesudahnya juga membuktikan tidak adanya peningkatan kasus autisme pada anak yang mendapatkan imunisasi MMR, dibanding anak yang tidak mendapatkan imunisasi MMR.

Tidak terbukti

Misalnya, Penelitian berjudul “A Population-Based Study of Measles, Mumps, and Rubella Vaccination and Autism” oleh Kohort dipublikasikan oleh Jurnal New England Journal of Medicine (Nov 2002; 347:1477-82). Penelitian yang dilakukan di Danish Study, Denmark ini memantau lebih dari 500 ribu anak selama 7 tahun lebih dan tidak menemukan hubungan antara Vaksin MMR dan autisme.

Selain itu, penelitian berjudul “Age at First Measles-Mumps-Rubella Vaccination in Children with Autism and School-Matched Control Subjects: A Population-Based Study in Metropolitan Atlanta” ini dipublikasikan oleh Jurnal Pediatrics (Feb 2004; 113(2):259-66) sebagai studi kasus-kontrol. Dalam penelitian ini, data diambil melalui Metropolitan Atlanta Developmental Disablities Surveillance Program (MADDSP).

Penelitian yang dilakukan tahun 1996 ini membandingkan kelompok anak usia 3—10 tahun yang didiagnosis autisme dan mendapatkan imunisasi MMR (berdasarkan kriteria DSM-IV) dengan kelompok kontrol—yaitu kelompok anak yang tidak diimunisasi. Hasilnya, tidak ditemukan adanya perbedaan antara kelompok yang diimunisasi dengan yang tidak diimunisasi. 

Penyebabnya; timerosal

Timerosal banyak disebut dan dikaitkan dengan autisme. Apa sih timerosal? Timerosal atau thiomersal adalah pengawet di dalam vaksin yang bermanfaat untuk mencegah kontaminasi bakteri dan jamur. Bahan pengawet ini mengandung merkuri (air raksa). Padahal, seperti yang telah kita ketahui, merkuri dalam jumlah besar bersifat toksik dan dapat meracuni otak. Tapi itu dalam jumlah besar yaa.

Jadi begini, ketika awal pembuatan vaksin dalam bentuk vial multidosis, tidak diberikan dengan pengawet. Dampaknya? Banyak anak mengalami abses (infeksi kulit berisi nanah) lokal hingga infeksi berat, seperti sepsis (infeksi bakteri yang mengalir di dalam darah) yang berujung pada kematian. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan streptokokus yang mengontaminasi vaksin.

Apakah merkuri dalam vaksin berbahaya?

Merkuri adalah bagian dari permukaan bumi yang dilepaskan ke lingkungan oleh pembakaran batubara, erosi batu, dan letusan gunung berapi. Kemudian, merkuri yang dilepaskan akan tersebar ke permukaan danau, sungai, dan laut, yang akan diubah menjadi metilmerkuri oleh bakteri.

Metilmerkuri ada di mana-mana: di dalam ikan yang kita makan, air yang kita minum, bahkan ASI dan susu formula yang diminum oleh bayi. Dengan demikian, tubuh manusia tentu mengandung sejumlah kecil metilmerkuri yang diperoleh—misalnya saja dari air yang diminum setiap hari. Kandungan metilmerkuri tersebut bisa ditemukan di dalam darah, air seni, dan rambut.

Seorang bayi yang mendapatkan ASI eksklusif menelan 400 mikrogram metilmerkuri selama enam bulan pertama kehidupannya. Ternyata, jumlah ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan kandungan merkuri di dalam seluruh jenis vaksin. Apakah ini berarti ASI berbahaya? Tentu saja tidak.

Fakta ini menunjukkan bahwa seluruh manusia yang hidup di planet bumi mengonsumsi merkuri dalam jumlah yang sangat sedikit setiap saat dan tidak membahayakan tubuhnya. Lagipula, bagaimana mungkin manusia di bumi dapat terhindar dari menghirup merkuri, sedangkan bahan ini berada di dalam aliran udara?

Etilmerkuri mudah dibuang keluar dari tubuh

Jenis merkuri yang digunakan dalam vaksin pun berbeda, yaitu etilmerkuri, bukan metilmerkuri seperti yang terkandung dalam ASI. Etilmerkuri bersifat lebih cepat dibuang (diekskresikan) keluar dari tubuh dibandingkan metilmerkuri. Para peneliti pun mencoba untuk membuktikan adanya hubungan antara timerosal dengan autisme, semua penelitan menyimpulkan bahwa peningkatan paparan etilmerkuri dari timerosal dalam vaksin tidak meningkatkan risiko terjadinya autisme.

Saat ini, tidak semua vaksin menggunakan timerosal, hanya beberapa vaksin vial multidosis saja yang menggunakannya. Kendati demikian, keberadaan vaksin dengan timerosal, hendaknya tidak perlu menjadi suatu kekhawatiran.

Jangan sampai kita kehilangan generasi penerus karena mencerna begitu saja informasi yang tidak benar, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print