Previous
Next
Sunat-1200x725

Waktu Ideal Melakukan Sirkumsisi

Sirkumsisi kini tidak hanya dilakukan oleh umat muslim saja, tetapi juga oleh kebanyakan anak lelaki. Karena memang sudah menyadari ada begitu banyak manfaat kesehatan dari tidakan membuang kulit (foreskin) yang menutupi ujung penis tersebut.

Nah, yang paling sering menjadi masalah adalah pertanyaan “Kapan sih waktu ideal melakukan sirkumsisi tersebut?” karena ada yang sudah melakukannya sejak anak masih bayi, atau menunggu usia SD, ketika anaknya sudah meminta sendiri.

Untuk itu, sebaiknya orang tua memelajari dulu manfaat sunat pada anak, prosedur tindakannya, jenis bius yang digunakan dan sebagainya.

Tindakan sirkumsisi adalah…

Jadi, tindakan sirkumsisi atau sunat masuk kategori pembedahan ringan (minor). Prosedur ini dilakukannya cukup dengan menggunakan anaestesi (pembiusan) lokal, tidak perlu bius umum, kecuali sirkumsisi dilakukan sebagai lanjutan dari operasi lainnya (bedah plastic pada kasus hipospadia, misalnya).

Bayi atau anak diposisikan berbaring dan dilakukan pembersiihan menggunakan povidone iodine di lokasi kemaluan yang meluas sampai perut. Anestesi diberikan secara lokal menggunakan suntikan lodikain.

Ohiya, tahu kan, bahwa ketika proses sunat, dilakukan menggunakan gunting yang membuang seluruh foreskin, sampai bagian ‘kepala’ penis terlihat jelas. Nanti, akhirnya dijahit pada beberapa lokasi untuk merapatkan kulit di bagian yang disisakan dengan lapisan selaput lender (mukosa) di bawahnya.

Ini adalah langkah-langkah Teknik “manual” yang merupakan prosedur sirkumsisi standar. Sekarang sudah banyak metode-nya, seperti kauterisasi (sering disalahartikan dengan “laser”) dan metode smart klamp.

Tapi Teknik manual adalah Teknik yang paling banyak diakui oleh dokter bedah atau tenaga medis lain yang biasa mengerjakan sirkumsisi.

Jadi waktu ideal melakukannya..

Ahli kesehatan di negara-negara barat cenderung melakukan sirkumsisi pada bayi yang baru lahir. Dengan alasan, resiko Infeksi Saluran Kemih (ISK). Namun demikian, dokter akan menyerahkan sepenuhnya kepada Orang tua untuk memutuskan kapan anak akan disunat atau malah enggak disunat.

Di Indonesia sendiri, kecenderungan untuk menyunat anak laki-laki tergantuung pada budaya masyarakat setempat. Ada yang menunggu anaknya menjelang usia pubertas, ada juga yang menyunat anak saat baru melewati usia balita.

Sirkumsisi terhadap bayi baru lahir masih relative jarang dilakukan di Indonesia. meski sebetulnya, ada keuntungan didalamnya, lho..

Misalnya mengurangi resiko terkana ISK dalam usia satu tahun pertama. Hanya 1 dari 1.000 bayi yang sudah disunat mengalami ISK, sedangkan 1 dari 100 bayi yang tidak disunat dalam usia setahun pertama beresiko mengalami ISK.

Manfaat sunat

Kedepannya, sunat sendiri mengurangi resiko terkena infeksi HIV yang menyebabkan AIDS. Selain itu mengurangu resiko terkena infeksi menular seksual seperti herpes genital, hurman papilloma virus dan sifilis. Ada juga mengurangi resiko mengalami kanker penis, mencegah infeksi di kulit foreskin, mengatasi fimosis yang dipikirkan sebagai salah satu faktor resiko ISK.

Dan yang jelas memudahkan menjaga kebersihan/kehigienisan kemaluan.

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print