Previous
Next
Yang-pakai-bedak-ibunya-saja-lah

Yang pakai bedak, ibunya saja-lah..

Kalau bayi baru lahir, apalagi anak pertama, pasti suasana menjadi heboh. Dari kedua belah keluarga, tetangga, teman hingga kedua orang tua pun bergembira menyambut kedatangan si bayi mungil yang manis ini.

Lalu kemudian, muncullah kehebohan bahwa bayi harus mandi dua kali sehari, bayi harus pakai bedak, harus pakai minyak telon, harus pakai sarung tangan, harus dibedong. Alasannya variatif, memang semuanya baik dan disarankan karena kebiasaan. Namun ternyata, secara alasan medis, tidak semuanya baik untuk bayi.

dr Arifianto SpA sudah menjelaskan berkali-kali bahwa bayi tidak perlu pakai bedak. Kenapa?

Bayi tidak perlu pakai bedak

Karena pemberian bedak tabur beresiko menyebabkan terhirupnya partikel-partikel kecil bedak kedalam saluran nafas dan menyebabkan gangguan pernapasan, bahkan kematian.

Tapi kan nanti takut biang keringat?

Biang keringat, keringet buntet atau heat rash itu bukan diobati dengan bedak, lho. Akan lebih baik jika dicegah dengan mengenakan pakaian tipis dan pendek pada anak, supaya tidak banyak berkeringat. Sering-sering juga mengganti baju anak.

Tapi kalau minyak telon, boleh dong?

Kata dokter Apin, pemakaian minyak telon memang kebiasaan yang kebetulan ada di negara kita. Tidak perlu khawatir bayi akan kembung jika tidak dibalur minyak telon, kok. Bentuk perut bayi dan batita memang buncit, dan ini bukan berarti masuk angin.

Tapi bunyinya “dung-dung” jika diketuk?

Ya iyalah, usus kan isinya udara, jadi pasti berbunyi jika diketuk. Pakaikan saja pakaian tebal dan berlengan Panjang jika khawatir bayi kedinginan.

Tapi kan ini sudah jadi kebiasaan turun temurun?

Nah, jadi, justru sebagian anak bisa mengalami dermatitis kontak akibat paparan minyak dan kosmetik bayi apapun. Salah satunya minyak telon. Akan lebih baik jika orang tua menghindari pemakaian minyak telon jika justru menimbulkan masalah kulit anak, seperti kering, kemerahan dan gatal.

Yasudah, jadi dibedong aja ya biar hangat?

Iya, pembedongan atau wrapping yang biasa dilakukan terhadap bayi-bayi baru lahir dapat membantu mereka merasa nyaman, aman dan dapat tidur nyenyak. Mingkin karena bayi merasa seperti berada di lingkungan sebelumnya; di dalam Rahim.

Kebiasaan ini diperbolehkan sampai bayi berusia 2 bulan aja ya. Kenapa? Karena pada usia tersebut bayi sudah mulai mencoba tengkurap dan dikhawatirkan jika bayi masih terbedong justru membahayakan dirinya.

Tapi yang dimaksud dengan membedong juga bukan membedong ketat dengan posisi kedua panggul dan tungkai lurus ya. Ini berisiko menyebabkan cidera panggul!

Tapi kalau enggak dibedong kencang nanti kakinya bengkok terus?

Jadi, ketika masih berada di dalam Rahim, janin cenderung berbaring dengan posisi panggul menghadap keluar. Posisi ini memungkinkan panggul tumbuh normal.

Pada sebagian bayi, jaringan ikat yang mengelilingi sendi panggul menjadi longgar, tetapi dapat kembali normal secara alami dalam beberapa bulan. Pembedongan yang tidak tepat dapat menyebabkan dysplasia, selain dislokasi (pergeseran posisi sendi).

Maka itu, cara membedong yang benar adalah dengan membiarkan tungkai dan kaki dapat bergerak bebas.

Biarkan bayi menjadi bayi

Dari berbagai penjelasan tadi, jelas dapat disimpulkan bahwa bayi memang unik dengan segala perkembangannya. Apalagi kulit bayi yang tidak sama dengan anak yang berusia lebih besar, apalagi orang dewasa.

Penggunaan kosmetik berlebihan, atau bahkan yang “sekadar rutin” seperti yang sudah dilakukan turun temurun di dalam satu keluarga, dapat berisiko menimbulkan masah kulit yang mengganggu bayi.

Salah satu kondisi tersering yang harus dicurigai untuk dikonsultasikan ke dokter adalah ketika bayi mengalami ruam merah dengan batas tegas di kulit, dan kadang tampak gatal, taitu eksim atau dermatitis atopi. Apabila tidak membaik dengan penggunaan pelembab, atau bahkan terjadi infeksi, maka konsultasikan kepada dokter.

Jadi, yang pakai bedak ibunya saja ya…

Share this post

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on print